Image default
Mantra Stories

Partitur Khatulistiwa di Desa Huntu

Oleh: Terri R

Scooterist dan Staf Pengajar di Universitas Muhamadiyah Gorontalo

 

“Jika tidak bisa mendengar lantunan alam, paling tidak saya bisa melihat nadanya di Desa Huntu.”

Kalimat itu melintas dibenak saya ketika pertama kali menyaksikan sebuah land art bertajuk Not Khatulistiwa yang membentang pada areal persawahan seluas kurang lebih 1.500 Mdi Desa Huntu. Beberapa hari sebelumnya, saya menerima pesan singkat dalam aplikasi online, sebuah poster berisi undangan untuk menyaksikan pembukaan land art. Awalnya saya sangsi, lebih tepatnya sinis: land art? Apakah seniman selalu kurang kerjaan untuk mengubah sawah menjadi media seni? Bukankah lanskap Gorontalo adalah land art itu sendiri?

Saya sepertinya keliru, kalimat pembuka pada paragraf ini dan paragraf-paragraf selanjutnya dapat menjadi buktinya.

Sesuai tajuknya, sebuah not raksasa dibentuk dari hijaunya padi. Butuh menaiki panggung bambu setinggi 10 meter untuk bisa menyaksikannya secara utuh. Menariknya, bentuk not yang ada tidak dibuat dengan memangkas padi, tapi dengan menyemainya. Sama seperti petani, sang seniman hanya menabur, sisanya alam yang bekerja. Butuh 65 Kg benih dan tiga kali menyulam untuk menggantikan benih padi yang mati atau dimakan burung.

Ya, hidup adalah seni yang tengah saya saksikan di sini. Sehingga tidaklah muluk jika saya katakan bahwa Iwan Yusuf, sang seniman, tidak hanya berhasil menangkap suara alam dan mewujudkannya menjadi sebuah notasi, tapi lebih dari itu, ia memaksa kita mendengar lantunan alam. Di mana notasi tersebut adalah sebuah denotasi dan konotasi pada saat yang bersamaan. Sebuah isyarat alam yang ingin didialogkan secara gamblang oleh Iwan sebagai interpretatornya. Sebuah not, yang menjadi partitur tanpa lirik yang kadang terlalu sulit bagi manusia untuk membaca, apa lagi mendengarkannya: Not Khatulistiwa.

Dilewati garis imajiner khatulistiwa tentu saja adalah anugerah. Intensitas penyinaran matahari, curah hujan yang tinggi serta iklim tropis yang hangat dan lembab menjadi salah satu faktor penyebab tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia. Kita tentu mengetahuinya, namun bisakah kita melihatnya sebagai sebuah harmoni? Atau malah sebagai ironi? Di sini saya curiga pada sang seniman yang sepertinya ingin mengolok kita semua.

Dengan membentuk not yang besar, Iwan Yusuf ingin menertawakan kita; betapa buta dan tulinya kita selama ini. Beton-beton dan twitter telah membuat kita lupa betapa indahnya hijau alam dan betapa merdunya kicau burung. Not Khatulistiwa yang gigantik menjadi tanda betapa kita butuh sesuatu yang kentara seperti gedung-gedung mall agar kita bisa singgah untuk sekedar ber-selfie.

Sawah sebagai media seni bagi saya adalah pesan berikutnya; bahwa walaupun suburnya vegetasi di lanskap Gorontalo adalah efek dari lintasan garis khatulistiwa, namun hijaunya padi dan jagung adalah juga keringat petani. Merekalah yang menyemai dan memanen, agar saya dan anda bisa sarapan nasi kuning atau mengunyah milu siram.

Selanjutnya, padi sebagai objek adalah pesan pamungkasnya. Saya tidak tahu jenis padi apa yang disemai, tapi misalkan padi varietas lokal, jika dibiarkan terus hidup kita hanya punya kurang lebih 150 hari untuk menikmatinya sebagai ekspresi seni sebelum menguning dan akhirnya dipanen. Betapa Iwan Yusuf ingin menyampaikan bahwa yang hidup selalu punya usia dan ada siklus yang tak bisa kita hindari. Awal dan akhir haruslah dirayakan. Sama seperti menabur dan menuai. Sekiranya itu yang saya tangkap dari pengalaman di Desa Huntu.

Tapi itu barulah pengalaman abstrak, saya bahkan menangkap lebih. Dari hijaunya padi saya menangkap haru yang biru, sebuah peringatan!

Land Art Not Khatulistiwa di Desa Huntu, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Foto: Dokumentasi Hartdisk.

Maa ledungga: Perayaan yang Kian Sepi

Land art Not Khatulistiwa adalah bagian dari acara Maa ledunga, sebuah momentual yang coba dihadirkan kembali oleh para perupa Gorontalo. Saya tidak mengerti bahasa Gorontalo, namun dari cerita kawan, Maa ledungga berarti “telah tiba”: sambutan bagi panen padi, kalau bisa saya simpulkan. Ada banyak alasan dari simpulan tersebut, salah satunya memori.

Di kampung saya, Mapanget, panen padi juga berarti pesta, sampai sawah menjadi landasan pacu pesawat dan pestapun berakhir. Dahulu panen padi adalah momen sakral yang ditunggu-tunggu petani. Tidak heran, di Dayak panen padi akan disambut dengan upacara Naik Dango, di Sunda upacara Saren Taun dan di Jawa upacara Wiwitan. Saya pikir ini hampir umum pada masyarakat agraris, hanya dengan bentuk upacara yang berbeda-beda, namun serupa dalam hal substansinya; ucapan syukur kepada Tuhan, leluhur dan tentu saja bumi. Tapi perlahan ini memudar, di tempat lain malahan hilang tinggal cerita.

Berdasarkan data sensus pertanian tahun 2013 di Provinsi Gorontalo antara tahun 2003 sampai tahun 2013, terjadi penurunan pada subsektor tanaman pangan (padi dan palawija) sebesar 7.520 rumah tangga; di mana pada tahun 2003 sebesar 84.840 keluarga menjadi 77.320 keluarga pada tahun 2013. Deregenerasi petani dan degradasi lahan pertanian tentu saja adalah penyebab utamanya. Penurunan jumlah petani berbanding positif dengan penurunan jumlah luasan lahan pertanian yang tersedia.

Hal ini dapat dibuktikan dengan data BPS Gorontalo tahun 2018 yang menunjukkan penurunan lahan sawah sebesar 1,93 persen dibandingkan tahun 2017. Selanjutnya, laman resmi Dinas Pertanian Gorontalo mencantumkan bahwa di Kota Gorontalo, luas area persawahan kian berkurang akibat alihfungsi lahan.

Ungkapan: “sekolah bae-bae supaya nyanda jadi petani” adalah klise dari konsekuensi modernisme. Petani adalah papah dan cukup bagi orang tua saja. Hal ini tentu tidak spesifik bagi Gorontalo saja, ini terjadi di hampir semua daerah di Indonesia. Secara umum menurut data BPS 2013, di Indonesia terjadi penyusutan petani sebesar 5 juta orang selama tahun 2003-2013. Berdasarkan data tersebut juga diketahui bahwa 60,8 persen petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun. Namun, berkurangnya jumlah petani dan lahan pertanian tentu tidak semudah penjelasan angka-angka di atas.

Glamornya pembangunan juga tidak cukup untuk menjelaskan hal tersebut, karena secanggih-canggihnya modernisme ia tetap melakukan akumulasi primitif, memisahkan petani dari alat produksinya; depeasantization dan proletarization. Mungkin akumulasi dengan perampasan yang disampaikan Harvey dapat menjelaskan bagaimana hilangnya lahan sawah dan jagung di Kabupaten Boalemo, serta kolom pekerjaan di KTP yang berubah dari petani menjadi karyawan perkebunan, tidak sesederhana penjelasan kebutuhan ekonomi semata.

Entahlah, apakah kita harus sepakat dengan Leeds bahwa petani hanyalah terminologi cerita rakyat, atau dengan Hobsbawn: matinya petani (the death of peasantry). Yang pasti angka-angka BPS di atas adalah awas. Sebab, dengan kecenderungan tersebut, kita bisa memprediksi berapa lama lagi sampai petani akan punah dan kapan perayaan seperti Maa ledungga yang kian sepi akan dilangsungkan untuk terakhir kalinya. Semoga kita masih punya kesempatan sebelum sawah-sawah ditelan beton-beton.

Menghadap-Sebelum Dilahap-Bumi 

Not Khatulistiwa bukanlah land art pertama yang dibuat di Gorontalo, sebelumnya pada tahun 2013 Iwan Yusuf dan kawan-kawan seniman Gorontalo membuat sebuah tapak kaki raksasa dari eceng gondok berjudul Lahilote di Danau Limboto. Sebuah pesan tentang betapa cepatnya pendangkalan Danau Limboto. Pada land art kali ini, tema yang diangkat juga sama: menghadap bumi. Awaludin sebagai salah satu penggagas kegiatan menyampaikan makna filosofis dari tema tersebut, sederhananya; semua akan kembali ke bumi.

Tentu sangat filosofis, namun saya menangkapnya sebagai sebuah kecemasan, sebuah peringatan. Menghadap bumi bukanlah ajakan untuk sekedar menatap, menghadap bumi harusnya menjadi momen dialogis di antara kita sesama manusia, membicarakan lagi tentang ruang di mana kita hidup. Lantaran krisis ekologis bukanlah isapan jempol, ini terjadi di hampir semua tempat di belahan planet bumi dan sampai saat ini, manusia adalah akar masalah paling besar.

Kita barusan menyambut tahun baru 2020 dengan petaka, banjir dan tanah longsor. Bumi melahap rumah-rumah, menghanyutkan mobil-mobil dan duka mengikuti. Bagi saya, ini bukanlah bencana alam melainkan bencana ekologis, karena kita bisa menelusuri sebabnya dan yang pasti bukan dari Tuhan. Lahan resapan air yang berubah jadi bangunan, hijaunya hutan yang berganti lubang-lubang tambang dan perkebunan, atau sampah yang menumpuk diselokan telah terbukti menjadi beberapa faktor penyebab bencana ekologis tersebut. Dengan demikian, jika kita adalah masalahnya, maka kita bisa memperbaikinya. Saya lupa siapa yang mengatakan, tapi sepertinya bisa saya kutip: ”Karena bukan dari Tuhan, maka kita bisa mengubahnya”.

***

Dalam perjalan pulang, di atas Vespa yang tak lebih cepat dari bentor saya kemudian berpikir; saya tidak paham seni, namun sepertinya tidak perlu menjadi seniman untuk mengetahui bahwa bumi adalah rumah. Cukup dengan menjadi manusia saja. Kita hanya perlu menghadap bumi sebelum kita pada akhirnya dilahap bumi. Membaca notasi khatulistiwa di Desa Huntu, bukan sekedar not, tapi: partitur khatulistiwa.*

 

Related posts

Pijar Tupalo di Kota Batu 

Admin

Kantin Kejujuran dan Moralitas Bangsa yang Gagal

Admin

Memaklumi Hanung di Bumi Manusia

Admin

Leave a Comment