lipunaratif.com
Image default
Mantra

Cek Fakta Postingan Dandhy Dwi Laksono Soal Papua

Pendiri WatcdoC Documentary yang juga aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dandhy Dwi Laksono hingga kini masih dijadikan tersangka. Dandhy ditangkap polisi pada Kamis, 26 September 2019, pukul 23.00 WIB. Polisi mendatangi kediamannya di bilangan Bekasi. Empat personil polisi membawanya ke Polda Metro Jaya

Dandhy dikriminalisasi terkait dengan isu Papua dan dikenakan pasal berlapis. Di antaranya Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45 A ayat (2) UU 11/2009 tentang perubahan atas UU 8/2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Seorang bernama Asep Sanusi melaporkan Dandhy pada hari Selasa, 24 September 2019. Sebelumnya pada hari Sabtu, 21 September 2019, Dandhy dan Budiman Sudjatmiko menjadi pembicara dalam forum yang membahas berbagai isu soal Papua. Forum itu bertajuk #DebatKeren ‘Nationalism and Separatism: Questions on Papua’,.

Di tengah upaya kriminalisasi terhadap dirinya, Dandhy juga dituduh bahwa ia menyebarkan hoaks. Benarkah demikian? Yuk, kita cek fakta postingan Dandhy Dwi Laksono tentang Papua.

Pertama: twit @Dandhy_Laksono yang dipersoalkan polisi adalah unggahan pada 23 September 2019 jam 1:26 PM atau 13.26 WIB. Kedua, twit itu adalah sebuah THREAD atau UTAS. Alias twit berseri yang terdiri dari 5 unggahan. Jadi tidak hanya satu unggahan saja. Ciri twit thread bisa dilihat dari tanda garis yang menghubungkan setiap twit menjadi satu rangkaian.

Maka melihat substansi twit Dandhy tidak bisa hanya dari satu posting saja, karena jumlah karakter (huruf dan tanda baca) maksimal hanya 280 per unggahan.

Berikut kronologi twit-nya. Twit pertama diunggah 13.26 WIB atau 15.26 WIT:

Jayapura (foto 1). Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas.

Wamena (foto 2). Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak.

Twit kedua diunggah 13.44 WIB atau 15.44 WIT: Peristiwa di Jayapura (foto 1) dan Wamena (foto 2) hari ini menunjukkan bahwa di Papua tampaknya hanya berlaku satu cara untuk mengatasi segala masalah, yaitu kekerasan. Di Papua risiko menyampaikan aspirasi bukan dipanggil rektor, tapi mati atau luka tembak.

Twit ketiga 13.55 WIB atau 15.55 WIT: Ini berita tentang apa yang terjadi di Wamena. Jika melihat foto/video beberapa bangunan di kota Wamena terbakar, anak SMA luka-luka tembak, menurut berita ini urutannya sbb:kasus dugaan rasisme – demo – tembakan senjata – massa marah – pembakaran.Link berita berjudul: “Saksi: perusakan dan pembakaran bangunan di Wamena karena terprovokasi.”

Twit keempat 14.00 WIB atau 16.00 WIT: Berita tentang apa yang terjadi di Jayapura (kampus Uncen dan taman budaya Expo Waena) sedang disusun, tapi tidak mudah mengumpulkan informasi karena akses peliputan untuk jurnalis juga tidak bebas.Link berita berjudul: “Polisi halangi tiga wartawan meliput pembukaan pos eksodus mahasiswa di Uncen”.

Twit kelima 14.24 WIB atau 16.24 WIT: Ini berita tentang peristiwa di Jayapura hari ini. Kepala Dinas Kesehatan Papua mengonfirmasi ada 4 korban tewas (3 mahasiswa/orang Papua dan 1 TNI) setelah mahasiswa dilarang mendirikan posko di lingkungan kampus Universitas Cendrawasih.Link berita berjudul: “Empat korban meninggal pasca pembubaran mahasiswa di Uncen”.

Itulah lima rangkaian twit Dandhy menyangkut peristiwa di Jayapura dan Wamena. Kini mari kita bahas satu per satu secara kronologis berdasarkan informasi yang dijadikannya rujukan pada saat itu. Bukan informasi lain yang datang setelah jam-jam tersebut pada tanggal 23 September 2019.

Pertama: untuk bisa melihat informasi apa saja yang dilihat timeline Dandhy di twitter pada hari dan jam-jam itu, maka metode yang bisa digunakan adalah melihat “Tweets & replies” yang ada di akun @Dandhy_Laksono. Kurang lebih itulah yang menggambarkan informasi apa yang menarik perhatiannya, dikomentari, dan dibagikan ulang terkait peristiwa di Papua. Cara lain adalah dengan melihat apa yang di “Likes” –nya, juga terkait peristiwa di Papua.

Retweet pertama Dandhy pada 23 September 2019 adalah posting dari akun @AprilaWayarpada jam 8.45 WIB. “Jayapura & Wamena Siaga 1. Internet diblokir lagi?” link berita: “Pemblokiran Internet Tak Mampu Menghalangi Isu Papua Mendunia”.

Ini adalah fakta pertama, bahwa ada peristiwa di Jayapura dan Wamena yang sudah muncul di media sosial, 5 jam sebelum twit pertama Dandhy tentang Jayapura dan Wamena. (Twit pertama Dandhy yang dipersoalkan polisi dan didengungkan para buzzer adalah 13.26 WIB). Peristiwanya sendiri belum jelas jika dilihat dari urutan informasi yang muncul dan menjadi perhatian Dandhy di linimasa Twitter-nya.

Retweet kedua dari akun @VeronicaKoman pada pukul 9.25 WIB atau 11.25 WIT: 23/9/19 Wamena, West Papua Hundreds of West Papuan high school (some junior high school) students shouting: “Papua! Freedom! (video ratusan/ribuan pelajar berpakaian putih abu-abu)

Inilah retweet kedua Dandhy yang mengandung kata “Wamena”, 4 jam sebelum unggahannya sendiri.

Pada pukul 10.20 WIB, atau satu jam kemudian, ia meretweet lagi akun @Joko85234663 yang memosting video kota Wamena yang telah terbakar di mana-mana dengan caption atau keterangan: “Wamena memanas”.

Akun ini sebenarnya mengomentari (“Quote Tweet”) posting Dandhy tentang informasi kota-kota di seluruh Indonesia yang pada hari itu menggelar unjuk rasa beserta aspirasinya. Maka konfirmasi bahwa beberapa bangunan di kota Wamena telah terbakar setidaknya sudah terjadi 3 jam sebelum Dandhy mengunggah informasi apapun oleh dirinya sendiri.

Tujuh menit kemudian, 10.27 WIB, Dandhy me-retweet @jobanhadi yang mengunggah video sebuah video dengan keterangan: “Siang ini. Expo Waena Jayapura, TNI/Polri dan Mahasiswa saling serang. Sumber: Kawan-kawan Mahasiswa Papua.

Pada pukul 9.30 WIB, Dandhy kembali meretweet @VeronicaKoman: 23/9/19 Wamena, West Papua. The town form aerial view. Menggambarkan asap hitam membumbung direkam dari udara.

Retweet berikutnya dari akun @VeronicaKoman yang ia unggah pada pukul 9.50 WIB: “23/9/19 Wamena, West Papua Riot”. Video menggambarkan orang berlarian, bangunan terbakar, dll. (Riot yang diposting oleh Veronica Koman dalam bahasa Indonesia artinya “Rusuh”). Posting video Veronica Koman pada jam 9.50 WIB ini semakin mengonfirmasi bahwa kota Wamena telah rusuh.

Setelah itu, Dandhy kembali meretweet @VeronicaKoman yang memosting 3 foto terkait peristiwa di Jayapura: “23/9/19 Jayapura, West Papua Student are forced to lay face down in the sun in Expo area”. Foto tersebut tentang ratusan orang bertelanjang yang sebagian besar bertelanjang dada, telungkup menghadap tanah.

Peristiwa yang sama di Jayapura ini diretweet kembali oleh Dandhy dari akun @Lini_ZQ (12.12 WIB): “Sementara itu begini situasi yang dihadapi oleh kawan-kawan kita di Papua. Itu kenapa #ReformasiDikorupsi juga bergerak menyuarakan situasi di Papua untuk menghentikan segala tindak kekerasan aparat terhadap warga Papua.”

Pada pukul 12.28 WIB, Dandhy melakukan Quote Tweet atas posting dari akun @YoNa42344302 yang memention dirinya dan Veronica Koman. Twit tersebut mengunggah sebuah foto pria yang diduga telah tewas bersimbah darah dengan keterangan: “Korban tembakan TNI/POLRI di Ekspo Waena atas nama Oktinus Lokbere, mahasiswa Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Unsrat Manado, 23 September 2019. Unggahan ini lalu ditembuskan (cc) oleh Dandhy ke @jubidotcom @SuaraPapua @TirtoID dengan metode “Quote Tweet”. Ketiga media yang disebut adalah dua media berbasis di Papua dan sebuah media di Jakarta.

Tindakan Dandhy menyebut media-media ini dapat dimaknai sebagai informasi kepada redaksi ketiga media tersebut, agar dapat  diverifikasi dan ditelusuri. Dia tidak serta merta ikut menyebarkannya begitu saja.

Dandhy kemudian meretweet akun @Aiek_Channel yang memposting video kebakaran yang meluas di Wamena, dengan keterangan: “Breaking News!! Senin, 23/9/2019 Jam 07.25 terjadi penyerangan anak SMA PGRI Wamena bergabung dengan masyarakat sekitar 200 orang. Kerusuhan Pecah di Wamena, Bangunan Dibakar & Rentetan Suara Tembakan Terdengar”. Disertakan sebuah link berita dari Kompas.com

Berita tersebut telah diunggah oleh Kompas.com pada pukul 09.15 WIB atau 4 jam sebelum Dandhy mengunggah informasi yang dipersoalkan polisi dan dianggap sebagai provokasi terhadap kerusuhan di Wamena.

Perhatikan informasi yang ditulis Kompas.com berikut ini:

“Aksi unjuk rasa siswa di Kota Wamena, Papua, Senin (23/9/2019), berujung rusuh. Kontributor Kompas.com di Wamena, John Roy Purba, melaporkan, demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat. Unjuk rasa yang berujung rusuh itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswanya di Wamena.


Hal itu membuat siswa marah hingga kemudian kabar itu meluas dan memicu aksi unjuk rasa pelajar di Kota Wamena. “Sampai saat ini, Wamena masih dikuasai pelajar yang berunjuk rasa,” kata John melalui sambungan telepon, Senin. John melaporkan, aparat kepolisian dan TNI berusaha memukul mundur siswa demonstran. Hal itu berlangsung sekitar 4 jam. Namun, siswa demonstran tetap bertahan dan kian bertindak anarkistis. “Suara tembakan terdengar di mana-mana selama 3 jam,” kata John.

Memang dalam percakapan dengan John, terdengar suara rentetan tembakan senjata api. Sampai saat ini, aktivitas di Kota Wamena lumpuh. Masyarakat memilih mengungsi di kantor Polres Wamena dan Kodim. Update informasi terbaru dari kontributor Kompas.com di Wamena, John Roy Purba, menyebutkan, saat ini sebagian warga panik karena kehilangan anggota keluarga.

Selain itu, kini semua warga di kota itu sudah mengungsi ke kantor polisi dan Kodim. Sementara unjuk rasa massa masih berlangsung. Massa berusaha merangsek masuk ke pusat bisnis Wamena. Namun, mereka segera dihadang aparat kepolisian. Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Kota ini merupakan satu-satunya yang terbesar di pegunungan tengah Papua.

 Di Wamena juga terdapat pusat bisnis sehingga ketika terjadi kerusuhan, kawasan itu dijaga ketat aparat kepolisian. Presiden Joko Widodo pernah dua kali mengunjungi Kota Wamena, yakni pada 28 Desember 2014 saat membicarakan persoalan-persoalan yang ada di daerah itu. Lalu setahun berikutnya, pada 30 Desember 2015, Jokowi juga kembali mengunjung Wamena untuk meresmikan terminal baru Bandara Wamena.”

Dalam hitungan kasar, jika Kompas telah menaikkan berita kerusuhan di Wamena pada jam 09.15 WIB dan laporan wartawan John Roy Purba di kota Wamena menyebut “Suara tembakan terdengar di mana-mana selama 3 jam”, artinya, kerusuhan Wamena setidak-tidaknya mulai terjadi minimal pada pukul 6.15 WIB atau 8.15 waktu setempat (WIT).

Maka, jarak antara kerusuhan Wamena (yang diduga terkait ujaran rasis seorang guru terhadap siswanya) dengan twit Dandhy adalah 5 jam, atau kurang lebih cocok dengan pertama kali ia meretweet akun @AprilaWayar yang menyebut “Jayapura dan Wamena siaga 1”.

Pemberitaan Kompas ini juga mengonfirmasi, bahwa masalah kabar tentang ujaran rasis sudah ada di kota Wamena sehingga diduga memicu unjuk rasa para siswa, dan jelas bukan Dandhy yang ikut menyebarluaskannya di Wamena dan di mana pun, apalagi yang pertama kali meniupkannya.

Belakangan disebutkan oleh beberapa sumber, bahwa ujaran tersebut tidak benar (hoax). Namun perlu diingat bahwa belakangan, fakta dan hoax saling tumpang tindih di Papua. Peristiwa unjuk rasa yang menewaskan setidaknya 7 demonstran dan seorang aparat di Deiyai pada 29 Agustus 2019, (yang dimuat kantor berita REUTERS juga pernah dinyatakan hoax oleh akun @PuspenTNI. Padahal belakangan, informasi tersebut benar.

Setelah 10 retweet dan quote tweet yang dilakukan Dandhy terhadap peristiwa di Jayapura dan Wamena selama 5 Jam terakhir, barulah Dandhy memposting unggahan yang dipersoalkan polisi dan dipropagandakan para buzzer sebagai provokasi atas kerusuhan di Wamena itu.

Padahal dari struktur twit Dandhy, ia justu terlihat beritikad menstrukturkan informasi atau berusaha merangkum secara sederhana dan sistematis apa yang dalam lima jam terakhir menarik perhatiannya di linimasa Twitter. Ia bahkan menyertakan link berita dari Jubi.com untuk memberi rujukan pada publik memeriksa setiap informasi tersebut.

Alih-alih memprovokasi, melontarkan ujaran kebencian, apalagi menyulut rusuh bertendensi sara, Dandhy justru melakukan hal mempermudah publik menelusuri setiap informasi. Rekam jejaknya selama ini, dari semua film yang pernah diproduksi, dari Belakang Hotel, Samin vs Semen, The Mahuzes, Kala Benoa, Asimetris, Jakarta Unfair, Rayuan Pulau Palsu, hingga Sexy Killers yang telah ditonton 26 juta orang, seluruhnya menggambarkan semangat itu.

Semangat bagaimana membuat publik mudah memahami masalah yang kompleks dan ruwet, menjadi mudah dipahami substansi dan esensinya.***

Redaksi

 

 

 

 

 

Related posts

Melampaui Primitivisme: Narasi Entitas Masyarakat Pribumi

Admin

Pembalut dan Pariwisata Gorontalo

Admin

Ketuan-tanahan Skala Raksasa (Gigantic Landlordism): Déjà vu Pilpres

Admin

Leave a Comment