Image default
Feature/Indepth Mantra

Melampaui Primitivisme: Narasi Entitas Masyarakat Pribumi

Oleh: Tarmizi “Arief” Abbas

Mahasiswa Prodi Centre for Religious and Cross-cultural Studies, UGM, Yogyakarta

 

Primitivisme sebagai sebuah konstruk intelektual itu bermata ganda. Pertama, kata itu digunakan untuk mencirikan peradaban Eropa sepanjang sejarah mereka terhadap masyarakat pribumi dalam periode kolonialisme di wilayah-wilayah non-Eropa. Pertemuan di antara keduanya cenderung mengedepankan dominasi alih-alih dialog: Eropa merasa perlu “memperadabkan” masyarakat pribumi lewat standar dan cara mereka. Kedua, primitivisme bermakna positif dan muncul dengan nama neo-primitivisme pada tahun 1960-an sebagai usaha dalam merekonstruksi primitivisme lama sekaligus mengkritiknya.

Jantung argumen primitivisme baru dilihat sebagai upaya untuk merekonfigurasi primitivisme lama sebagai daras untuk memahami awal-awal kejayaan Amerika. Sedang neo-primitivisme sebagai kritik menjadi sebuah jalan untuk memahami budaya non-Eropa wabilkhusus di dalam seni, lalu belakangan diikuti oleh studi agama di Amerika.

Meskipun demikian, neo-primitivisme sebenarnya tidak lebih berpengaruh dari primitivisme lama. Sebab neo-primitivisme ini baru berkembang belakangan, sedangkan primitivisme lama telah mengeras selama berabad-abad dan diterima sebagai konstruk intelektual yang mencirikan kultur masyarakat pribumi, lebih-lebih ketika evolusionisme memperoleh panggung di pertengahan abad ke-19 sampai saat ini.

Neo-primitivisme tidak lebih daripada sebuah ilusi yang mencerminkan masyarakat pribumi sebagai bagian dari sejarah awal pembentukan pemikiran Amerika dari awal menuju kesempurnaannya pada saat ini. Hanya pada bentuknya sebagai kritik di dalam seni dan studi agama, neo-primitivisme menjadi lebih positif dengan alasan yang lebih representatif terhadap praktik dan kebudayaan masyarakat pribumi. Sayang, dua bentuk neo-primitivisme ini juga tidak bisa melepaskan etnosentrisme dalam memahami praktik dan kebudayaan masyarakat pribumi.

Dalam pandangan Armin W. Geertz (2004), seorang profesor studi agama dari Universitas Aarhus, Denmark, kedua bentuk primitivisme (lama maupun baru) harus diruntuhkan. Di dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Can We Move Beyond Primitivism? ”Geertz menyatakan: “hanya dengan meruntuhkan primitivisme dan menggantinya dengan ‘ide masyarakat pribumi’, masyarakat pribumi bakal mendapat tempat yang lebih adil di mata dunia”, lewat “ide masyarakat pribumi”.

Geertz tidak hanya bertujuan untuk mengeluarkan masyarakat pribumi dari epifani gelap etnosentrisme Eropa, melainkan juga melakukan dekonstruksi besar-besaran terhadap proyek pengetahuan Barat yang cenderung mengeksklusi praktik dan keyakinan masyarakat pribumi lewat proyek revitalisasi radikal terhadap bangunan pengetahuan di Abad Pencerahan. Tulisan ini kemudian menjadi pembuka dalam buku kompilasi berjudul Beyond Primitivism: Indigenous Religious Traditions and Modernity(Routledge, 2004).

Saya simpati kepada Geertz. Namun demikian, gagasan ini membutuhkan lebih dari sekadar asosiasi sarjana Barat dan non-Barat dalam meruntuhkan primitivisme sebagai paham yang telah diterima secara universal dan diwariskan turun-temurun. Sebaliknya, apa yang paling mungkin untuk dilakukan adalah mengajukan pembacaan alternatif dalam menempatkan masyarakat pribumi lebih adil. Salah satu model pembacaan ini diajukan oleh Walter D. Mignolo dan Catherine Walsh, di dalam On Decoloniality Concepts, Analytic, Praxis(2018). Di dalam karya tersebut Migonolo dan Walsh mengajukan tiga argumen penting untuk menarasikan praktik masyarakat pribumi sesuai dengan apa yang mereka praktikkan, yakni Decoloniality, Delinking, dan Border Thinking.

Primitivisme sebagai Kronologi dan Kultur

Primitivisme pertama kali diperkenalkan oleh Paul Gaugin, seorang seniman asal Tahiti (1848-1903) pada abad ke-19 sebagai sebuah konstruk intelektual dalam seni rupa untuk merujuk praktik-praktik masyarakat pribumi, wabilkhusus yang berada di daerah-daerah Afrika, Pasifik, Aborigin, berikut suku-suku terdalam pada periode pra sejarah sebagai bentuk kebudayaan paling awal. Akan tetapi, definisi ini datang belakangan setelah primitivisme berperan penting dalam pengetahuan Abad Pencerahan.

Sebelumnya, kata primitif (dalam bentuk adjektiva) sudah sering digunakan oleh kolonial Eropa abad pertengahan untuk menyebut praktik masyarakat pribumi jajahan sebagai sesuatu yang eksotik, berbeda, namun tidak beradab (Friedman, 1983). Alhasil, pengasosiasian kata “primitif” dengan “praktik masyarakat yang tidak berperadaban” memiliki konsekuensi untuk mencirikan kebudayaan Eropa sepanjang sejarah sebagai sebuah entitas yang berperadaban.

Salah satu dokumen penting yang merangkum sejarah primitivisme ditulis oleh Arthur Lovejoy dan George Boas dengan judul “A Documentary History of Primitivism and Related Ideas”, dipublikasikan pada tahun 1930 oleh Universitas John Hopkins. Buku ini ditulis dengan cara yang tendensius dan diliputi prasangka negatif, bahwa secara esensial, primitivisme adalah sebuah “kekhawatiran orang-orang beradab dalam memaknai penampilannya, pandangan-pandangannya, bahkan dirinya sendiri di masa lampau [paling awal]” (Geertz, 2004). Proyek ini lalu dilanjutkan pada tahun 1935, dengan judul Primitivism and Related Ideas in Antiquity.

Semula, buku ini direncanakan terbit dalam empat jilid. Sayang, akibat Perang Dunia ke-II yang terjadi di tahun 1939, proyek ini dihentikan. Di tahun 1948, tanpa Lovejoy, Boas melanjutkan proyek ini seorang diri dengan judul Essays on Primitivism and Related Ideas in the Middle Ages.

Di dalam esai tersebut, Boas menyebut sekurang-kurangnya ada dua bentuk primitivisme. Pertama, yakni primivitisme kronologis, adalah sebuah catatan yang menceritakan tentang asal-usul praktik, kebudayaan, cara pandang, moral dan etika, manusia paling awal (Boas, 1966). Primitivisme kronologis ini berisi sejarah, pengetahuan, dan asumsi-asumsi teoritis atas kejadian di masa lampau, sebagai pijakan penting untuk melihat evolusi pemikiran manusia saat ini, serta memungkinkan untuk melakukan prediksi-prediksi terhadap kejadian di masa depan. Jadi, primitivisme kronologis digunakan untuk melihat masa lampau sebagai sebuah penemuan dari masa depan yang “wajib ada” untuk merumuskan perkembangan peradaban manusia.

Kedua adalah primitivisme kultural, yakni berisi deskripsi tentang kondisi hidup masyarakat yang sangat kuno, barbarik, dan jauh dari keindahan (Boas, 1966). Argumen primitivisme kultural ini berjangkar pada ketertarikan Boas untuk merumuskan apa yang dimaksud sebagai “eksotis” dengan menggunakan masyarakat pribumi sebagai perbandingan. Dengan mengandaikan masyarakat primitif sebagai entitas yang “nir-eksotis”, Boas menempatkan kondisi manusia saat ini lebih modern dan rasional.

Lebih lanjut, primitivisme kultural ini dibagi dalam dua bentuk. Pertama, primitivisme halus (soft cultural primitivisme), yakni sebuah kondisi masyarakat yang bergantung pada emosi dan insting alih-alih aturan dan alat-alat produksi. Sedang kedua yakni primitivisme keras (hard cultural primitivism), berisi tentang etika penolakan, penghematan, kemiskinan, dan kedisiplinan (Boas, 1966). Dua penjelasan ini menjadi fundamen penting yang digunakan oleh para pemikir setelahnya untuk menjelaskan primitivisme sebagai sebuah kajian terhadap orang-orang terdahulu.

Nature dan Keadaan Natural

Pembahasan tentang primitivisme juga tidak bisa keluar dari argumen tentang apa yang disebut sebagai natureatau “yang alami” dan the state of nature atau yang disebut sebagai “keadaan alamiah” (Boas A. L., 1930). Lovejoy dan Boas (1930) mendefinisikan nature dalam beberapa arti yang keseluruhannya telah ada dalam pembahasan filsafat kealaman (natural philosophy) yakni: karakter objektif, validitas universal, tatanan kosmik, asal-usul kehidupan, serta intuisi manusia.

Sedangkan the state of nature merujuk pada kondisi masyarakat primitif yang melahirkan berbagai praktik dan kebudayaan melalui hasil interaksi mereka dengan alam sekitar: komunalisme sebagai keadaan alamiah dari ekonomi masyarakat primitif; poligami sebagai keadaan alamiah dari pernikahan; vegetarianisme sebagai keadaan alamiah pangan; anarkisme sebagai keadaan alamiah dari tindakan; dan humanisme kelompok sebagai keadaan alamiah dari etika antar sesama.

Dalam bentuk yang lebih ekstrim, keadaan alamiah ini dijelaskan lebih oleh Lovejoy dan Boas (1930) sebagai theriophily atau animalitariansme, atau sebuah gagasan yang berkaitan di dalam subjek pembahasan ekologi dengan asumsi bahwa kehidupan binatang secara umum lebih superior ketimbang manusia. Binatang terlihat lebih normal, alamiah, dan lebih beruntung dari manusia. Kesimpulan yang diambil oleh Lovejoy dan Boas ini berdaras dari produk pengetahuan Abad Pencerahan—yang memang sedari awal menyebut kehidupan masyarakat non-Barat sebagai primitif.

Lebih lanjut theriophily menjadi semacam anti tesis dari intelektualisme yang menggambarkan kondisi masyarakat tidak berpengetahuan (Boas A. L., 1930). Bahkan bagi keduanya, keadaan alamiah ini adalah penjelasan paling logis dalam primitivisme untuk menarasikan kehidupan barbarisme masyarakat primitif. Sebaliknya bagi Geertz (2004), theriophilia justru ini adalah momok yang sepenuhnya berisi tentang penghinaan diri manusia, alih-alih menarasikan hubungannya dengan alam sekitarnya sebagai sebuah jalinan erat yang salih membutuhkan satu sama lain.

Lagi-lagi, problem utama yang diajukan Lovejoy dan Boas di dalam primitivisme, bagi Geertz, adalah keduanya menggunakan standar pengetahuan dan kondisi manusia di abad ke-20 (yang mereka sebut sebagai modern) untuk menarasikan praktik dan kebudayaan masyarakat paling awal. Bahkan bagi Geertz (2004), ketika Lovejoy dan Boas membicarakan tentang konstruk kebudayaan masyarakat awal, mereka tidak pernah terlibat langsung dengan kehidupan masyarakat pribumi, melainkan hanya melakukan penelusuran terhadap catatan-catatan yang diwariskan oleh kolonial Eropa.

Evolusionisme

Dari seluruh perkembangan primitivisme sebagai konstruk intelektual yang pejoratif, Geertz menyebut, yang paling parah terjadi ketika menyeruaknya teori evolusi yang dirumuskan oleh Darwin di abad ke 19 lewat magna opusnyayang berjudul The Origin of Species (1859) (Geertz, 2004). Dengan menjadikan primitivisme sebagai pijakan dalam struktur perkembangan masyarakat awal, karya Darwin menjadi daras penting dalam proses pembentukan ideologi kapitalisme, kolonialisme, dan rasialisme saintifik.

Di dalam biologi, para ahli menggunakan argumen Darwin sebagai daras untuk menjelaskan teori genetika dan untuk menjawab pertanyaan mengapa manusia bisa bertahan dan beradaptasi sampai dengan saat ini. Lebih dari itu, pikiran-pikiran Darwin berhasil mengguncang pandangan tradisional gereja, wabilkhusus di dalam argumen penciptaan (teleologi dan kreasonisme) dan keajaiban-keajaiban (miracles)—yang keduanya disokong oleh dogma gereja (Geertz, 2004).

Dalam kaitannya terhadap praktik dan kebudayaan masyarakat pribumi, evolusionisme Darwin berkait-kelindan dengan sejarah umat manusia, wabilkhusus untuk melihat bagaimana transmisi pengetahuan yang bergulir di dalam peradaban awal umat manusia (Geertz, 2004). Dalam perkembangan selanjutnya, imajinasi manusia modern tentang masa lalu ini merembesi subjek kajian antropologi yang melahirkan E.B Tylor dan James Frazer, wabilkhusus dalam subjek pembahasan tentang asal muasal dan perkembangan agama di dalam peradaban manusia awal, yakni animisime sebagai bentuk awal, diikuti oleh politeisme dan monoteisme yang masing-masing pada posisi kedua dan ketiga.

Sayangnya, kekaguman pada sejarah awal ini tidak diikuti oleh intensi untuk merumuskan historiografi kehidupan manusia yang berbasis pada kebudayaan, agama, dan sejarah-sejarah dalam perspektif mereka sendiri. Sebaliknya, hal ini sekadar dituntun oleh rasa penasaran untuk “menemukan masa lalu” (Geertz, 2004).

Akan tetapi, apa yang disebut sebagai masyarakat primitif sebenarnya hanyalah ilusi yang diciptakan untuk menyokong kepentingan politik kolonial. Pandangan ini dikemukakan oleh Adam Kuper dalam bukunya yang berjudul The Invention of Primitive Society (1988) dengan alasan bahwa temuan-temuan Tylor dan Frazer tidak hanya mengingkari prinsip etnografis, tetapi  juga untuk mendukung proyek kolonialisme, domestifikasi, dan ideologi tertentu.

Kuper juga melebarkan temuannya kepada para sarjana reduksionis lainnya seperti Engels, Freud, Durkheim, Marx, dan Kropotkin dan seluruh komentator Amerika tentang apa yang disebut sebagai masyarakat primitif dilatarbelakangi agenda-agenda politik. Misalnya subjek pembahasan tentang perbudakan di kasus The Morant Bay Rebellion di Jamaika dan Perang Sipil di Amerika, menciptakan sejumlah pertanyaan, apakah manusia pada dasarnya terdiri dari ras dengan leluhur yang berbeda, sehingga harus diklasifikasikan “siapa yang menjadi budak” dan “siapa yang menjadi aristokrat”.

Neo-Primitivisme: Ilusi dan Kultur Tandingan

Awal abad ke-20 adalah satu fase penting di mana primitivisme kembali mendapat tempat untuk dibicarakan dalam konstruk pengetahuan masyarakat Barat. Setidaknya, ada dua perkembangan penting terkait primitivisme saat itu. Pertama adalah kebangkitan Primitivisme Amerika yang dirumuskan oleh pemikir seperti R.W.B Lewis (1917-2002) dengan nama “American Adam” atau “Illussion of innoncence” oleh Richard T. Hughes  dan C. Leonard Allen.

Persamaan mendasar dari gagasan tentang Primitivisme Amerika ini berjangkar pada satu argumen bahwa primitivisme adalah basis utama untuk menjelaskan rumusan konsep negara-bangsa Amerika Serikat di sepanjang abad ke-18 dan 19 berikut perkembangan pengetahuan mereka, bahkan sampai dengan saat ini.

Bagi Lewis, primitivisme Amerika dapat dilihat sebagai kehidupan dan sejarah yang baru saja terjadi. Ini jelas membedakannya dari primitivisme lama yang bersumber dari sejarah paling awal umat manusia. Primitivisme harus dilihat sebagai mitos yang mendasari kebangkitan figur-figur penting dalam usaha untuk merumuskan Amerika, sebagaimana pernah dilakukan oleh masyarakat pra-sejarah Amerika dengan segudang cerita tentang dewa dan kekuatan super.

Dari sini terlihat bahwa primitivisme Amerika ala Lewis tidak ingin menarasikan sudut pandang praktik dan kebudayaan masyarakat awal, melainkan lebih menekankan pada potensi mitos yang dikandung oleh primitivisme untuk merumuskan konsep negara-bangsa Amerika. Tidak jauh berbeda dengan Lewis, Hughes dan Allen hanya menambahkan pandangan bahwa primitivisme Amerika adalah “sebuah mercusuar yang menciptakan [menggiring, tambahan dari AA] kemapanan masyarakat Amerika menuju kesempurnaan” (Geertz, 2004).

Meskipun demikian, bagi Geertz (2004), kontribusi Lewis, Hugh, dan Allen ini sama sekali tidak memberi penjelasan yang baru dan lebih representatif di kalangan masyarakat pribumi Amerika. Sebaliknya, primitivisme Amerika adalah ilusi yang sepenuhnya tidak berdasar pada fakta sejarah.

Kritik Geertz pertama dialamatkan kepada Lewis, yang membayangkan bahwa Amerika adalah sebuah entitas tunggal. Lewis, sebagaimana dijelaskan oleh Geertz, abai terhadap fakta bahwa Amerika pernah punya sejarah kolonial dan rasialisme yang kelam dan mengeras hingga saat ini. Kedua, kritik ini ditujukan kepada Hugh dan Allen, bahwa primitivisme Amerika sebagai muasal kemapanan Amerika saat ini juga gagal melihat bahwa sepanjang sejarah, masyarakat pribumi Amerika wabilkhusus Meksiko, Indian, dan Afro-Amerika, pernah diusir dari tanah leluhur mereka sendiri karena memiliki tradisi dan kepercayaan yang berbeda dari ajaran Kristen.

Di lain sisi, perkembangan pengetahuan seperti kesenian dan studi agama di Amerika juga menggunakan neo-primitivisme. Namun dalam hal ini, neo-primitivisme dilihat sebagai cara yang baru dalam mendefinisikan praktik dan kebudayaan masyarakat pribumi sesuai dengan apa yang mereka persepsikan.

Para seniman melihat neo-primitivisme sebagai ekspresi keindahan yang datang dari akal budi peradaban manusia awal. Pablo Picasso dalam lukisannya berjudul Demoiselless D’Avignon(1907) yang terinspirasi dari Taring Afrika adalah salah satu yang terkenal. Sedangkan dalam studi agama, neo-primitivisme dilihat sebagai bentuk kepercayaan paling awal dari masyarakat pribumi.

Salah satu tokoh yang paling berpengaruh pada zaman ini adalah Mircia Eliade yang memperkenalkan terminologi “yang sakral” dan “yang profan” lewat The Sacred and the Profane(1957) sebagai sebuah tanda bahwa pada kondisi primitif sekalipun, manusia adalah homo religiosus, atau tipe manusia yang hidup pada satu alam yang sakral dengan nilai keagamaan tertentu dan dapat menikmati kesucian yang tampak pada alam semesta, alam materi, tumbuhan, hewan dan manusia.

Sayangnya, bagi Geertz (2004), neo-primitivisme yang diadvokasi oleh teolog, kesenian dan studi agama ini juga bermasalah. Problemnya sederhana dan tidak jauh-jauh dari warisan pengetahuan yang dibangun pada era sebelumnya: evolusionisme dan etnosentrisme.

Decoloniality, Delinking,dan Border Thinking: Pentingnya Narasi

Apa yang telah ditampilkan pada poin-poin sebelumnya adalah penjelesan bagaimana primitivisme sebagai sebuah konstruk intelektual terbentuk dengan tendensi untuk mencerminkan praktik dan kebudayaan masyarakat pribumi sebagai sesuatu yang pejoratif. Pun dalam bentuk selanjutnya, yakni neo-primitivisme yang muncul sebagai bentuk kritik terhadap primitivisme lama, juga tidak bisa memberi jalan keluar bagi masyarakat pribumi.

Apa yang diharapkan Geertz sebagai solusi juga tidak mudah. Geertz memiliki tendensi untuk melakukan dekonstruksi besar-besaran terhadap bangunan pengetahuan di Abad Pencerahan sebagai sebuah fase paling penting dalam kemunculan primitivisme sebagai sebuah ideologi dan pengetahuan yang gagal menarasikan masyarakat pribumi.

Bagi saya, Geertz cenderung tendensius dan memaksakan kehendaknya. Merombak tatanan pengetahuan di Abad Pencerahan adalah hal yang mustahil. Asbab bangunan pengetahuan yang dirumuskan di masa itu membutuhkan tenaga yang besar seturut dengan berkembangnya kolonialisme di wilayah-wilayah non-Eropa dengan dominasi dan misi pemeradaban.

Selain itu, dengan mengajukan klaim tersebut, Geertz seolah menafikkan upaya para pemikir kontemporer dalam bidang antropologi, sosiologi, pascakolonial, politik, bahkan studi agama (seperti dirinya), yang telah berusaha sebisa mungkin untuk merekonstruksi cara pandang klasik tentang kondisi masyarakat pribumi agar lebih representatif saat ini. Untuk itu, memberikan alternatif pembacaan yang lebih inklusif terhadap praktik dan kebudayaan masyarakat pribumi yang selama ini didominasi oleh pengetahuan kolonial adalah hal yang lebih penting saat ini.

Di titik inilah pikiran-pikiran Walter D. Mignolo dan Catherine Walsh menemukan relevansinya. Di dalam On Decoloniality: Concepts, Analytics, Praxis, keduanya mengajukan sekurangnya tiga cara untuk menarasikan pengetahuan masyarakat pribumi secara lebih objektif, yakni dengan melakukan dekolonial, delinking, dan border thinking. Yang dimaksud dengan dekolonial, bagi Mignolo dan Walsh (2018), adalah “membebaskan pengetahuan” masyarakat jajahan dari dominasi pengetahuan penjajah.

Apa yang dimaksud dengan “membebaskan pengetahuan” di sini bukanlah mengganti aktor-aktor yang berperan penting dalam menjaga pengetahuan masyarakat jajahan, seperti institusi politik, militer, Eropa dan Amerika. Sebaliknya, tujuan utama dari dekolonial adalah melepaskan seluruh bentuk ideologi dan pengetahuan kolonial dan modern yang memengaruhi pengetahuan masyarakat lokal.

Spirit dekolonial akan sendirinya membawa pada apa yang dimaksud oleh Mignolo dan Walsh dengan delinking. Asbab setelah pengaruh pengetahuan kolonial dapat dilepaskan (delink) dari masyarakat jajahan, di saat itulah misinterpretasi terhadap praktik dan kebudayaan mereka dapat diatasi. Lebih dari itu, delinkingakan selalu membayangkan re-linking, atau “menghubungkan kembali” pengetahuan tentang masyarakat jajahan yang berangkat langsung dari persepsi mereka sendiri: cara hidup, pikiran-pikiran, sikap dan bahasa.

Dalam proses menghubungkan kembali pengetahuan masyarakat pribumi, bagi Mignolo dan Walsh, delinkingharus diikuti oleh Border Thinking yang, ujar Mignolo dan Walsh (2018), “adalah berpikir dari luar, menggunakan tradisi pengetahuan alternatif dan ekspresi bahasa alternatif yang hidup”.Maksud dari kalimat “yang hidup” di sini merujuk pada ekspresi masyarakat pribumi yang selama ini tereksklusi dari produksi pengetahuan yang disebabkan oleh modernitas/kolonialisme (Walsh, 2018).

Dengan demikian, apa yang dipaparkan di atas, sebetulnya sederhana: masyarakat pribumi lebih membutuhkan “narasi” ketimbang “visi”. Visi mengandaikan bahwa keseluruhan wilayah dari masyarakat pribumi yang pernah mengalami penjajahan hanya dapat dilihat secara panoptik, atau subjek yang diawasi. Sebagai panoptikon, pada akhirnya pengetahuan masyarakat pribumi melahirkan sistem esensialisme sinkronik yang statis.

Mereka didefinisikan, didikte, dan dikarakterisasikan tidak lewat diri mereka sendiri, melainkan lewat mata subjek yang berkuasa. Sebaliknya, “narasi” menawarkan sebuah sudut pandang, perspektif, dan kesadaran yang berlawanan terhadap visi. Narasi memberi ruang kepada masyarakat pribumi, yang selama ini dianggap “yang lain”, untuk menceritakan praktik dan kebudayaan mereka sesuai dengan apa yang mereka persepsikan.***

 

References

Boas, A. L. (1930). A Documentary History of Primitivism and Related Ideas.New York: Duke University Press.

Boas, G. (1966). Essays on Primitivism and Related Ideas in the Middle Ages.New York: Octagon Books, Inc.

Bower, P. J. (2003). Evolution: The History of an Idea(3rd ed.). London: University of California Press.

Friedman, J. (1983). Civilizational Cycles and the History of Primitivism. Social Analysis: The International Journal of Anthropology, 31-52.

Geertz, A. W. (2004). Can We Move Beyond Primitivis? On Recovering the Indigenes of Indigenous Religions in the Academic Study of Religion. In J. K. Olupona, Beyond Primitivism: Indigenous Tradition and Modernity(pp. 37-70). New York: Routledge.

Kuper, A. (1988). The Invention of Primitive Society: Transformation of an Illusion.New York: Routledge.

Olupona, J. K. (2004). Beyond Primitivism: Indigenous Traditions and Modernity.New York: Routledge.

Walsh, W. D. (2018). On Decoloniality: Concepts, Analytics, Praxis.United States of America: Duke University Press.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts

Kantin Kejujuran dan Moralitas Bangsa yang Gagal

Admin

Membaca Bilik-bilik Kehidupan Si Anak Hilang

Admin

Rizal Misilu, Si Anak Hilang

Admin

2 comments

Tentang (Melampaui) Primitivisme: Tanggapan untuk Tarmizi “Arief” Abbas - lipunaratif.com July 6, 2020 at 12:50 pm

[…] tulisan berjudul: Melampaui Primitivisme: Narasi Entitas Masyarakat Pribumi, Arif berhasil mengajak kita jalan-jalan di rimba pengetahuan, dengan menarasikan begitu apik […]

Reply

Leave a Comment