lipunaratif.com
Image default
Stories

Peristiwa Budaya yang Langka Itu Bernama Maa Ledungga

Penulis: Zulkifli Mangkau

Gerimis hujan mengawali sore saya menuju ke perkampungan yang terletak di Kabupaten Bone Bolango, tempat digelarnya sebuah pesta seni bertajuk Maa Ledungga. Maa Ledungga sendiri berarti telah tiba, yang merujuk pada sebuah perayaan menyambut panen padi di Gorontalo yang sudah di depan mata. 

Pesta seni ini merupakan perayaan Maa Ledungga yang kedua kalinya saya datangi, setelah akhir tahun 2018 kemarin dilaksanakan di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Kali ini perayaan Maa Ledungga dilaksanakan di beberapa lokasi, di antaranya: Desa Huntu Selatan, Desa Huntu Utara, dan Desa Lamahu.

Konsep yang diusung pun masih seperti tahun sebelumnya, melibatkan masyarakat desa sebagai aktor penggeraknya. Karena sebagaimana Maa Ledungga, sebuah perayaan menyambut masa panen padi tentu saja masyarakatlah yang berperan aktif di dalamnya.

Kini, demi menjaga lini kebudayaan dan kearifan lokal orang Gorontalo tetap ada, para seniman dan perupa yang tergabung dalam “Tupalo” merangkai kegiatan Maa ledungga tersebut dengan mementaskan beberapa pertunjukan seni, pasar rakyat tradisional, dan pameran karya seni rupa dalam acara tersebut.  Maa Ledungga telah menjadi program rutin atau agenda tahunan yang terus dilaksanakan.

Pada perayaan pesta seni tahun ini sedikit berbeda. Jika dulu dilaksanakan di area persawahan, kali ini panitia memilih tempat penggilingan padi milik warga setempat untuk dijadikan tempat pameran seni rupa sekaligus acara pembukaan kegiatan. Sangat kontras dengan pameran seni rupa yang biasa bertempat di galeri dengan fasilitas-fasilitas mewah dan lengkap. Bahkan bisa dibilang, ini untuk pertama kalinya di Indonesia pameran seni rupa digelar di tempat penggilingan padi: begitu dekat dengan rakyat, berjarak dengan penguasa, dan jauh dari ruang-ruang elit. 

Saya dan beberapa kawan akhirnya sampai juga di lokasi yang dituju. Meskipun sebelumnya kami kehilangan arah saat menuju lokasi. Tak berselang lama setelah saya datang, satu per satu pengunjung lainnya juga ikut berdatangan memadati lokasi. Ada yang datang hanya melihat-lihat, ada juga yang datang sekadar mengabadikan momen saja. 

Dan di waktu bersamaan beberapa panitia pun sibuk bekerja, mengurusi keperluan kegiatan yang masih kurang. Yang lain sedang memperbaiki instalasi listrik, dan panitia lainnya sibuk menyulap beberapa gudang beras menjadi bilik-bilik; tempat di mana karya-karya perupa akan dipamerkan.

Di luar gudang, tepatnya di halaman penggilingan padi, banyak anak-anak kecil yang lalu lalang. Mereka tampak gembira menyambut perayaan Maa Ledungga yang diselenggarakan di desanya. Selain anak-anak, beberapa orang yang menggunakan baju pegawai honorer juga lalu lalang di lokasi pembukaan, mereka memanfaatkan setiap karya yang terpajang sebagai tempat berswafoto, mengabadikan setiap momen yang jarang mereka lihat selama ini.

Meskipun belum secara resmi dibuka, lokasi kegiatan mulai dipadati oleh warga sekitar dan pengunjung. Gelaran pameran karya seni rupa yang diusung dalam acara Maa Ledungga ini cukup menyita perhatian orang-orang kampung sekitar. Sebab, mereka yang sebelumnya tak pernah akrab dengan suguhan karya seni rupa, tapi kali ini begitu dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Pameran seni rupa yang biasanya banyak digelar di ruangan mewah dan atau begitu identik dengan orang elit-elit, kini hadir di tengah-tengah masyarakat desa. 

Dalam ruangan pameran sendiri, pengunjung akan disuguhi karya-karya perupa ternama, seperti karya kolaborasi perupa Lini Natalini Wifhiasi dan Joni Ramlan yang bertajuk “The Blue Sea Olele” yang dilukis di atas kanvas 120×160 tahun 2019 menggunakan cat akrilik. Lukisan kedua perupa nasional itu menggambarkan bagaimana keindahan bawah laut Olele yang selama ini dikenal sebagai salah satu spot diving paling banyak dikunjungi. 

Selain karya dua perupa asal Jawa Timur tersebut, ada juga karya dari seorang perupa asal Bali. Ia Galung Wiraatmaja, karya lukisannya yang berjudul “Dua Sahabat” di atas kanvas 65 x 80 cm tahun 2015, seakan memancing pemaknaan dua orang sahabat yang begitu dekat. Saling bercengkrama, berbagi cerita yang begitu hangat, mengomentari kehidupan nyata yang begitu-begitu saja. Melihat lukisan Galung itu saya langsung teringat lagu Iksan Skuter “Rindu Sahabat”, yang selalu diputar oleh seorang kawan kala ia rindu sahabatnya, bercerita tentang kehidupan, rokok, kopi, atau tentang cinta dan mati.

Selain perayaan menyambut musim panen padi tiba, ada makna lain dari fragmen yang ditampilkan dalam perayaan ini, sebuah satire yang coba disampaikan oleh penyelenggara melalui pameran karya seni rupa agar bisa dirasakan oleh semua kalangan, bukan milik para elit saja atau mereka yang berkuasa atas nama uang. Masyarakatlah yang memiliki peran penggerak setiap lini kebudayaan dijalankan, sama seperti tujuan Maa Ledungga diselenggarakan. 

Dan yang terpenting lagi, perayaan yang mulai konsisten dua tahun ini dilaksanakan, dikelola secara swadaya oleh masyarakat tanpa bantuan sepersen pun dari pemerintah. Sungguh sebuah peristiwa kebudayaan yang langka.

Beberapa karya perupa yang ditampilkan dalam perayaan Maa Ledungga, di Desa Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Foto: Zulkifli Mangkau.

OHD dan Seni Rupa Gorontalo

Awan-awan berarak hitam berkumpul menutupi keberadaan senja pada sore itu. Gema suara azan magrib pun terdengar dari berbagai sudut. Anak-anak kecil tadi yang bermain telah kembali ke rumahnya masing-masing. Perlahan panggung langit seolah berganti layar menjadi malam.

Berselang beberapa menit setelah azan berkumandang hujan pun turun. Halaman penggilingan padi yang awalnya ramai berganti sepi. Pengunjung mencari tempat berteduh. Sejumlah warga yang telah siap sedia menyambut pembukaan dari perayaan Maa Ledungga ikut berteduh juga.

Pembukaan Maa Ledungga sendiri rencananya akan dibuka langsung oleh salah satu kolektor kawakan yang sering dijuluki sebagai The Godfather seni rupa kontemporer di Indonesia. Oei Hong Djien, namanya. Atau biasa disapa OHD, seorang kolektor sekaligus pemilik museum OHD di Magelang, Jawa Tengah. Menurut penuturannya ia memiliki koleksi lukisan sebanyak 2.000 lukisan di museumnya. Kehadirannya di kegiatan Maa Ledungga turut memberikan cerita tersendiri bagi kalangan perupa dan seniman di Gorontalo. 

Hujan malam itu tak berlangsung lama. Tempat penggilingan padi yang semula sunyi kini kembali ramai. Masyarakat mulai berbondong-bondong memadati lokasi. Apalagi sebelum acara dibuka, penampilan dari grup band Hulonthalo Etnic mengundang perhatian warga untuk berkumpul. Mereka membawakan lagu-lagu daerah dengan sangat khas, begitu elegan.

Acara pembukaan Maa Ledungga pun dimulai, pembawa acara mulai memandu. Meskipun kegiatan itu didesain dengan sangat sederhana dan merakyat, tapi tiba-tiba menjadi formal karena juga dihadiri oleh pejabat kampus Universitas Negeri Gorontalo. Semuanya serba menjadi formal. Tapi meski begitu warga sekitar masih dengan setia menunggu dan memeriahkan acara.

Malam itu, Rabu, 11 Desember 2019. OHD kemudian diberikan kesempatan menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara perayaan Maa Ledungga. Dalam sambutannya, OHD mengatakan bahwa selama ini lini kebudayaan dan karya seni rupa hanya terkenal di beberapa daerah besar, seperti Jogjakarta, Jakarta, Bali, dan Bandung. 

Sementara di daerah seperti Gorontalo merupakan hal yang baru. Hal ini kemudian yang menggerakkan OHD untuk menghadiri sekaligus meramaikan acara Maa Ledungga  yang ia buka secara resmi malam itu. 

“Selama ini karya seni rupa hanya terkenal dari kota besar. Di Sulawesi khususnya Gorontalo bisa dibilang tidak begitu dikenal. Padahal mindset Presiden kita saat ini sangat mendukung perkembangan di daerah-daerah. Saya kira itu juga berlaku untuk seni rupa. Makanya sudah waktunya bahwa seni rupa di Gorontalo ini digerakkan,” kata OHD dalam sambutannya.

OHD juga mengungkapkan, bahwa daerah asalnya Magelang, sangat kecil dari Gorontalo. Tapi, ia berhasil menggerakkan masyarakatnya untuk mencintai, memerhatikan seni, dan mengoleksi, hingga akhirnya tercipta sebuah museum pribadi tapi dibuka untuk publik yang diberi nama “Museum OHD”.

“Kalau gerakan ini terus digalakkan, dan seluruh komponen perupa, masyarakat dan pemerintah ikut serta, saya kira Gorontalo sebentar lagi akan menjadi ibukota seni rupa se-Sulawesi. Sama seperti Jogjakarta yang dikenal sebagai pusat ibukota seni rupa di Indonesia,” tegasnya malam itu.

OHD yang juga seorang dokter itu menaruh harapan yang besar terhadap keberadaan seni rupa di Gorontalo. Ia mengungkapkan, sudah saatnya seni rupa di daerah seperti Gorontalo untuk ambil bagian. 

“Kalau pengartian Maa Ledungga ini menyambut perayaan panen padi oleh petani atau masyarakat Gorontalo pada umumnya, mudah-mudahan dua tahun akan datang, akan ada panen karya seni rupa dari Gorontalo.”

Menurutnya lini kebudayaan seperti ini harus dipertahankan. Karena ia tidak lebih rendah dari politik dan ekonomi. Sehingga perlu juga dukungan dari seniman, masyarakat, dan pemerintah. Apalagi dalam membangun negara, kalau hanya mementingkan ekonomi, yang terjadi  hanya economic animal seperti sekarang ini, banyak korupsi. 

“Kalau mementingkan politik semua gila kuasa, seperti sekarang. Kita harus berani membuat seni rupa menjadi panglima seperti yang dikatakan Gus Mus dalam orasinya di Museum OHD,” tuturnya.

OHD menegaskan, dalam memajukan seni rupa, kita tidak perlu menunggu ekonomi stabil dulu atau politik stabil dulu, baru membangun budaya masyarakatnya. Yang terpenting kita harus membangun manusia dengan budayanya.

Karya perupa asal Bali Galung Wiratmaja dengan judul “Dua Sahabat” dilukis di atas kanvas 65x80cm menggunakan cat akrilik tahun 2015 yang terpajang di pameran karya seni rupa Maa Ledungga. Foto: Zulkifli Mangkau.

Menyikapi Keterlibatan Pemerintah 

Banyak yang bertanya, apakah kegiatan pesta seni bertajuk Maa Ledungga ini mendapat bantuan atau melibatkan pemerintah?

Secara tegas, Awaludin, selaku koordinator kegiatan Maa Ledungga menegaskan dalam konferensi pers-nya, Minggu 15 Desember 2019, bahwa semua rangkaian kegiatan itu murni dikelola oleh masyarakat tanpa ada campur tangan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo. Meskipun sebelumnya sempat terjalin kerjasama dengan pihak pemerintah, tapi dibatalkan secara mendadak dua minggu menjelang pelaksanaan Maa Ledungga.

Maa Ledungga ini dilaksanakan secara mandiri dari tahun kemarin. Tapi tahun ini kami mendapat tawaran dari pemerintah khususnya Bappeda Provinsi. Mereka menawarkan diri untuk membantu perayaan pelaksanaan Maa Ledungga. Namun sangat disayangkan, saat telah melakukan rapat lima kali dan menjelaskan mekanismenya, termasuk hal-hal teknis lainnya, tiba-tiba pihak Bappeda membatalkan menjelang dua minggu kegiatan akan dilaksanakan,” ujar Awal dalam konferensi pers itu. Raut wajahnya memancarkan tanda kecewa.

Alasan pembatalan yang diberikan pihak Bappeda ke panitia karena urusan Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) sulit dilaporkan pada tanggal 11 Desember 2019, saat pembukaan acara dimulai. Padahal rencana kegiatan Maa Ledungga akan dibuka pada tanggal 14 Desember 2019. 

“Tapi Bappeda sendiri yang meminta agar memundurkan hari pelaksanaan ke tanggal 11 Desember 2019. Kami mengiyakan, dan menerima alasan mereka mengejar tenggat waktu pelaporan SPJ. Ternyata, justru SPJ itu dijadikan dalih membatalkan kerjasama.”

Menurut Awal, tak ada masalah sebelumnya antara panitia dan pihak Bappeda, tapi tiba-tiba mereka mendengar pernyataan Bappeda membatalkan tawaran. 

“Kami bisa membuktikan melalui obrolan whatsapp yang sudah kami cetak bagaimana pihak Bappeda yang menawarkan untuk mendukung kegiatan Maa Ledungga.”

“Jika alasan hanya persoalan SPJ, menurut kami sudah dibahas. Dan kami tidak meminta sama sekali, sebab Bappeda-lah yang datang menawarkan diri. Karena dari awal kegiatan ini dikelola secara mandiri oleh kawan-kawan Tupalo dan panitia lain yang terlibat, serta masyarakat sendiri,” tuturnya.

Padahal momentum ini mengenalkan daerah Gorontalo ke berbagai daerah. Karena kami telah membuat daftar perupa ternama di Indonesia yang akan dihadirkan di perayaan tersebut.

“Bahkan dari Bappeda mengusulkan untuk mendatangkan seniman dari luar negeri agar hadir dalam acara Maa Ledungga dan menyanggupi menanggung tiket para seniman tamu,” ujar Awal. 

Ia sendiri sangat menyayangkan sikap pemerintah yang tidak konsisten pada pembahasan pertemuan yang sebelumnya sudah dilakukan beberapa kali. Awal menganalogikannya seperti “menelan ludah yang telah dibuang”. Beberapa seniman dan perupa undangan pun ikut heran dengan sikap pemerintah di Gorontalo yang mau membantu kegiatan seperti itu, sebab sangat jarang terjadi.

“Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Mereka membatalkan tawaran tersebut mendadak. Dan beberapa perlengkapan seperti bambu yang disanggupi telah kami pesan. Terpaksa kami menggunakan uang kas untuk menanggulanginya.”

Pembatalan secara tiba-tiba itu akhirnya pihak penyelenggara kemudian membuka donasi dari publik untuk menanggulangi kekurangan dana yang dibutuhkan. Meski demikian, katanya, karena donasi untuk publik dibuka, pihak Bappeda turut membantu melalui patungan dari setiap individu.

“Bantuannya bersifat pribadi, karena donasi yang dibuka pun terbuka untuk umum. Dana bantuan secara pribadi dari pihak Bappeda itu sampai dengan saat ini kami belum sentuh. Kalaupun dipakai, sisanya akan dikembalikan,” kata Awal.

Hingga kini, pesta seni Maa Ledungga masih terus berlangsung dan baru akan berakhir pada tanggal 28 Desember 2019. Selain pameran seni rupa di tempat penggilingan padi, berbagai kegiatan seni hampir setiap harinya dipentaskan. Mulai dari pentas tari hingga hingga pentas Mohungguli yang dibawakan oleh Hasdin Danial atau yang dikenal dengan sebutan “Pakuni”. 

Bersama warga, mereka terus bergembira, selayaknya bergembira melihat padi yang sebelumnya hijau kini sudah menguning. Sebagaimana penggalan lirik dalam sebuah lagu epik Maa Ledungga itu sendiri: “Maa ledungga sembo lo ta hipongotola, pale ma hilalahe to pangimba.” (*)

Related posts

Matinya Pohon Kami

Admin

Pijar Tupalo di Kota Batu 

Admin

Melintasi Gorontalo-Buol, Membayangkan Amerika-Meksiko

Admin

2 comments

Beri Harapan Dahulu, Batal Kemudian - lipunaratif.com December 14, 2022 at 3:39 pm

[…] rakyat. Hari itu, Minggu 15 Desember 2019, pasar seni rakyat merupakan bagian dari rangkaian acara Maa Ledungga. Awal, panggilan akrabnya, adalah salah seorang konseptor dari Tupalo, penggagas, dan juga […]

Reply

Leave a Comment