lipunaratif.com
Image default
Feature/In-depth

Melepas Subsistensi: Potret Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Torosiaje

Ditulis oleh Defri Sofyan.


Torosiaje adalah pemukiman yang mayoritas dihuni oleh Suku Bajo, terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Warga yang mayoritas nelayan gurita itu mulai membudayakan menabung untuk meningkatkan kehidupan ekonomi mereka.

Secara administratif, Torosiaje sekarang telah terbagi jadi tiga desa, yakni Desa Torosiaje Jaya dan Desa Bumi Bahari yang berada di daratan, serta Desa Torosiaje yang berada 600-an meter dari daratan ke perairan Teluk Tomini.

Menggunakan log-log kayu sebagai fondasi, rumah-rumah dan fasilitas publik di Desa Torosiaje dibangun di atas perairan laut dangkal. Semua bangunan dihubungkan oleh jembatan kayu yang berfungsi sebagai jalan.

Luas pemukiman ini sekitar 18 hektare dan ditinggali oleh 1.496 orang. Tidak ada jembatan penghubung ke darat. Satu-satunya cara untuk pergi ke darat ialah menggunakan perahu.

Suku Bajo, Bajau atau Sama telah dikenal dunia sebagai gipsi laut. Selama berabad-abad mereka dikenal sebagai pengembara lautan dan membangun pemukiman-pemukiman terapung sebagai tempat berlabuh.

Namun seiring desakan modernisasi, mereka beradaptasi dan hidup menetap, serta menggunakan uang sebagai alat transaksi jual beli.


Suasana pada siang hari di pemukiman Torosiaje (7-3-2023). Foto oleh Defri Sofyan

Torosiaje konon dihuni pertama kali pada 1901. Namanya diambil dari bahasa Bajo “toro” yang berarti ‘tanjung’ dan “Si Aje” yang merujuk ke julukan dari penetap pertamanya.

Tempat ini dahulu hanya digunakan sebagai tempat persinggahan para pelaut Bajo dari selatan Sulawesi, yang kemudian perlahan berubah jadi pemukiman seperti sekarang.

Karena dianggap unik, pemukiman ini pun banyak disambangi wisatawan, terutama pada akhir pekan dan pergantian tahun.

Selain bermata pencaharian utama sebagai nelayan, warga Torosiaje juga mulai memanfaatkan sektor pariwisata. Namun, pariwisata masih jadi sumber penghasilan minor bagi warga Torosiaje.

Hanya ada sekitar empat penginapan di Torosiaje, yang tidak semuanya dimiliki warga lokal dan rumah tangga nelayan di sana.

Di sisi lain, warga yang berprofesi sebagai nelayan ternyata tidak di posisi setara. Nelayan yang memiliki perahu dan mesin memadai berpotensi lebih besar membawa pulang tangkapan melimpah.

Sebaliknya, nelayan dengan perahu lapuk dan mesin berkarat sesekali harus menggunakan dayungnya, memulung apa saja yang tersisa di lautan di dekat rumah mereka.

Nelayan tangkap tak ubahnya pemburu. Sebab hasil tangkapan ikan tak pasti dan selalu membayangi setiap mereka pergi melaut. Sementara besaran biaya yang harus mereka keluarkan, cenderung naik.

Yang memprihatinkan, nelayan Torosiaje selalu mengandalkan utang untuk ongkos melaut. Dampaknya sangat terasa bagi nelayan kecil. Alih-alih mereka bisa menyisihkan hasil melaut untuk ditabung dan mengembangkan usaha, justru habis hanya untuk melunasi utang.

***

Siang itu di pelataran rumah salah seorang tengkulak besar di Torosiaje, terlihat beberapa orang mulai berdatangan. Saat itu adalah waktu nelayan pulang membawa tangkapannya.

Perahu-perahu dari segala penjuru datang merapat di rumah itu. Isi perahu-perahu itu hampir semuanya sama, terisi dengan gurita.

Sejak 2018, gurita jadi tangkapan favorit nelayan Torosiaje. Saat itu harga gurita per kilogram untuk ukuran 1 kilogram ke atas dihargai per ekor Rp60.000 lebih. Sebagai pembanding, umumnya harga jual ikan pelagis per kilogram hanya Rp30.000 sampai Rp50.000.

Faktor lainnya yang membuat gurita jadi tangkapan favorit, adalah karena mudah didapatkan. Habitat gurita berada di terumbu karang di perairan laut dangkal 5 meteran hingga di laut dalam 5.000 meter. Terumbu karang ini terhampar luas di wilayah tangkapan nelayan Torosiaje.

Selain itu, nelayan Torosiaje adalah tipe nelayan yang memang lebih memilih menangkap biota laut di perairan dangkal.

Menurut data yang dihimpun Japesda (Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam), pegiat lingkungan yang menjalankan program di Torosiaje, hasil tangkapan gurita di Torosiaje pada 2021-2022 mencapai 35.531 kilogram oleh 264 nelayan.

Angka itu cukup besar jika dibandingkan dengan jumlah hasil tangkapan nelaya dua desa lainnya di Sulawesi Tengah, yakni Desa Kadoda dan Desa Uwedikan, yang total hanya 19.385 kilogram gurita.

Gurita-gurita hasil tangkapan nelayan itu diangkut dari perahu ke keranjang, ditimbang, dicatat lalu dibayar saat itu juga.

Tampak raut wajah beberapa nelayan tersenyum puas meskipun sambil mengeluh rasa pegal di sekujur badan. Beberapa nelayan lainnya terlihat pasrah akibat hasil tangkapannya tidak meningkat dari hari sebelumnya.

Nano Tahir, salah seorang nelayan yang wajahnya tampak pasrah. Siang itu dia hanya membawa pulang empat ekor gurita dan hanya mendapatkan Rp81.000. Memang sejak awal 2022 lalu, harga gurita turun hingga setengah harga.

“Ini lumayan, pak. Sudah bisa bayar bensin, beli rokok, beli beras,” ucap Nano setengah tertawa.

Menurut Nano, hari-hari sebelumnya, tak jarang dia mendapatkan hasil tangkapan yang hanya cukup untuk menutupi biaya melaut. Bahkan beberapa kali dia tidak membawa pulang apapun.

Nano Tahir, nelayan gurita Torosiaje sedang menunjukkan seekor gurita hasil melautnya selama delapan jam melaut (8-3-2023). Foto oleh Defri Sofyan.

“Coba lihat ini pak, mesin saya sudah bocor begitu, ini perahunya juga sudah tua. Takut saya kalau pergi jauh-jauh,” ujar Nano sambil menunjukkan mesinnya yang basah akibat rembesan minyak dan perahunya yang sudah lapuk.

Jika masih dekat pemukiman, Nano tak khawatir ketika mesinnya mati, sebab dia masih bisa pulang dengan mendayung.

Ada hal ironi yang disyukuri Nano, yakni dia tak punya anggota keluarga yang harus ditanggung. Sebab, anaknya sudah menikah, dan dia sendiri ditinggal cerai istrinya. Karena itu, penghasilannya hanya untuk biaya hidup diri sendiri.

“Kalau tidak dapat apa-apa, saya terpaksa sabar, tahan lapar saja.”

Meskipun di tengah kondisi serba keterbatasan, Nano masih punya harapan ingin mendapatkan modal untuk membeli pukat. Alat tangkap yang menurutnya bisa meningkatkan pendapatannya.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jambura Geo Education Journal, Universitas Negeri Gorontalo, tercatat masih ada 59,65 % atau 204 dari 342 keluarga nelayan Torosiaje yang pendapatannya di kategori sedang dan rendah atau berpenghasilan di bawah dari Rp2.240.000 per bulan atau setara dengan beras 320 kilogram per tahun.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa banyak nelayan di Torosiaje yang seperti Nano. Mereka harus berjuang setiap hari hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Kondisi ekonomi nelayan Torosiaje bisa dikatakan masih di tahap subsistensi, artinya pendapatan mereka sebagian besar hanya habis untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Meski begitu, banyak juga keluarga nelayan Torosiaje yang pada praktiknya tidak menyerah pada keadaan. Mereka berjuang untuk meningkatkan ekonominya.

Didorong oleh Japesda, sebanyak 50 keluarga nelayan Torosiaje berkumpul membentuk kelompok yang mereka namakan “Sipakulong”.

Pembentukan kelompok memang bukan hal baru bagi nelayan atau warga Torosiaje. Banyak kelompok yang telah dibentuk. Namun satu per satu kelompok-kelompok itu gugur di tengah jalan. Kali ini mereka mencoba kembali dengan langkah yang tidak tergesa-gesa.

“Kami mencobanya dengan membentuk kelompok menabung alih-alih menggunakan nama koperasi, ini adalah pendekatan yang menurut kami tepat,” ujar Jalipati Tuheteru, Staf Lapangan Japesda di Torosiaje.

Jalipati mengatakan warga punya pengalaman buruk dengan kelompok nelayan sebelumnya yang membentuk koperasi. Sehingga, jika menggunakan nama koperasi hanya akan menimbulkan kecurigaan warga.

Selain itu, menabung adalah strategi fundamental untuk diterapkan oleh rumah tangga nelayan Torosiaje.

Di kelompok menabung ini, ada dua jenis tabungan yang diterapkan ke anggota, yakni tabungan wajib Rp10.000 yang disetorkan setiap bulan dan tabungan sukarela. Semua tabungan disimpan di bank menggunakan rekening tabungan kelompok.

Kenapa menabung? Jalipati mengisahkan selama 3 tahun melakukan pendampingan di Torosiaje, di menemukan salah satu masalah umum di rumah tangga nelayan adalah budaya konsumtif.

“Kami pernah menggelar lokakarya, dan di tengah sesi salah seorang warga mempresentasikan pendapatan dan pengeluaran rumah tangganya. Hasilnya pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Setelah diurai item-item pengeluaran berlebih itu ada pada jajan anak. Ini hanyalah salah satu contoh,” Jalipati menjelaskan.

Memang budaya konsumtif bukanlah akar dari kemiskinan rumah tangga nelayan, namun jadi satu hal yang memperburuk kondisi ekonomi.

“Menabung memang sederhana, namun dengan jangka waktu yang panjang ini bisa melatih dan menguji komitmen nelayan yang ingin memperbaiki taraf hidupnya,” Jalipati menambahkan.

Hal lainnya yang mendorong nelayan bergabung dengan kelompok menabung adalah karena mereka tidak memiliki jaminan kesehatan atau tabungan dana darurat.

Tak jarang, ketika mereka mengalami hal buruk yang tak terduga, maka akan kelabakan mencari dana. Dengan menabung, mereka berharap bisa mengantisipasi situasi darurat tersebut.

Mujitio contohnya. Pada 2018 silam dia sakit batu ginjal dan harus menjalani perawatan di rumah sakit dan butuh biaya Rp6 juta. Dia tak punya tabungan dan segan meminjam uang karena memang tak ada jaminan dia akan kembali sehat dan bisa bekerja untuk melunasi utang.

Sosok Mujitio, salah satu nelayan Torosiaje yang pernah menjual perahunya ketika dia jatuh sakit (6-3-2023). Foto oleh Defri Sofyan.

Akhirnya, dia terpaksa menjual perahu, alat produksi satu-satunya yang dia miliki sebagai nelayan. Setelah kembali sehat dia terpaksa meminjam uang di bank untuk membeli perahu.

“Saya pinjam Rp10 juta, Rp6 juta saya belikan perahu, sisanya untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Sampai saat ini utangnya belum lunas, tapi alhamdulillah tinggal sedikit,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman itu, Mujitio kemudian sadar bahwa tabungan sangatlah penting untuk nelayan seperti dirinya.

Lain ceritanya dengan Halima Andang. Motivasi Halima ikut menabung agar bisa membeli perahu. Halima yang sudah menjanda 20 tahun harus bertahan hidup serta menghidupi orang tuanya yang sudah sakit-sakitan sebagai nelayan tanpa perahu. Selama ini dia pergi melaut dengan menumpang temannya.

Halima sempat memiliki perahu, tapi karena perahu bekas, perahu itu tak berumur lama. “Sudah terbelah jadi dua perahunya pak,” ujar Halima.

Sebagai nelayan tanpa perahu, tentu penghasilannya tak seberapa. Akibatnya Halima bisa butuh waktu sangat lama agar tabungannya cukup untuk membeli perahu yang layak. Itupun jika tabungannya tidak terpakai untuk keperluan lain yang mendesak.

Seperti saat dia mengurus pemakaman mendiang ibunya. Saat itu dia terpaksa menggunakan tabungannya untuk sejumlah keperluan pemakaman.

Halima masih enggan meminjam ke bank untuk membeli perahu dan mesin. Sebab dia merasa tidak tenang karena punya utang dan khawatir akan sulit membayar angsuran. “Suka tidur sambil berdiri?” katanya diikuti oleh tawa terbahak-bahak.

Bagi beberapa nelayan, berutang adalah pilihan yang rasional, selagi mereka percaya dengan kemampuan mereka sendiri untuk melunasinya. Namun bagi nelayan seperti Halima yang bahkan tak memiliki alat produksi, utang adalah malapetaka. Apalagi dia tidak mempunyai keterampilan lain selain melaut sebagai nelayan tangkap.

***

Dalam kelompok Sipakulong, selain menabung juga mempunyai program lain, yakni diversifikasi usaha. Ini mereka lakukan untuk mengatasi masalah keterbatasan keterampilan dan turunnya harga jual hasil tangkapan.

“Kami ini ibu-ibu juga tidak mau berpangku tangan, menunggu hasil melaut suami. Kami membuat olahan gurita, kami jadikan bakso, stik dan kuah bugis. Laku semua,” kata Sinta sambil tersenyum. Sinta adalah istri seorang nelayan Torosiaje dan anggota kelompok Sipakulong.

Usaha olahan gurita ini sudah mereka lakukan sejak pertengahan 2022. Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan keuntungan Rp300.000 dari hasil penjualan olahan gurita. “Lumayanlah,” sahut Sinta.

Bank Indonesia (BI) memberikan bantuan beberapa unit blender. Blender ini mereka gunakan untuk menghaluskan daging gurita agar bisa dibuat adonan.

Selain itu Japesda juga turut memberikan sejumlah alat yang diperlukan dan dana hibah untuk mendukung kelompok ini. Sedangkan pemerintah desa setempat menyediakan bangunan untuk dijadikan rumah produksi.

Sebagaimana kelompok nelayan Sipakulong, kelompok usaha olahan gurita itu juga baru pada tahapan memulai. Masih banyak tantangan yang akan mereka lalui.

Karena masih dalam tahap memulai, makanya belum ada cerita sukses ataupun bahan evaluasi yang bisa ditagih dari kelompok usaha ini.

Ibu-ibu kelompok usaha olahan gurita sedang menyiapkan rempah dari adonan bakso dan stik gurita. Kegiatan produksi mereka lakukan bersama-sama (8-3-2023). Foto oleh Defri Sofyan.

Namun perjuangan para ibu rumah tangga nelayan yang tergabung dalam kelompok usaha dalam meningkatkan kehidupan ekonomi mereka, sepertinya patut dicontoh.

Mama Bolang misalnya, dia adalah ibu rumah tangga nelayan biasa, kondisinya sama dengan kebanyakan ibu rumah tangga nelayan di Torosiaje.

Tidak ada privilese sama sekali yang melekat padanya. Suaminya pun pada awalnya hanyalah nelayan tanpa perahu. Sama seperti Halima, suami Mama Bolang hanya mengandalkan tumpangan perahu orang.

Tapi sekarang, suaminya sudah memiliki perahu beserta mesin yang layak dan berhasil membangun rumah, dan dia membuka warung kecil di rumahnya. Tidak kaya memang, tapi dia selalu tersenyum puas ketika menceritakan bagaimana dia dan suaminya berhasil hingga ke titik itu.

“Saya di rumah berusaha, di samping itu juga menabung sedikit-sedikit. Anak saya juga hanya dua, jadi ongkos tidak banyak keluar,” kata Mama Bolang membagikan beberapa saran berdasarkan pengalamannya.

Bagaimana cara dia menutupi kebutuhan sehari-hari, jika penghasilan telah dibagi untuk tabungan dan modal produksi? “Berutang, pak,” jawabnya singkat.

Kebanyakan orang mungkin berpikir tabungan idealnya didapatkan dari sisa penghasilan setelah dibagi untuk modal produksi dan kebutuhan sehari-sehari.

Namun jika itu yang dilakukan oleh Mama Bolang , seperti banyak rumah tangga nelayan Torosiaje, dia tetap akan terjebak pada kondisi ekonomi yang subsisten, tidak akan ada tabungan. Dia mungkin tidak akan berhasil membangun rumah dan membuat warung kecil seperti sekarang.

Menurut Boby Rantow Payu, pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, apa yang dilakukan Mama Bolang adalah hal menarik. Sebab strategi semacam itu adalah hal yang paling mungkin dilakukan oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi yang subsisten agar bisa mengembangkan usaha.

“Apa yang dilakukannya menarik bagi saya, ini sesuai dengan konsep nilai waktu uang. Artinya, utang sama sekali tidak masalah untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dengan syarat tabungan yang ada dijadikan aset yang nilainya akan melebihi nilai utang,” kata Boby menjelaskan.

“Tapi harus dipastikan, apa jenis tabungannya, apa betul dijadikan aset atau sekadar dalam bentuk uang kartal. Jika masih dalam uang kartal, maka saya rasa perlu untuk diberikan literasi keuangan.”

Konsep nilai waktu uang secara sederhana berarti nilai uang seiring waktu akan tergerus oleh inflasi. Dengan menabung dalam bentuk aset produktif, hal ini bisa teratasi.

Memang Mama Bolang pun masih menabung dalam bentuk uang kartal, itu pun ditabungnya sendiri di dalam rumah, bukan di bank. Namun sebagian dari tabungannya digunakan sebagai modal warung sehingga bisa menutupi utang dan mengembangkan usahanya.

“Ribet kalau harus ke bank. Juga malas saya dengan potongan, saya pernah taruh uang Rp5 juta di bank, saya cek lagi tinggal Rp4 juta lebih” ujar Mama Bolang menjelaskan alasannya enggan menabung di bank.

Praktik menyimpan uang sendiri ini lazim dilakukan oleh keluarga nelayan Torosiaje. Sebab mereka merasa menyimpan uang di bank ribet dan terkena banyak potongan.

“Jika pun tidak ingin menabung dengan aset produktif, setidaknya menabung dalam bentuk emas, karena emas tidak akan terpengaruh inflasi. Kalau dianggap ribet, sekarang sudah mudah, perbankan sudah banyak mempunyai produk mobile banking dan fitur tabungan emas di dalamnya,” kata Boby.

Pada akhir tahun 2022 BI Kantor Perwakilan Gorontalo membangun stan UMKM dan jembatan di Torosiaje (8-3-2023). Foto oleh Defri Sofyan.

Mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mengatur keuangan, warga Torosiaje secara umum masih minim dalam memanfaatkannya. Jangankan memanfaatkan produk-produk digital perbankan, menabung di bank pun enggan dilakukan oleh warga.

“Penyebabnya, di Torosiaje fasilitas internet baru tersebar merata tahun ini, karena menara jaringan yang menjangkau hingga ke sini baru saja selesai dibangun. Jangankan di sini, pak, di kota saja belum semua orang menggunakan mobile banking atau QRIS,” ujar Uten Sairullah, Kepala Desa Torosiaje.

Uten dan aparat desa lainnya memang belum melakukan pendataan terkait akses pemanfaatan digitalisasi keuangan, namun dia menunjukkan penginapan-penginapan di Torosiaje yang harusnya paling utama untuk melakukan adaptasi ke sistem digital pada kenyataannya masih sangat manual.

“Harus bayar pakai uang tunai, pak” kata Ita salah seorang warga yang mengelola penginapan.

Ita selain sebagai pengelola penginapan juga membuka warung makan bersama suaminya di stan UMKM yang dibangun oleh BI.

“Di situ pun kami masih pakai uang tunai. Pembukuan juga manual,” ujarnya.

Menurut Uten, walau kendala fasilitas internet sudah bisa teratasi, pengusaha mikro di Torosiaje harus diperkenalkan dengan sistem digital untuk mengelola keuangan.

“Kenalkan mereka dengan sistem itu, apalagi jika itu bisa mempermudah dan menguntungkan mereka, pasti mereka akan terima,” kata Uten.

Ujang Supriadi sebagai Konsultan UMKM BI Perwakilan Gorontalo, mengatakan pihaknya mempunyai beberapa tahapan dalam mengintervensi usaha mikro.

“Kami memang baru pada tahapan pengenalan tentang sistem perbankan ke warga Torosiaje, kami belum melakukan pelatihan-pelatihan,” kata Ujang.

Menurutnya dengan memberikan bantuan dan pengenalan yang telah dilakukan BI ke warga Torosiaje adalah tahapan awal untuk merangsang kewirausahaan warga.

***

Warga Torosiaje, para pelaut yang dahulunya hidup mengikuti arus laut, kini diperhadapkan pada kenyataan bahwa model ekonomi subsisten nenek moyang mereka telah ikut dibawa arus, tenggelam ke dasar lautan. Mereka yang ingin tetap hidup, harus mendongakkan kepala dan terus mendayung perahu mereka.


Catatan: Liputan ini bagian dari fellowship yang diberikan AJI Indonesia dan PermataBank.

Related posts

Kisah Waria di Gorontalo Melawan Corona

Defri

Balada Pramuria di Pohon Cinta

Defri

Terhimpit di Instalasi Jiwa RSUD Tombulilato

Admin

Leave a Comment