Image default
Feature/Indepth Stories

Bom Waktu dari Raporendu dan Maurongga

Oleh: Hironamus Pala

Mantan Direktur Yayasan Tananua Flores

***

Dari gunung memandang panorama laut yang indah. Terbayang dalam benak, di sanalah gudangnya ikan dan garam, yang selalu di antar ke pasar-pasar pegunungan oleh saudara dari pantai. Tak ada pengetahuan bagi orang gunung dalam menangkap ikan di laut dan bagaimana membuat garam. Melihat ombak saja lari, apalagi masuk sampai ke laut.

Saat memasuki dunia kerja, saya sebagai orang gunung, cuma berpikir bagaimana cara membuka lahan dan melakukan konservasi di daerah gunung untuk menjaga agar sumber air tidak terjadi erosi, tanah tidak semakin tandus, benih tidak hilang, pangan tetap aman. Keseimbangan oksigen dan keanekaragaman hayati tetap terjaga. Semua obsesi selalu dan tetap mengarah ke gunung.

Saya mulai memahami bahwa seluruh jagat ciptaan baik darat, laut maupun udara, semua saling berkait erat satu dengan yang lain dalam menyumbangkan penghidupan yang berkelanjutan bagi manusia dan seIuruh makhluk hidup.

“Berani gak ke Iaut?”

Jika ditanya seperti itu, saya dihantui rasa takut, bimbang dan ragu. Karena airnya daIam, tidak bisa berenang, takut sama binatang Iaut yang berduri dan berbisa, serta yang Iainnya.

Saya jelas tidak punya pengalaman hidup, baik secara pribadi maupun organisasi, tentang laut dan masyarakat pesisir. Namun pengalaman perguIatan di gunung bersama petani dan masyarakat, membuka ruang untuk saIing  belajar dan bertukar pengaIaman antara pegiat pegunungan dan keIautan. Spirit saling beIajar ini memberi keyakinan bahwa Yayasan Tananua (tempat di mana saya berkegiatan) bisa mengembangkan karya pada wilayah pesisir dan laut.

Terbatasnya pengetahuan dan rendahnya nyali bukanlah hambatan dalam urusan kelautan. Ada banyak sahabat yang dengan senang hati berbagi pengetahuan dan motivasi agar semakin banyak orang memahami tentang arti penting sumber daya kelautan dan perikanan. Mereka adalah Marc, Indah, Maman, Ismu dan Lugas. Orang-orang inilah yang banyak memberikan pengetahuan dan motivasinya melalui pelatihan, kunjungan lapangan, dan praktek secara langsung sehingga individu dan organisasi memiliki pemahaman yang satu dan memiliki kepekaan, serta secara sadar menentukan pilihan untuk mulai turun ke laut.

Mengunjungi Desa Pesisir

Langkah pertama saya menjajaki penghidupan masyarakat pesisir adalah mendatangi Desa Raporendu, Kecamatan Nangapenda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekira 20 kilometer dari Kota Ende. Desa pesisir pertama yang kami masuk untuk mengenaI Iebih jauh tentang kehidupan mereka.

Awalnya saya sedikit galau menghadapi masyarakat dengan budaya mata pencaharian yang berbeda. Namun kami disambut dengan sangat hangat seperti di rumah sendiri. Seketika kegalauan langsung terbang menjauh dari perasaan saya. Segudang cerita mengalir dalam sajian tutur oleh perwakilan warga, mulai dari tingkat desa, hingga setiap individu masyarakat yang kami jumpai.

Bentangan panorama laut biru yang sangat indah diiringi gemuruh ombak bersahutan ketika Nurhayati menyambut kami dengan hangat. Ia adalah pejabat sementara Kepala Desa Raporendu. Nurhayati menyampaikan dengan detail kondisi sosial dan demografi desanya. Raporendu dihuni 2.189 jiwa (laki-laki 1.077, perempuan 1.112 jiwa) atau 639 Kepala Keluarga (KK). Penerima beras sejahtera 148 KK dan penerima PKH 133 KK.

Sebanyak 80 persen penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Untuk pertanian dan tenun lebih banyak diurus oleh ibu-ibu. Campur tangan ibu-ibu dalam membantu para suami sebagai nelayan adalah menyiapkan makanan serta ikut membantu dalam membersihkan, menjemur ikan bila rejeki atau hasil tangkapan yang didapat dalam jumah banyak.

Sebaliknya kaum laki-laki akan membantu ibu-ibu di kebun apabila musim barat tiba,-di mana gelombang tinggi terjadi,-yang menyebabkan mereka tidak bisa melaut. Pada kesempatan yang baik inilah mereka membantu para istri dalam membersihkan dan mencangkul lahan. Selain urusan tadi, ibu-ibu juga menyiapkan makanan bagi anak-anak, membersihkan rumah, membelanjakan kebutuhan keluarga di pasar Nangapanda, termasuk rokok untuk sang suami yang akan turun ke laut.

Tanaman pangan yang diusahakan kaum ibu di lahan berupa singkong, jagung, kacang-kacangan, dan juga pisang. Sedangkan tanaman perdagangan didominasi kelapa dan kakao. Untuk jagung benihnya dibeli pada toko pertanian karena tidak ada lagi benih lokal yang tersedia. Hasil ladang yang diperoleh tidak untuk dijual. Semuanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga selama 5-6 buIan. Selebihnya sangat bergantung pada pasar sambil menjual biji kakao dan kopra untuk membeIi beras.

Pendapatan utama masyarakat Raporendu dari sektor kelautan yakni dari hasil tangkapan ikan. Selama ini pemasaran hasil tangkapan mereka dibeli atau diborong oleh pedagang ikan dari Kota Ende, untuk dijual kembali ke pedagang pasar. Hingga saat ini belum ada pengusaha perikanan yang masuk ke desa. Kondisi ini sangat memengaruhi tingkat pendapatan para nelayan, di mana pedagang ikan selalu memperlakukan harga yang hampir sama saat tangkapan banyak maupun sedikit.

Saat tangkapan sedikit harga naik tipis, dan saat tangkapan melimpah harga turun drastis, sehingga nelayan dirugikan. Memilukan. Hal ini juga terjadi karena terbatasnya keterampilan paska panen ikan ditingkat keluarga nelayan serta kelompok-kelompok nelayan. Sebenarnya ada beberapa kelompok nelayan yang pernah dibentuk oleh Dinas Perikanan dan Kelautan. Kelompok ini aktif saat akan dapat bantuan saja.

Namun setelah menerima bantuan, semua berjuang masing-masing dalam kesendirian, bahkan bantuan yang telah diterima juga malah dijual kembali. Sedih. Apalagi di wilayah ini tidak ada nilai-nilai lokal atau adat yang mengatur tentang tata cara penangkapan ikan, apalagi penjualan. Nelayan sesukanya menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Sebelumnya ada yang menggunakan bom. Sekarang sudah sedikit namun masih menggunakannya secara sembunyi-sembunyi.

Urusan kesehatan, masyarakat di sini umumnya sehat. Kalau sakit, maka penyakit rakyat seperti batuk, flu, dan malaria yang terjadi saat pergantian musim, akan jadi hal yang biasa. Desa ini memiliki Puskesmas Pembantu. Sementara Puskesmas Nangapenda berjarak 10 kilometer. Beruntung perawatnya tinggal di tempat sehingga bisa tertangani dengan baik dan bila sakitnya lebih parah akan dirujuk Ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende yang berjarak kurang lebih 20 kilometer.

Untuk MCK semua rumah sudah memilikinya dengan menggunakan sumber air dari perigi. Setelah ada bantuan pipa, masyarakat mulai menggunakan air ledeng dari mata air gunung yang jaraknya sekira 2 sampai 3 kilometer. Penggunaan air hanya untuk MCK dan pemanfaatan pekarangan untuk dapur hidup, meski baru satu atau dua keluarga mulai mencobanya.

Nelayan Gurita

Selepas dari kantor desa, kami menemui perwakilan nelayan dalam rangka berbagi pengalaman sambil mengejar informasi tentang perikanan gurita. Suasana pantai yang mulai panas dan sambil berjalan kaki, saya menuju rumah Amir Joso, saIah satu warga Dusun Numba Raba Timur. Ia adalah nelayan pertama yang direkomendasikan untuk dikunjungi.

Setibanya di sana, ternyata Amir sedang tidak berada di rumah. Kami disambut sang istri, yang walaupun sedikit canggung dengan wajah-wajah baru, tapi kami dipersilahkan untuk masuk. Ia lalu meminta anaknya agar memanggil sang ayah yang sedang berada di pantai membersihkan jala. Tidak lama kemudian, sang suami tiba di hadapan kami. Sambil memperkenalkan dan menjelaskan tujuan kami, saya melihat Amir sebagai sosok pria paruh baya yang masih nampak kekar. Istrinya sendiri berasal dari Sumenep, Jawa Timur.

“Bapak dan ibu, saya ini sudah jendral dalam urusan menangkap ikan. Pernah ikut kapal ikan, perahu motor, ketinting bahkan selam sendiri. Sekarang sudah tua, paling memungkinkan hanya menggunakan ketinting untuk mancing dan selam,” kata Amir menganalogikan hidupnya sebagai nelayan seperti pangkat seorang jenderal, penuh semangat.

Amir menjelaskan kepada kami cara menangkap ikan, termasuk menggunakan bom. Di masa mudanya, ia begitu akrab dengan cara mengambil ikan yang sangat merusak itu. Bahkan suatu ketika, Amir terlambat meloncat dari perahu ketika bom meledak sehingga pecahan botol dari bom harus menusuk sekejur tubuhnya. Sakit dan perih rasanya. Namun ia bersyukur tidak ada kaki, tangan, mata maupun telinga yang putus. Rasanya pertobatan untuk tidak menggunakan bom sudah tiba.

“SekaIi Iagi itu di masa muda duIu. Sekarang kami sudah tidak Iagi menggunakan bom,” ungkap Amir sambil tersenyum.

Untuk penangkapan gurita, Amir tidak menggunakan bom tapi dengan menggunakan panah sambil menyelam. Ia sangat paham dengan kehidupan gurita. Di saat air laut keruh dan juga dingin, ia tidak bisa melihat gurita. Namun ketika lamun naik, ini pertanda alam bahwa gurita mulai ada di sekitarnya. Berdasarkan pengaIamannya dalam menangkap gurita, Amir seringkali diIiIit gurita di atas perahunya.

“Biarkan dia IiIit. Tidak apa-apa. Nanti secara perlahan akan dia Iepas seteIah kepaIanya ditusuk dan mati,” ungkap Amir.

“Dulu tidak ada pasar untuk gurita dan ditangkap hanya untuk makan atau dijual di sekitar. Sekarang sudah ada pasaran untuk penyaluran gurita bila dalam jumlah yang banyak,” tegas Amir lagi.

Gurita Maurongga

Sambil menyisir jalan negara arah balik ke Kota Ende, kami menuju Dusun Maurongga. Ini adalah calon desa persiapan yang merupakan pemekaran dari Desa Raporendu. Kami direkomendasikan untuk bertemu dengan neIayan gurita bernama Imbran Thabrin. Usianya sekira 40-an tahun dan berasal dari lingkungan Arubara. Ia mempersunting gadis Maurongga dan menetap di dusun Maurongga.

Imbran merupakan nelayan gurita yang tangguh. Sejak kecil ia mengikuti ayahnya melaut. Tugasnya membantu menyiapkan umpan, menyelam, serta membersihkan hasil tangkapan. Pengalaman masa kecil ini menjadi guru terhebat dalam hidupnya yang membentuk dirinya menjadi pelaut tangguh. Kurang lebih 19 tahun lamanya Imbran dengan tekun dan mandiri dalam menangkap gurita.

Hasil dari penjualan gurita tangkapannya, Imbran berhasil memiliki mesin ketinting dan juga jala. Ia sendiri menangkap gurita di pantai Maurongga dan pantai sekitarnya. Menurutnya, di area TeIuk Maurongga ada banyak potensi gurita yang tidak diketahui dan ditangkap oIeh banyak nelayan. Apalagi nelayan di Raporendu banyak yang menangkap ikan saja. Di Maurongga sendiri ada 7 nelayan yang menangkap gurita, termasuk ibu-ibu yang juga ikut mencari gurita di saat pasang surut.

Tantangan yang dihadapi oleh Imbran, Amir dan juga nelayan lainnya di Desa Raporendu adalah ada banyak nelayan luar yang masuk ke area tangkapannya dengan menggunakan alat tangkap selain jala, juga menggunakan bom. Hal ini sangat mengganggu neIayan setempat terutama berkaitan dengan jumlah hasil tangkapan yang berkurang.

Di sisi lain penggunaan bom sangat merusak rumah ikan terutama batu karang sebagai rumahnya gurita. Ketika rumahnya sudah rusak maka ikan maupun gurita tidak akan tinggal lagi di rumah yang rusak. Mereka akan mencari tempat tinggaI yang Iebih nyaman. Bagai Iumbung yang penuh isi IaIu di bakar, maka ikan atau gurita harus membangun Iumbung baru di tempat yang Iebih aman.

Nelayan pernah menyampaikan masalah itu ke pihak berwajib, namun terkadang lambat penanganannya dan dalam pikiran masyarakat mulai menduga-duga, jangan-jangan ada yang berada di belakang pelaku pemboman ikan. Karena kelambatan ini membuat nelayan harus main hakim sendiri: tangkap dan selesaikan di tingkat pemerintahan desa.

Beberapa tahun terakhir penggunaan bom sudah sangat minim, bahkan tidak ada Iagi karena ada pengawasan poIisi dari darat, PoIair, KP3 dan para neayan sendiri. Kesadaran masyarakat untuk menjaga laut mulai tumbuh, didukung kemajuan teknologi komunikasi sehingga bila terjadi bom, maka masyarakat segera melapor ke polisi.

Namun tetap butuh waktu untuk membangun kesadaran masyarakat agar tetap menjaga sumber daya keIautan. Apalagi masih ada bom yang Iebih dasyat yang sudah menunggu dan bisa meIedak setiap saat. Bom tersebut adalah sampah pIastik, yang bisa menjadi bom waktu bagi ekosistem laut di Ende. Butuh kesadaran bagi seluruh insan manusia untuk meminimalisir penggunaan bahan plastik agar masalahnya tidak berkepanjangan.***

 

*Keterangan dan sumber foto utama: Pantai di Raporendu, Foto oleh: panduanwisata.com  

 

 

Related posts

Peristiwa Budaya yang Langka Itu Bernama Maa Ledungga

Admin

Sebuah Epitaf untuk Sapardi

Admin

Tentang (Melampaui) Primitivisme: Tanggapan untuk Tarmizi “Arief” Abbas

Admin

Leave a Comment