Image default
Feature/Indepth Stories

Dari Donasi untuk Operasi Rafli

Penulis: Apriyanto Rajak  

 

Anak kecil itu terkapar tak berdaya di Rumah Sakit Umum Daerah Toto Kabila, Gorontalo. Hidung dan tangannya terpaksa harus dipasangi infus untuk menjalani perawatan. Ibunya yang mengenakan jilbab merah muda, sesekali memberi udara dengan cara mengipaskan tangannya kepada bocah berumur 3 tahun 8 bulan itu. Rafli G. Nyong, nama anak itu menderita penyakit bibir sumbing sedari lahir. Meja operasi sudah menunggu.

Rafli adalah anak keempat dari pasangan Pina Epus dan Serding Nyong. Mereka merupakan suku Bajo Torosiaje yang telah bermukim di Desa Lemito, Kabupaten Pohuwato, sebelah barat Gorontalo. Jarak dari kampung Rafli ke pusat Kota Gorontalo biasanya ditempuh selama 6 jam menggunakan kenderaan roda dua atau roda empat.

Jika Anda sudah menonton film The Bajau, maka Anda akan menyaksikan Rafli ketika diajak oleh orang tuanya melaut di wilayah Teluk Tomini, Torosiaje. The Bajau merupakan film produksi Watchdoc yang disutradarai oleh Dandhy Laksono. Film yang menceritakan kehidupan warga Bajo di Torosiaje, Gorontalo, dan Marombo, Sulawesi Tenggara, dan baru dirilis di Indonesia pada Januari 2020. 

Namun sebelumnya, film ini diputar pertama kalinya di Pasar Hamburg Jerman pada 2018 lalu. Di Gorontalo sendiri, pemutaran film dan diskusi The Bajau ini sudah delapan kali dilaksanakan di sejumlah tempat yang berbeda. 

***

Rafli dan ibunya Pina Epus sebelum menjalani operasi di Rumah Sakit Toto Kabila, Gorontalo. Foto: AJI Kota Gorontalo.

28 Januari 2019. Beberapa dokter lalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Rafli digendong ibunya ketika jam menunjuk angka 12.15 siang, lalu mulai memasuki ruangan instalasi bedah sentral atas arahan dokter. 

Saat menjalani operasi, Rafli tidak hanya didampingi sang ibu, namun juga oleh sejumlah anggota dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mereka telah menjadi relawan selama Rafli menghadapi operasinya di Kota Gorontalo, seperti bolak-balik menjalani pemeriksaan ke dokter bedah mulut, pemeriksaan darah, atau ke dokter spesialis anak.

Operasi Rafli memakan waktu sekitar dua jam. Setelah itu, tubuh Rafli kelihatan tidak lagi terpasang infus, hanya saja tepat di bawah hidung dan di bibir atasnya telah dipakaikan perban berwarna putih. Ia terbaring lemah tak sadarkan diri.

“Operasinya berjalan lancar. Kondisi Rafli saat ini dalam keadaan bagus hanya perlu perawatan lebih lanjut,” kata Deece Patuti, dokter spesialis gigi dan bedah mulut di rumah sakit itu, seusai melakukan operasi.

“Perawatan harus baik sesudah operasi, seperti pembersihan lukanya. Terutama setelah ia makan dan minum, karena yang ditakutkan adanya infeksi, jadi bila terkena infeksi biasanya jahitannya akan lepas. Untuk proses penyembuhan itu minimal satu minggu.”

Rafli kemudian didorong menggunakan tempat tidur pasien untuk dipindahkan ke ruangan semula. Roda tempat tidur yang didorong itu terdengar bergemuruh ketika menuju lantai dua. Beberapa anggota AJI terlihat membantu menjalankan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh perawat. Sementara Rafli masih terpengaruh dengan obat bius. Meski demikian, bocah itu sesekali membuka matanya, lalu menutupnya lagi. 

Saat tiba di ruangan, Rafli langsung digendong untuk dipindahkan ke tempat perawatan. Raut muka Ibunya sesekali melempar senyum kepada setiap orang di ruangan itu yang sekedar menanyakan kondisi Rafli setelah operasi. Di dalam ruangan kelas II A yang sekira berukuran lebih dari 4×5 meter, ada empat pasien lainnya sedang dirawat. Satu pasien lagi memiliki kasus serupa dengan Rafli.

Perlakuan pada Suku Bajo

Dalam film The Bajau, orang tua Rafli yakni Serding Nyong dan Pina Epus masih menjalani tradisi melaut suku Bajo dalam mencari ikan dengan cara tinggal di atas perahu, lalu mengikutsertakan sanak keluarga. Cara melaut itu disebut dengan pongka atau ba pongka. Sayang, tradisi itu kini tak banyak lagi dilakukan oleh orang-orang Bajo. Padahal Bapongka memiliki nilai-nilai tentang pelestarian ekosistem laut dan pesisir yang terkandung dalam segala aturan atau pantangannya. 

Francois Robert Zakot, antropolog asal Prancis, yang lama menetap di Torosiaje, banyak menulis tentang kisah orang Bajo Torosiaje, kemudian dibukukan dengan judul “Orang Bajo, Suku Pengembara Laut”.

Karena pengembara laut itu, mereka disebut sebagai suku yang no maden. Namun pelan tapi pasti, sejak program membuat pemukiman di darat kepada orang-orang Bajo; tradisi, budaya, bahkan keahlian dalam melaut mulai memudar. 

Di Torosiaje, awal mula suku Bajo tinggal di darat terjadi pada tahun 1982. Pemerintah melalui Departemen Sosial pada saat itu, membangun pemukiman suku Bajo yang diberi cap terasing, sebanyak 125 kepala keluarga. Namun ketika itu 50 kepala keluarga kembali ke laut karena di darat mereka kesulitan air bersih. 

Program pembangunan pemukiman di darat bagi orang Bajo terus berlangsung. Tahun 1984 dibangun lagi 50 kepala keluarga. Tahun 1986 dibangun 75 kepala keluarga. Tahun 1995 dibangun 50 kepala keluarga, tahun 1997 hingga 1998 dibangun lagi pemukiman bagi 84 kepala keluarga. 

Dandhy Laksono, sutradara film The Bajau, menyebut bahwa orang-orang Bajo yang telah membangun peradaban maritim di Indonesia, sering mendapatkan perlakukan diskriminatif. Dengan mengatasnamakan “hidup yang lebih baik” pemerintah membuat program memukimkan mereka di sejumlah pulau atau daratan. 

Tak sedikit dengan cara-cara pemaksaan dan intimidasi, seperti pengusiran di pulau-pulau tempat mereka berteduh dari badai jika tak dapat menunjukkan identitas. Atau pulau-pulau di mana nenek moyangnya dulu mencari air atau bertukar ikan dengan ubi pada warga setempat.

“Dalam beberapa kasus seperti di pulau Bali Kukup (Kalimantan Utara), mereka terpaksa membeli surat jalan dari aparat pemerintah desa agar tidak ditangkap tentara atau polisi di tengah laut,” kata Dandhy.  

Padahal menurut Dandhy peradaban darat tak selalu mengajarkan kebaikan. Sejak bermukim, orang-orang Bajo justru mengenal bom ikan. Sementara ikatan pada terumbu karang tak kuat lagi karena daratan menyediakan sumber-sumber ekonomi alternatif. Sebelumnya, alat tangkap paling masif adalah pukat atau jaring, selain tombak, panah, atau jerat. 

“Dan mustahil bagi mereka menumpaskan terumbu karang tempatnya menggantungkan hidup setiap hari.” 

Relawan dari AJI Kota Gorontalo saat mendampingi Rafli menjalani pemeriksaan, bahkan hingga selesai operasi. Foto: AJI Kota Gorontalo.

Donasi Publik

Untuk biaya pengobatan Rafli sebelum dan sesudah operasi merupakan hasil donasi publik yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Penggalangan donasi dilakukan dengan memutar film produksi Watcdoc The Bajau, yang diorganisir oleh AJI Kota Gorontalo. Pemutaran film The Bajau sendiri digelar mulai dari ruang-ruang kelas dan perkuliahan, perpustakaan jalanan, warung kopi, kampung nelayan, pesantren, hingga lapangan luas dengan model layar tancap.  

Muamar Afdillah, panitia pemutaran film dari AJI Kota Gorontalo, mengatakan bahwa untuk biaya operasi, pengobatan, hingga biaya ruangan tempat Rafli dirawat selama di rumah sakit juga ikut dibantu oleh pihak rumah sakit sendiri. Itu setelah mereka tahu bahwa Rafli merupakan anak dari warga suku Bajo yang difilmkan dan diputar dalam banyak tempat di Indonesia. 

“Kami bersyukur, dokter di rumah sakit banyak membantu operasi dan perawatan Rafli,” kata Aan, panggilan akrab Muamar Afdillah.

Dalam catatan Aan, total pemutaran film The Bajau dilakukan sebanyak 168 kali dengan penyelenggara yang terdiri dari berbagai komunitas dan organisasi di seluruh Indonesia. Bahkan nonton bareng dan panggalangan dana film berdurasi 80 menit ini ditutup pada tanggal 15 Februari 2020 yang digelar di kampus Goldsmiths University of London, Inggris. Sementara donasi yang berhasil dikumpulkan dari pemutaran film itu per tanggal 14 Februari 2020 sudah mencapai Rp. 42.446.700.

“Dari total 168 penyelenggara ini, masih ada 64 penyelenggara yang belum mengirimkan hasil donasinya,” kata Aan.

Hasil penggalangan dana dari pemutaran film ini memang untuk disalurkan kepada warga Bajo yang ada di Gorontalo dan Kendari, Sulawesi Tenggara. Di antaranya; melakukan operasi bibir sumbing (Gorontalo), bantuan perahu dan mesin untuk pasangan kakek nenek (Gorontalo), bantuan perahu bersama untuk para perempuan pencari kerang (Sulawesi Tenggara), bantuan kayu untuk rumah Pak Belalo (Sulewasi Tenggara), dan bantuan pengobatan untuk putra Pak Cimpolo (Sulawesi Tenggara).

“Untuk di Gorontalo, operasi bibir sumbing dan pemberian bantuan perahu dan mesinnya sudah tersalurkan. Kalau yang di Sulawesi Tenggara, teman-teman AJI Kendari yang mengurus bantuan itu.”

***

Pasangan kakek nenek dalam film The Bajau. Mereka melaut dengan cara meminjam perahu dan harus menyetor Rp 600.000 setiap bulannya, namun dengan kondisi perahu yang rusak.

8 Febuari 2020. Malam itu saya diajak oleh kawan-kawan AJI Gorontalo untuk mengantar Rafli pulang ke kampung halamannya di Lemito. Kami berangkat selepas sholat isya. Pasca operasi itu Rafli harus menjalani perawatan lebih lanjut sesuai arahan dokter untuk memastikan kesembuhan lukanya. 

Perjalanan yang memakan waktu sekitar enam jam itu tidak hanya mengantar Rafli, namun juga bertemu langsung dengan pasangan kakek nenek yang mendapat bantuan perahu dan mesin ketinting. Adapun total harga perahu dan mesin ini mencapai Rp. 10.450.000.

Pukul 01.30 dini hari kami tiba di rumah Rafli. Jam segitu keluarga mereka belum tidur, seperti sedang menunggu kedatangan kami. Keesokan pagi, kami langsung menemui pasangan kakek nenek itu di rumahnya yang tidak jauh dari tempat tinggal Rafli.

Saya ingin menyaksikan langsung bagaimana pasangan kakek nenek ini untuk pertama kali mencoba perahu yang dibeli dari hasil bantuan penggalangan dana. Maklum, perahu yang mereka pakai untuk menangkap ikan dengan cara bapongka itu, ternyata hanyalah perahu sewa yang harus mereka bayar Rp 600.000 setiap bulan. Namun niatan itu harus tertunda beberapa jam karena air laut sedang surut.

“Perahu baru bisa keluar siang, karena air pasang nanti pukul 13.00,” ujar kakek Tane, si pemilik perahu baru tersebut.

Siang setelah air pasang, pasangan kakek nenek itu akhirnya berhasil menggunakan perahu barunya untuk melaut. Saya dan relawan dari AJI Kota Gorontalo diajak berkeliling melihat titik-titik di mana biasanya orang-orang Bajo mencari beragam ikan karang. 

Meski baru uji coba, keduanya merasa senang, dan bahkan terharu karena sudah memiliki perahu sendiri tanpa harus menyetor setiap bulan. Tak lupa, mereka mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berdonasi, dan juga yang bersumbangsih untuk operasi Rafli.***  

 

Related posts

Partitur Khatulistiwa di Desa Huntu

Admin

Memaklumi Hanung di Bumi Manusia

Admin

Peristiwa Budaya yang Langka Itu Bernama Maa Ledungga

Admin

Leave a Comment