Image default
Feature/Indepth Mantra

Matinya Pohon Kami

Penulis: Apriyanto Rajak

Di pohon yang rindang orang-orang berkerumun membeli makanan di Jalan Madura, Liluwo, Kota Tengah. Tak hanya enak, ia berbonuskan udara segar meski diterik yang menyengat sekalipun. Penjualnya adalah seorang Ibu berusia senja yang sudah beberapa tahun ini selalu menemui pelanggan setianya di bawah rerimbunan pohon itu. Kini, tempatnya hanya menyisakan debu beraspal baru dengan matahari yang merekah. 

Pohon itu tumbang di Jumat pagi, 15 November 2019: tak berdaya oleh pelebaran jalan. Tak ada lagi tempat berteduh sekedar menghirup udara segar. Tak ada lagi jajanan kue, nasi bungkus, es kelapa muda hingga bensin eceran. Dan tentu saja, bersama Ibu berusia senja si penjual nasi kuning yang mau tak mau harus tergusur dan mencari tempat baru lagi. 

Sabtu pagi 16 November 2019. Saya mendatangi Jalan Madura yang tak jauh dari Ruang Terbuka Hijau Kota Tengah. Jam masih menunjukkan angka 08.00 pagi. Namun sepagi itu udara terasa gerah dan matahari seperti menghujamkan sengatannya ke setiap orang yang melintas di jalan itu. Seorang pria paruh baya terlihat sedang menghidupkan mesin pemotong kayu. Selepas itu mesin chainsaw-nya langsung bekerja seperti memutilasi pohon yang tumbang sehari sebelumnya. Dengan seketika pohon besar berubah menjadi beberapa bagian tipis. Tepat di belakangnya berdiri sebuah papan pengumuman: “Hati-hati ada pekerjaan jalan”.

Hari itu saya menemui dua pedagang yang masih tersisa di tempat tersebut. Yang satu menjual nasi bungkus, satunya lagi menjual es kelapa muda. Namun posisi mereka sudah bergesar beberapa meter dari lokasi pohon yang mati ditebang. Sejak kematian pohon itu, keduanya enggan berbicara banyak: seperti sedang dirundung duka. 

Mafhum, sejak awal ketika kabar bahwa pohon itu akan ditebang mereka tidak setuju. Sebab keberadaan pohon itu telah menjadi bonus sebagai pendingin alami bagi para pelanggan. 

Dukungan juga datang dari para pegiat lingkungan yang menolak penebangan pohon. Sebagian dari mereka adalah anggota Forum Komunitas Hijau (FKH). Mereka menyilangkan dua tangan yang menyerupai huruf X sebagai bentuk penolakan penebangan pohon. Aksi mereka kemudian disebarkan ke media sosial. Para pedagang di bawah pohon itu merasa bahwa mereka tidak sendiri.

Namun suatu pagi, dibuatlah pertemuan antara tokoh masyarakat yang juga anggota DPRD Kota Gorontalo bersama para pegiat lingkungan dan FKH; difasilitasi oleh dinas terkait dari Pemerintah Kota Gorontalo. Terjadilah perdebatan; pegiat lingkungan tetap menolak pohon ditebang sementara tokoh masyarakat itu setuju dengan pemerintah kota yang harus menebang pohon sebagai dalih pembangunan jalan. Rupanya beberapa saat kemudian beredar surat persetujuan penebangan pohon yang dikeluarkan oleh kelurahan setempat yang ditandatangani oleh warga. 

“Kami ikut tanda tangan surat persetujuan penebangan pohon,” kata kedua pedagang tadi. 

Menolak penebangan pohon di Jalan Madura, Liluwo, Kota Tengah. Foto: Dokumentasi FKH.

Festival (agak) Hijau

Jumat, 8 November 2019. Setelah mendengar kepastian bahwa pohon itu tetap akan ditebang, para pegiat lingkungan membuat Festival (agak) Hijau sebagai sebuah satir kepada Pemerintah Kota yang setiap tahunnya menggelar Festival Hijau. Festival Hijau untuk tahun 2019 sendiri baru akan digelar pada hari Sabtu, 23 November 2019 dirangkaikan dengan Hari Tata Ruang Nasional. Kegiatannya berupa Retail Hijau, Lorong Inovasi, Kantor Hijau, Lomba Wall Art, dan Rangking 1. 

Sementara Festival (agak) Hijau yang digelar tepat di bawah pohon rimbun itu berupa pembacaan puisi sambil mengangkat pamflet kertas berisi kritikan, dan diiringi petikan gambus dari musisi yang juga menolak penebangan pohon. Kegiatan itu merupakan kolaborasi Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Gorontalo, Huntu Art Distrik (Hardisk), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, Salam Puan, Wire-G dan Kelompok Studi Lingkungan Mahasiswa Arsitektur UNG. 

”Sejak awal kami semua sudah sepakat berada di posisi yang menyatakan tidak setuju dengan penebangan pohon,” kata Sri Sutarni Arifin dari FKH, seusai melaksanakan Festival (agak) Hijau.

Di Jalan Madura sendiri oleh FKH sudah didesain sebagai kawasan jalur hijau. Sejak tahun 2016, menurut Sri sudah sekitar 20-an pohon yang ditebang. Belum lagi ditambah penebangan pohon di tahun 2019. Sebenarnya hal ini tidak akan menjadi masalah besar bila Pemerintah Kota Gorontalo, setiap melakukan penebangan pohon untuk kepentingan pelebaran jalan tersebut harus diawali dengan kajian lingkungan, dan pengganti pohonnya harus setara.

“Saya sudah pernah konfirmasi ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Gorontalo, mereka mengatakan bahwa tidak ada dokumen lingkungan yang mengawali pelebaran jalan ini,” kata Sri.

Setelah penebangan pohon di Jalan Madura itu, saya dan dua orang teman wartawan lainnya mencoba menghubungi pihak terkait melalui sambungan telepon, tapi tidak berhasil mendapat tanggapan. Kami lalu mendatangi kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Pekerjaan Umum Kota Gorontalo tiga hari kemudian untuk menanyakan peristiwa tersebut. Namun saat itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup ke luar daerah. Kami lalu diarahkan untuk mewawancarai Kepala Bidang Pertamanan dan Konservasi Sumber Daya Alam, Haslinda Susila.  

Menurut Haslinda, penebangan pohon itu sudah sesuai pertimbangan teknis. 

“Kita telah mempertimbangkan terkait penebangan pohon ini, memang harus ditebang. Karena berada di area pelebaran jalan. Namun pohon itu akan tetap diganti, Dinas PU sudah menghimbau soal itu.”

Haslinda mengatakan, penebangan itu sudah sesuai kesepakatan bersama. Bahkan masyarakat dan pedagang di sekitar pohon tersebut telah menandatangani surat pernyataan penebangan pohon itu.

“Masyarakat di situ sudah membuat pernyataan bahwa pohon ini sudah berbahaya dan harus ditebang. Masyarakat sendiri yang minta. Dan herannya, kenapa FKH ngotot bahwa pohon itu jangan ditebang?” tegas Haslinda.

Haslinda mengakui, bahwa selama ini jika ada pelebaran yang harus mengorbankan pohon tidak disertai dengan kajian lingkungan. 

“Namun, tetap akan diganti setiap pohon yang telah ditebang. Kalau tidak dikasih pohon, siapa yang rugi? Ini kan untuk kepentingan pohon. Kita sudah ajukan untuk perlindungan penebangan pohon ke Wali Kota Gorontalo agar dibuatkan perdanya.” 

Saya berupaya mencari pendapat lain dari Kepala Dinas PU Kota Gorontalo di hari yang sama. Berdasarkan perintah Kepala Dinas melalui sekretaris pribadinya, kami diarahkan agar menemui Kepala Bidang Cipta Karya. Namun ketika bertemu dengan kepala bidang itu, justru menyuruh balik agar kami menanyakan kepada kepala dinas. 

“Ibu Kepala Dinas yang lebih paham untuk ditanyakan soal itu.” 

Seperti diketahui, sebelumnya pada tahun 2016 Pemerintah Kota juga melalui instansi terkait melakukan penebangan pohon di jalur yang sama dan ramai oleh protes FKH dan juga pegiat lingkungan. Koordinator FKH Kota Gorontalo, Rahman Dako, saat itu mengatakan bahwa jumlah ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Gorontalo masih minim. Yang ada hanya seluas 582,19 hektare, yang terdiri dari RTH publik (568,78 hektare) dan RTH privat (13,41 hektare). Masih dibutuhkan 1.791,78 hektare lagi untuk memenuhi persyaratan yang diwajibkan oleh Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007, setiap daerah harus memiliki RTH minimal 30 persen.

“Kalau melihat kondisi sekarang dengan masih banyak terjadi penebangan pohon, maka angka-angka dan datanya tidak banyak berubah,” ujar Rahman Dako. 

Festival (agak) Hijau yang dibuat sebagai satir untuk menolak penebangan pohon. Foto: Apriyanto Rajak.

Festival Peluk Pohon

Setelah membuat satir Festival (agak) Hijau, para pegiat lingkungan yang menolak penebangan pohon di Jalan Madura yang sebenarnya sudah didesain sebagai jalur hijau, membuat aksi serupa. Kali ini dalam rangka Hari Pohon se Dunia, mereka membuat satir Festival Peluk Pohon. 

Kegiatan ini digagas oleh Biodiversitas Gorontalo (Biota). Tepat di Hari Pohon se Dunia, Kamis 21 November 2019, di SMA Negeri 2 Limboto. Puluhan siswa siswi duduk melapak di halaman sekolah. Awalnya mereka mendengarkan materi yang disampaikan oleh salah satu anggota Biota, Fachriany Hasan, tentang pentingnya pohon untuk makhluk hidup, terutama bagi manusia. Selain menjelaskan materi, juga memberikan beberapa kuis tentang jenis-jenis pohon: bila menjawab dengan benar akan diberi hadiah sebuah botol tumbler.

Festival Peluk Pohon ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan oleh Biota. Dengan harapan para siswa-siswi ini, selain sudah bisa mengenal jenis-jenis pohon, juga mempunyai kesadaran bahwa dari satu batang pohon bisa menyelamatkan banyak unsur di alam ini.

Fachriany mengungkapkan, kadangkala kita hanya menanam pohon dan merawatnya. Akan tetapi tidak mau untuk menjaga. Akibatnya setelah besar orang lain yang kemudian menebang pohon itu. 

“Jadi makna memeluk pohon ini, apa yang kita tanam, harus dijaga, dan merawatnya.”

Menurutnya fungsi pohon bagi kehidupan manusia sangat banyak. Di antarnya; menghasilkan oksigen, menghasilkan air yang bersih, menjaga iklim, meningkatkan kemampuan berpikir, mengendalikan suhu dan kelembapan, menjaga kesuburan tanah, mengurangi dan menjaga erosi pantai, serta sebagai habitat bagi margasatwa.

Ia menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat di Gorontalo yang belum punya kesadaran tentang pentingnya pohon. Mereka beranggapan jika pohon yang berukuran besar itu akan merusak dan berbahaya. Dengan alasan itu, banyak kemudian pohon yang menjadi korban penebangan.

“Jika kita menghitung berapa rupiah yang bisa pohon berikan melalui oksigen, jawabannya adalah ratusan miliar rupiah per tahun. Itu jika oksigennya berbayar, namun sampai sekarang ini kita menghirupnya dengan gratis karena jasa pohon-pohon.”

Sebagai aksi peluk pohon, siswa dan guru menyebar ke seluruh bagian sekolah dan masing-masing memilih satu pohon untuk dipeluk. Pelukan tersebut bermakna sebagai ungkapan rasa cinta kepada pohon serta berniat untuk selalu menanam, merawat dan menjaga pohon agar tidak ditebang.

Direktur Biota Debby Mano mengatakan Festival Peluk Pohon tak hanya diikuti oleh siswa SMAN 2 Limboto, namun dapat diikuti oleh seluruh warga Gorontalo. Caranya adalah dengan mengunggah foto sedang memeluk pohon melalui akun media sosial masing-masing.

“Dengan cara ini kami ingin menggugah kesadaran bersama, bahwa pohon memiliki banyak kontribusi pada kehidupan manusia. Kita sudah terlalu banyak kehilangan pohon karena pembangunan infrastruktur, kebakaran hutan, pembalakan liar hingga karena gaya hidup,” katanya.

Biodiversitas Gorontalo memperingati Hari Pohon se Dunia dengan cara membuat Festival Peluk Pohon. Kegiatan ini bermula dari penebangan pohon yang terjadi di Kota Gorontalo. Foto: Dokumentasi BIOTA.

 

Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Limboto Ben Mulyono Rauf, mengatakan pihaknya mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan dengan cara menghijaukan sekolah. 

“Kami selalu menambah jumlah pohon yang ada dan juga melibatkan siswa untuk merawatnya,” ungkap Ben.

Sekolah yang pernah meraih juara pertama Sekolah Adiwiyata Nasional pada tahun 2017 itu, juga memiliki sistem pemilahan sampah, pembuatan pupuk kompos, manajemen bank sampah hingga beternak ayam kampung. Sehingga kegiatan yang digelar oleh Biota selaras dengan penghargaan Adiwiyata yang diterima oleh pihaknya sebagai sekolah lingkungan.

Festival Peluk Pohon ini terus berlangsung hingga tanggal 23 November 2019 dengan melibatkan banyak peserta. Pesertanya tidak hanya rakyat biasa. Bahkan hingga pejabat pemerintahan strategis. Mereka mengunggah berbagai pose mereka yang memeluk pohon di media sosial sebagai tanda bahwa mereka juga mencintai pohon. 

Tapi benarkah demikian? Selamat Hari Pohon se Dunia. Semoga tak banyak lagi pohon-pohon yang tumbang demi pembangunan.*** 

Related posts

Rafiq dan Penolakan Pasien Corona 44

Admin

Suara Leni Husain di Hari Kemerdekaan

Admin

Dari Donasi untuk Operasi Rafli

Admin

Leave a Comment