Image default
Feature/Indepth Stories

Membaca Bilik-bilik Kehidupan Si Anak Hilang

Penulis: Defry Sofyan

Di Riden Baruadi Gallery, sebuah pameran tunggal digelar sejak tanggal 30 November hingga 9 Desember 2019. Mereka yang selalu setia pada peristiwa kebudayaan itu menggelar pameran kelima “Story-Line”. Jika pameran-pameran sebelumnya selalu diisi oleh para perupa dari dan yang tinggal di Gorontalo, maka kali ini cukup berbeda: seorang yang besar di negeri orang, ia yang berkarir dan hidup di pusat peradaban seni rupa di Yogyakarta dan Jakarta. Namanya Rizal Misilu, yang menggelar pameran tunggal perdana di tanah kelahirannya.

Tak cukup lama bagi Rizal berada di Gorontalo sehingga membuatnya berjarak dengan ke-Gorontalo-annya. Hanya dua tahun sejak dilahirkan, ia telah berpindah ke Manado, hidup di sana sampai tamat SMA, lalu menyeberang pulau ke tanah Jawa menuju Yogyakarta untuk kuliah seni rupa pada awal tahun 1990-an. Rizal yang dianalogikan sebagai anak yang hilang, seolah telah ditemukan kembali atau kembali pulang, melalui geliat seni rupa yang telah dibangun selama ini. Dan tentu saja, Riden Baruadi Gallery adalah magnetnya; sebuah ruang budaya yang telah merekatkan jiwa kesenian dan kebudayaan bagi anak-anak Gorontalo.

Dan seperti biasa, iklim pameran kali ini tidak jauh berbeda dengan pameran perdana empat tahun silam. Kuliner tradisional tersaji secara gratis untuk disantap pengunjung, alunan musik tradisional-kontemporer, dan tarian penggugah emosi menemani karya-karya Rizal Misilu yang ditata di dalam galeri.

Saya datang ke sana pada malam hari sebelum pembukaan itu dimulai. Beberapa orang terlihat berdiri di atas pagar teras lantai dua gedung putih itu. Mereka tampak sibuk memasang lampu sorot, keringat tampak membasahi baju mereka. Mereka yang bekerja itu adalah seniman, tak berbeda status dengan Rizal, namun sementara mereka beralih profesi menjadi pegawai suka rela galeri.

Riden Baruadi Gallery belum menjadi galeri seni yang komersil, walaupun ada struktur seperti direktur dan kurator, tapi itu ditujukan sekadar untuk memanajemen galeri dengan baik.

Di dalam galeri kondisi masih berantakan, lukisan yang berharga jutaan itu tergeletak begitu saja di lantai. Seseorang yang mengenali saya kemudian memanggil seraya mendekat untuk bertukar sapa. Saya menanti sambil memperhatikannya, sepertinya ada informasi penting yang ingin disampaikannya. Dia berjalan cepat, tiba-tiba terdengar bunyi benda yang diinjak: kretak. Dengan cepat dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa sambil melirik sekitar.

Untungnya semua orang di dalam galeri terlena dengan kesibukan mereka mempersiapkan pameran yang akan digelar besok. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi dengan teman saya itu.

Sang seniman, Rizal Misilu juga ikut membantu hal-hal kecil, memindahkan barang sesuai dengan penataan yang telah diatur Yoga,-nama kecil dari I Wayan Seriyoga Parta,-kurator pameran “Story-Line”. Hanya beberapa saat bertemu Awal, salah seorang yang mengorganisir pameran. Saya lalu diperkenalkan ke Yoga dan Rizal, bahwa saya adalah orang yang akan membantu memublikasikan pameran ini. Tanpa keberatan, mereka pun datang menghampiri.

Rizal, ternyata penampakannya lebih tua dari perkiraan saya, tubuhnya sedikit kurus, kulit wajahnya sedikit keriput dan rambutnya yang pendek di bagian atas telinga sudah memutih. Bagian yang seharusnya ditumbuhi kumis dan jenggot menjadi putih kehitam-hitaman bekas cukuran. Berbeda dengan Yoga, walaupun para seniman muda sering memanggilnya dengan menambahkan kata sapaan “Pak”, dengan kacamatanya dia justru terlihat seperti anak muda.

Yoga, sang kurator atau orang yang menilai karya Rizal dengan objektif, mengaku belum kenal siapa Rizal. Riset untuk mengetahui Rizal dan karya-karyanya justru diserahkannya ke orang lain, yakni Syam Terrajana, sang perupa yang lebih dahulu kenal Rizal sejak di Yogyakarta.

“Saya mulai ‘membaca’ karya Bang Rizal ini baru sejak sekarang, sesaat sebelum pameran. Saya minta izin untuk mencoba melakukan penafsiran mandiri, membangun narasi menurut saya,” kata Yoga.

Yoga mengaku tanpa intervensi dari siapapun, termasuk Rizal, mencoba menilai karya-karyanya dan mengelompokkan karya itu berdasarkan kesamaan yang dilihatnya pada karya-karya bukan argumentasi Rizal.

“Hal yang menarik dalam penataan ini, berdasarkan penafsiran saya, ada beberapa karya yang sulit digabungkan satu sama lain, tapi ada berapa karya secara feeling saya lihat bergabung,” ujar Yoga menjelaskan bahwa tanpa berargumentasi pun, karya sebenarnya telah bercerita.

Terbukti tanpa harus menuruti, Rizal membenarkan bahwa tafsiran Yoga atas karya-karyanya, beberapa memang dimaksudkan untuk satu tema tertentu.

Karya “Antara Kau dan Aku”, pen dan aklirik di kanvas 50 x 60 cm, 2019. Foto: Defry Sofyan.

Bilik-bilik Kehidupan

Sesuai dengan tajuk pameran “Story-Line” atau ‘alur cerita’ kehidupan, Yoga mengelompokkan karya-karya Rizal dengan beberapa bagian atau tahapan. Yakni konflik, perenungan, keterbatasan dan cinta. Karya-karya Rizal yang sesuai dengan masing-masing topik itu dibagi dan diletakkan secara beralur dalam ruang galeri. Kelompok karya itu beralur dari kanan ke kiri, “Bilik Konflik” berada paling kanan.

Berhadapan dengan pintu masuk galeri, beberapa karya seperi Let it Fly (pen di kertas 21 x25 cm, 2018) yang merupakan gambar ranting kecil lengkap dengan akar dan daunnya mengambang di tengah ruang kosong, dan karya Malam Sunyi (pen di kertas 39 x 39 cm, 2019) gambar seperti ranting lentur yang berputar, tak jelas pangkalnya dari mana, di tengah putaran itu, di ujung ranting lentur itu, ada daun yang tertutup.

Gambar-gambar itu memang jika mengikuti argumentasi Yoga, adalah simbol dari ketidakpastian sebuah permulaan kehidupan yang penuh dengan konflik. Apa yang lebih gelisah dari sebuah ranting yang berakar tapi tak tertahan oleh tanah? Atau apakah yang membuat ranting harus berputar hebat, padahal dia sedang mengandung sehelai daun muda?

Lalu lanjut ke “Bilik Perenungan”, bilik ini berisi karya-karya yang berisi kesan spiritualitas. Setelah diombang-ambingkan oleh konflik, tahap selanjutnya dalam kehidupan adalah perenungan. Kesan ini tergambar jelas pada sebuah gambar yang berjudul Lonely (pen di kertas 21 x 25 cm, 2018), sebatang ranting yang berpangkal dari bagian kiri bingkai, berputar kecil dan lemah ke arah pangkal, di ujungnya ada daun yang tertutup. Berbeda dengan Malam Sunyi yang tak jelas pangkalnya dan putarannya yang terlalu kuat.

Masuk ke “Bilik Keterbatasan”, karya-karya yang mengandung arti penemuan jati diri. Penemuan jati diri bukan berarti kesempurnaan, dia hanya simbol dari kekokohan sekaligus kekurangan. Seperti gambar Purnama November (pen dan arcylic di kanvas, 80 x 80 cm, 2019), pusaran berwarna hitam keabu-abuan dan berpola kasar, pusaran ini tak bisa menutupi seisi kanvas, tepat di tengahnya ada lubang berwarna putih.

Bilik selanjutnya adalah “Bilik Cinta”, di atas dari tahap keterbatasan, tahap cinta adalah saat kita telah menemukan sesuatu yang bisa melengkapi keterbatasan.

Alih-alih ada gambar lubang yang telah terisi untuk membuktikan argumen itu, gambar yang merepresentasikannya antara lain adalah gambar sebatang pohon besar yang dililit begitu eratnya oleh batang pohon yang lebih kecil, di kiri dan kanan pohon besar itu, kebetulan tumbuh ranting-ranting kecil tanpa daun berkumpul dan nyaris simetris di pohon kecil yang melilitnya. Sekilas ranting-ranting kecil itu seperti tangan atau sayap. Gambar itu berjudul Living With Enemy (pen di kertas 29 x 40, 2019).

Terakhir yang dilakukan Yoga, adalah memisahkan karya-karya yang terkesan “sempurna” jika dibandingkan karya-karya lainnya. Karya yang sempurna ini bisa disimpulkan dari bentuknya yang merupakan gambar pohon utuh. Berbeda dengan karya lainnya yang hanya merupakan bagian-bagian tertentu dari pohon.

Layaknya karya yang berjudul Mohalingo (Pulang) yang dibuat pada tahun 2019, adalah karya dari pulpen dan cat akrilik di kanvas sebesar 80 x 80 cm, bergambar pohon dengan batang-batang yang besar, akar-akar yang juga besar, serta dedaunan yang rimbun, di belakang pohon ada seperti semak belukar.

Karya-karya Rizal ini disebutnya sebagai “gambar” bukan lukisan. Perbedaannya adalah teknik dasar yang dipakainya. Dia menggunakan pulpen untuk menghasilkan setiap karyanya atau akrab dikenal dengan istilah drawing, adapun penggunaan cat akrilik dan ecoprint hanyalah ketika dianggapnya perlu.

Seperti pada karyanya Gairah Kecil dalam Sepi (pen dan ecoprint di kertas 22 x 22 cm, 2019), Rizal merasa harus menempelkan helai-helai daun yang memanjang itu (seperti jenis pakis) untuk melanjutkan bentuk yang lain. Maka tak ada cara lain selain memindahkan warna dan tekstur daun dengan teknik ecoprint pada kertas, lalu melanjutkan sisanya dengan pulpen, barulah bisa jadi gambar  batang pohon besar yang terbaring dan ditumbuhi (seperti) tanaman pakis kecil di batang pohon yang besar itu.

Kiri berbaju cokelat Rizal Misilu dan kanan berbaju hijau I Wayan Seriyoga Parta, mereka memandu para wartawan saat press tour pameran Story-Line di Riden Baruadi Gallery. Foto: Defry Sofyan.

Menafsirkan Pohon

Semua karya Rizal dalam pameran “Story-Line” ini semuanya nyaris berobjekkan pohon. Ada apa dengan pohon? Apakah karyanya terkait dengan isu lingkungan?

Rizal membantah hal itu. Dia tak ada maksud ketika ingin membuat karya-karyanya adalah untuk meramaikan masalah lingkungan yang memang menjadi perhatian banyak pihak. Menurut Rizal, pohon sebenarnya adalah simbol dari manusia itu sendiri, dia menggunakan pohon sebagai metafora kehidupan manusia.

“Pohon juga kan makhluk hidup seperti kita, saya percaya apa yang dialami pohon juga dialami kita, manusia,” kata Rizal.

Namun menganggap gambar-gambar Rizal terkait dengan isu lingkungan itu juga tidak masalah menurut Rizal dan Yoga. Keduanya sepakat bahwa karya seni rupa adalah multi-tafsir dan multi-dimensi, siapa saja berhak menafsir karya seni sesuai dengan kadar pengetahuan dan sudut pandang masing-masing orang.

Saya teringat esai yang dibuat oleh Roland Barthes, seorang semiolog asal Perancis yang hidup pada rentang tahun 1915 sampai dengan 1980. Esainya berjudul The Death of the Author atau yang berarti ‘Matinya Sang Pengarang’. Isinya menjelaskan bahwa setiap simbol yang ditulis dalam hal ini di gambar adalah tidak original dari pengarang itu sendiri. Melainkan simbol itu telah ada di kehidupan sehari-hari lalu kebetulan si pengarang dalam hal ini si perupa menggunakannya kembali dengan bentuk yang dimodifikasi.

Maka karena semua simbol telah ada dan berkembang, semua orang pun berhak melakukan penafsiran atasnya.

“Bahkan banyak yang bertanya pada saya, apakah saya sedang meneliti jenis-jenis pohon. Saya bilang tidak, saya bukan ilmuwan,” kata Rizal menyelingi sesi wawancara yang semakin berat.

Keesokan harinya, 30 November 2019, pada sore hari ada agenda press tour sebelum pembukaan pameran pada malam harinya. Press Tour menurut Awal, bermaksud agar saat pembukaan atau agenda lain dimulai, wartawan bisa leluasa menikmati pameran tanpa beban untuk melakukan wawancara. Yoga, Rizal dan Syam yang menemani para wartawan di sore hari itu.

Tak seperti biasa, para wartawan terlihat sedikit kikuk untuk memulai pertanyaan, mungkin takut mengajukan pertanyaan konyol akibat tak paham masalah seni rupa. Berulang kali pun para pemandu mengatakan agar tak usah takut bertanya, mereka memaklumi keawaman wartawan yang mewakili masyarakat umum yang juga terbilang awam dengan jenis seni yang eksklusif itu.

Tiba-tiba seorang wartawan menyahut, merasa kepercayaan dirinya sudah terkumpulkan.

“Wah ini bagus. Ini kapak, kan?” Katanya menunjuk salah satu gambar yang memang mirip kapak.

“Wah ini kan salah satu alat untuk…?” pancing Rizal agar si wartawan melanjutkan pertanyaannya.

“Untuk memotong pohon. Gambar ini tidak bagus untuk mendukung pelestarian lingkungan,” kata si wartawan dengan mantap.

Semuanya tertawa, termasuk si wartawan, karena memang tanya jawab itu tidak serius. Bagaimanapun, para pemandu menjelaskan kembali kepada mereka bahwa pohon hanyalah objek yang Rizal jadikan perumpamaan atas kehidupan manusia. Kekuatan pohon adalah perumpamaan yang sempurna nan sederhana untuk menjelaskan kehidupan manusia yang kompleks.

Wawancara masih berlangsung, tapi tak semua fokus mendengarkan penjelasan para pemandu, mungkin berharap pada rekaman temannya. Saya memperhatikan seseorang, dia tampak penasaran dengan karya-karya berharga jutaan itu. Tak cukup melihat-lihat, dia pun mengusap-usap tangannya ke lukisan, sementara raut wajahnya biasa saja. Melihat tingkahnya itu, saya seperti melihat diri saya sendiri ketika untuk pertama kalinya datang ke pameran mengusap-usap dengan penasaran tekstur lukisan, padahal sudah ada tulisan, “Dilarang menyentuh karya”.(*)   

Related posts

Suara Leni Husain di Hari Kemerdekaan

Admin

Kisah Tambak Garam di Cagar Alam Tanjung Panjang

Admin

Porseni Terakhir

Defri

Leave a Comment