lipunaratif.com
Image default
Mantra

Memaklumi Hanung di Bumi Manusia

Penulis: Christopel Paino

“Jangan terlalu tinggi ekspektasinya, ya.”

Begitu kira-kira ungkapkan seorang kawan di grup whatsapp, ketika kami,-beberapa anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Kota Gorontalo,-antusias membahas nonton bareng film Bumi Manusia yang tayang perdana di bioskop.

“Tenang, saya sudah kecewa duluan,” jawab saya. 

Saya mafhum, satu tahun sebelumnya, ketika diumumkan bahwa salah satu roman sejarah dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia akan difilmkan, banyak yang pro dan kontra. Penggemar Pramoedya yang kontra tentu saja khawatir adaptasi sutradara Hanung Bramantyo ke dalam film justru akan mereduksi karya Pram sendiri. 

Jika harus memilih pro atau kontra; maka saya termasuk yang pro namun pasrah ketika sebuah novel se-epik Bumi Manusia akan difilmkan; dan kemudian sadar diri bahwa pasti imajinasi saya dalam membaca novel setebal kurang lebih 535 halaman itu akan terjun bebas ketika dihidupkan dalam layar lebar.   

Pun ketika mengetahui bahwa yang akan memerankan Minke adalah Iqbal Ramadhan; banyak yang meragukannya karena bayang-bayang perannya sebagai Dilan dalam film Dilan 1991, seorang remaja yang doyan menggombal dan sering dikutip kata-katanya oleh pemburu status cinta di media sosial. 

Tapi saya cukup beruntung, karena saya tak pernah menonton satu pun film Iqbal Ramadhan sebelumnya. Praktis saya tak tahu, apakah akting Iqbal Ramadhan nanti mampu menghidupkan sosok Minke yang saya baca dalam novel tetraloginya Pram. Ini berbeda ketika saya beberapa kali menonton film yang selalu dibintangi oleh Reza Rahadian.

Meski demikian, sebagaimana dalam kutipannya yang masyur dijadikan kata-kata mutiara bahwa kita, “harus adil sejak dalam pikiran,” maka menjelang sore itu, saat tayangan perdana Bumi Manusia secara serentak di bioskop-bioskop Indonesia, saya dan lima orang kawan bersepakat untuk melangkahkan kaki ke studio 1 saat film itu diputar pada pukul 14.35 Wita. 

Saat membeli tiket, ternyata bagian bawah, kiri dan kanan banyak kursi yang kosong. Mungkin hanya separuh bioskop XXI itu yang terisi. Saya mendapat tempat duduk nomor 10, agak di tengah. Di atas saya semua kursi hampir terisi penuh oleh penonton berusia 20-an tahun dan didominasi oleh perempuan. Barangkali merekalah yang disebut sebagai mahluk generasi milenial atau generasi Z.

“Mungkin mereka menonton Bumi Manusia karena pemerannya Iqbal Ramadhan,” kata Debby Mano, seorang anggota AJI Kota Gorontalo, sesaat sebelum masuk bioskop.

Film dimulai. Latar suara serak Iwan Fals yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi” menggema. Setelah itu gambar hitam putih dengan setting Jawa di awal abad 20 dinarasikan oleh suara Minke, seorang pribumi hindia yang memuja pengetahuan dan peradaban eropa. 

Jika dalam novelnya diawali dengan cerita “aku” oleh Minke, maka dalam film ini Minke muncul pertama kali saat berbaring di kamar dan pintunya digedor oleh Robert Suurhof (Jerome Kurnia), kawan sekelasnya di H.B.S (Hoogere Burgerschool), sekolah elit yang diperuntukan khusus untuk orang Eropa, indo, dan kalangan ningrat.

Setelah itu alur cerita membawa Minke,-diajak oleh Robert Suurhof,-bertamu ke rumahnya Robert Mellema (Giorgino Abraham). Di sanalah awal perjumpaan sekaligus benih cinta dengan Annelies Mellema (Mawar Eva de Jong) sang dewi kecantikan yang mengalahkan Sri Ratu Wilhelmina, lalu bertemu ibu Annelies dan Robert Mellema; Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febrianti) yang banyak dibicarakan orang, buah bibir penduduk Wonokromo dan Surabaya. 

Fragmen berlanjut dengan dialog romantis Minke kepada Annelies. Moment ini agak membosankan, bahkan cenderung mirip sinetron. Namun ternyata, penonton yang berada di belakang dan kiri kanan kami yang didominasi perempuan seperti histeris melihat akting mesra Iqbal Ramadhan dan Mawar Eva de Jong. Bahkan seorang penonton lelaki di samping kanan saya seperti cengengesan, atau barangkali bisa dibilang cekikan. Suara-suara dari penonton ini sering kali terdengar setiap kali adegan Minke dan Annalies terjadi.

Dialog-dialog berlanjut dengan kutipan yang sering dipakai oleh para penggila status di media sosial, ketika Nyai Ontosoroh merespon Minke yang nyambi sebagai penjual perabot rumah tangga: “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” 

Bagi yang sudah membaca novel Bumi Manusia tentu tidak akan terkejut dengan alur cerita yang dibangun dalam film ini. Berbeda dengan novel, tentu saja semuanya berjalan seperti yang diduga bahwa ada banyak cerita yang tidak diterangkan, misalkan sahabat Minke seorang pelukis berkaki pincang asal Prancis, Jean Marais. Padahal Jean adalah tempat Minke curhat dan bertukar pendapat. Dari mulut Jean-lah keluar kata-kata yang selalu dipegang teguh dan mempengaruhi hidup Minke, ”Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”

Jean yang pernah bersekolah di Sarbonne, berkelana di Afrika, Mesir, Aljazair, Maroko, pada akhirnya menjadi kompeni belanda di tanah hindia karena kehabisan uang dan ditugaskan ke Aceh sebagai serdadu kelas satu. Di Aceh, ia bertemu seorang wanita yang mula-mula adalah musuhnya, lalu menjadi wanita yang paling dicintainya. Cinta mereka melahirkan seorang gadis bernama May. Dalam film, tak ada dialog antara May dan Minke. 

Peran yang tak begitu besar juga adalah Juffrouw Magda Peters, seorang guru bahasa dan sastra yang memperkenalkan karya Max Havelaar kepada Minke dan merasakan bahwa ia berhasil menjadi guru karena mempunyai murid yang hebat seperti Minke. Peran Magda Peters hanya sekilas berada di depan kelas dan ketika mengantarkan undangan dari dewan sekolah kepada Minke. Juga kakak beradik Sarah dan Miriam de la Croix yang sering bersurat menyurat dengan Minke dan ikut mempengaruhi pemikirannya tentang konsep kebebasan.

Namun terlepas dari persoalan itu, saya melihat plotnya berjalan sebagaimana tema novelnya, dimana Iqbal mampu memerankan Minke dengan beberapa dialog yang mengangkat soal pribumi hindia yang berkeinginan menjadi modern setara dengan eropa, dan dengan aneka bahasa, baik itu belanda, melayu, juga jawa. 

Karakter lainnya yang begitu hidup dan kuat adalah Sha Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh. Saya tiba-tiba merasakan getir ketika adegan Nyai Ontosoroh menceritakan masa mudanya, diserahkan secara paksa oleh Sastromo, sang ayah, untuk menjadi gundik kepada Tuan Administratur Herman Mellema. Meski cerita ini tidak dielaborasi secara utuh, namun secara sinematik saya merasakan hati yang membuncah. 

Terlebih ketika konflik mulai mendera kehidupan Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies; dimana hampir setiap hari waktu mereka dihabiskan hanya untuk menghadiri persidangan kolonial belanda yang merendahkan derajat mereka sebagai gundik dan pribumi yang hina. 

Lalu ketika mendekati adegan akhir, dimana pengadilan kolonial belanda memutuskan bahwa Annelies harus menetap di belanda dan dipisahkan dari Nyai Ontosoroh sang ibu yang telah melahirkannya, dan juga Minke; sebuah adegan yang menggetarkan diucapkan oleh Annelies; pada saat berpisah ia meminta tas atau kopor kecil tua berkarat. Kopor itu merupakan kopor yang dipakai oleh Nyai Ontosoroh ketika meninggalkan rumahnya di Tulangan, Sidoarjo, ketika pertama kali menjadi gundik. 

“Dengan kopor ini mama dulu pergi dan bertekad tidak akan kembali lagi. Kopor ini terlalu memberati kenangan mama. Biar aku bawa beserta kenangan berat di dalamnya,” kata Annelies dengan wajah datar. 

“Ann, Annelies, anakku sayang,” seru Nyai Ontosoroh. Ia menangis dan memeluk anaknya. Pun Minke yang menangis sedu sedan. 

Annelies akhirnya pergi, dan ketika Nyai Ontosoroh dan Minke hendak mendekat mengantarkan Annelies ke kereta kuda, langsung dicegah oleh beberapa orang Maresose, pasukan militer belanda. Perlahan, roda kereta kuda semakin menjauh meninggalkan Nyai Ontosoroh dan Minke. 

Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa: Bumi Manusia,-sebagai sebuah film dengan durasi tiga jam,-Hanung Bramantyo telah berhasil menepis keraguan saya diawal, dan berhasil menghidupkan salah satu karya dari Tetralogi Buru ke layar lebar.

Saya memaklumi Hanung yang memilih Iqbal Ramadhan dan berhasil menghidupkan sosok Minke pada dirinya, sekaligus menjadi senjata sebagai daya tarik bagi generasi milenial yang tak begitu akrab dengan karya Pramoedya Ananta Toer. Bisa jadi, mereka tak begitu tahu bahwa pengarangnya, mendekam di kamp kerja paksa di Pulau Buru tanpa proses hukum pengadilan oleh rezim terburuk dalam sejarah bangsa ini. Dan karyanya, Bumi Manusia, menjadi salah satu novel yang dianggap terlarang.  

Dalam adegan terakhirnya di film Bumi Manusia, Minke menangis dihadapan Nyai Ontosoroh. Hanung kembali menghadirkan lirik “Ibu Pertiwi” dari suara Iwan Fals yang menggema. Dan sebagaimana dalam novelnya, halaman terakhirnya ditutup oleh dialog yang menggetarkan: 

“Kita kalah, Ma,” kata Minke pelan.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” seru Nyai Ontosoroh.*** 

 

Related posts

Kisah Miss Lynn, Seorang Pejuang Konservasi di Gorontalo

Admin

Ketuan-tanahan Skala Raksasa (Gigantic Landlordism): Déjà vu Pilpres

Admin

Tentang (Melampaui) Primitivisme: Tanggapan untuk Tarmizi “Arief” Abbas

Admin

24 comments

Leave a Comment