Image default
Feature/Indepth Stories

Pijar Tupalo di Kota Batu 

Penulis: Christopel Paino

Malam berselimut dingin, 14 Agustus 2019. Di Kota Batu, Malang, Jawa Timur itu, bulan nampak purnama. Cahayanya menembus dedaun yang beradu dengan pijar bohlam di setiap sudut Studio Jaring. Seorang lelaki memakai topi, berbaju hitam, dan celana panjang berkantung, sembari tangan kanannya memegang pengeras suara. 

Ia Koeboe Sarawan, perupa kelahiran Batu, 58 tahun lalu yang dikenal dengan aliran surealismenya dan karya-karyanya yang dianggap mampu berbicara. Ia selayaknya tuan rumah yang sedang menyambut tamu-tamu yang datang dari pulau seberang: pulau berkaki empat bernama Sulawesi; tamu-tamu yang datang dari iklim kering nan terik dari tanah Hulondhalo. 

Sebagai seorang perupa seni lukis senior yang lahir di Kota Batu, Koeboe Sarawan didaulat membuka acara pameran bertajuk “Pijar Timur” yang dihelat selama dua pekan lamanya; 14-27 Agustus 2019. 

Tamu-tamu itu adalah sekelompok perupa dari Gorontalo yang diberi nama Tupalo. Di dalam Studio Jaring, karya-karya mereka di pajang dan di pamerkan. Studio itu beralamat di Jalan Arjuno, Nomor 8, Kelurahan Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Sang pemilik adalah Iwan Yusuf, lelaki Gorontalo totok asal Kabila, Kabupaten Bone Bolango, yang mencurahkan seluruh hidupnya dari kanvas ke kanvas. 

Syahdan, nama Tupalo bermula di tahun 2018. Ketika itu, kelompok perupa Gorontalo mendatangi pusat kekuasaan di ibukota Jakarta: mereka menjajal Galeri Nasional dengan berpameran dan mengusung tema “Tupalo”, lalu di saat bersamaan, seperti sebuah kelahiran, kelompok itu mendeklarasikan diri bahwa mereka terlahir dengan nama: Tupalo. 

Tidak semua anggota perupa Tupalo tinggal di Gorontalo. Mereka berdiaspora. Sebagian menetap di Jogja, Batu, Malang, Bali, atau Palu. Namun secara kolektif, mereka direkat oleh memori kultural yang kuat berasal dari rahim kebudayaan seorang ibu bernama Hulondhalo.

Tupalo menjadi deklarasi yang menandai, bahwa mereka telah memulai eksistensi sebagai perupa yang berasal dari Gorontalo dan secara serius akan menapaki jalan kesenian, khususnya seni rupa. Selepas deklarasi tersebut, para perupa Gorontalo kembali bergerak dengan program pameran di Batu Malang. 

***

Pengunjung pameran Pijar Timur dari perupa Gorontalo: Tupalo, di Studio Jaring, Kota Batu, Malang. Foto: Iwan Yusuf.

Tangan kiri lelaki itu memegang lampu botol berisi minyak tanah. Matanya terpejam. Sementara tangan kanan memegang sesuatu yang menyerupai tongkat. Pelita di tangan kiri itu seperti menjadi penunjuk jalan baginya; lelaki yang seolah berjalan di lorong gelap kehidupan. 

Lukisan berukuran 100X120 Cm itu adalah salah satu karya Pipin Idris dan diberi judul “Cahaya Untukmu”. Ia menjadi satu dari sekian banyak karya yang dipajang oleh perupa Gorontalo di Studio Jaring Batu. 

Wayan Seriyoga Parta, kurator yang setia menemani para perupa Gorontalo sejak awal, menjelaskan bahwa perupa Gorontalo yang terlibat di dalam pameran ini, mencoba mengelaborasi pemaknaan mengenai spirit dan cahaya pencerahan melalui karya-karyanya. 

Sebagian besar memakai media dua dimensi meliputi: seni lukis, fotografi, teknik digital, dan ada satu karya tiga dimensi dari bahan kayu. Karya tiga dimensi dibuat oleh Riyo Koni dari balok-balok kayu yang diwarnai disusun membentuk komposisi piramid. 

Karya-karya tersebut adalah adalah refleksi dari interpretasi dalam wujud rupa. Pemaknaan mereka mengenai persoalan spirit, berkejaran dengan berbagai persoalan yang menyelimuti diri. 

Wayan menjelaskan, pameran menjadi ruang apresiasi bagi perupa untuk senantiasa mengasah kreativitas, gagasan dan meningkatkan penguasaan teknis berkarya. Program ini menjadi penanda bahwa perupa yang tergabung dalam Tupalo, memegang konsistensi perjuangan bagi kehidupan kreativitas yang telah dideklarasikan. 

“Tidak cukup hanya menyatakan diri lahir dan ada semata. Sebagai entitas hidup fase selanjutnya adalah perjuangan untuk tumbuh dan berkembang,” katanya.

Wayan memilih diksi inggris untuk Tupalo, yaitu being. Itu berarti dari “ada” menjadi meng”ada”. Kata terakhir bermakna bukan hanya sekedar menjalani hidup secara alamiah, tetapi berjuang untuk dapat hidup. Perjuangan yang panjang, dan sangat tidak mudah untuk dijalani. Perlu strategi dan perencanaan baik yang bersifat taktis jangka pendek maupun jangka panjang. 

“Karena seni itu abadi walaupun hidup manusia pendek. Keabadian seniman ada pada karya-karya masterpiece-nya. Lahirnya karya-karya tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan etos dan personalitas yang teruji.”

Oleh sebab itu, Wayan menyebut dibutuhkan sebuah spirit: energi yang menjadi daya kehidupan itu sendiri. Spirit bisa datang dari luar diri sebagaimana matahari yang cahayanya menjadi penopang sumber energi kehidupan di bumi. Tetapi spirit sejatinya adalah daya hidup internal sebagaimana ruh yang menghidupkan mesin organik tubuh kita sebagai makhluk hidup. 

Bagaimana memaknai spirit kehidupan ini? 

“Mungkin kita dapat berkaca dari sejarah semacam renaisans di Eropa tepatnya di Itali, 800 tahun lalu. Sebuah gerakan peradaban yang mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan lampau mereka. Kemudian ditegaskan dengan era pencerahan ‘aufklarung’: bahwa kekuatan nalar akal budi adalah satu pijakan sentral yang kemudian dibarengi dengan penemuan sains dan teknologi.” 

Membawa lahirnya era revolusi sosial dan revolusi teknologi yang membawa dunia ke peradaban baru. Walaupun kemudian ketika manusia mendewakan akalnya tersebut membawa imbas pada kerusakan masal, seperti perang Dunia dan pengerusakan alam akibat keserakahan manusia atas nama kemajuan dan peradaban itu sendiri.

“Kembali ke Tupalo, tentu tidak harus meniru atau mengikuti pola Barat tersebut. Tetapi kita dapat berkaca dari spirit dari gerak laju revolusi yang telah mengubah wajah peradaban global. Serta menentukan mana yang baik untuk dikembangkan sesuai konteks kehidupan kreativitas di sini.” 

Kemajuan teknologi dan informasi juga telah berimbas besar pada pola dan pandangan hidup masyarakat kita dan semakin menguat akhir-akhir ini. Dengan berkaca pada spirit luar secara kritis, kita dapat memilih jalan sendiri dalam mengarahan perkembangan kreativitas yang akan dijalani. 

“Sekali lagi yang perlu dipertimbangkan adalah soal spirit, energi dan daya hidup ada menjadi meng”ada”. Hidup juga merupakan perkara bertahan hidup (survival), sebagaimana halnya menuju eksistensi. Menjadi eksis adalah lapisan persoalan selanjutnya, yang tentu tidaklah mudah untuk dijalani.”

Kreativitas adalah kunci bagi penciptaan, tetapi diperlukan energi yang lebih kuat lagi untuk menjaga kesinambungan berkarya. Menjaga spirit berkarya tidak hanya soal menjaga kreativitas, tetapi juga mensinergikan kehidupan seutuhnya. Banyak persoalan yang  menyertai dari soal domestik hingga renik-renik yang tidak berhubungan langsung dengan kekaryaan tetapi kenyataannya; hal itu semua terkait dalam kesemestaan atau kosmologi kehidupan perupa yang kompleks. 

“Memaknai spirit adalah memaknai sumber energi yang tiada batas. Spirit tersebut bukan hanya dari luar diri, tetapi ada di dalam diri setiap entitas yang hidup. Ketika berhasil digali dan dikenali niscaya terangnya akan memancar keluar, dalam bahasa Bali disebut “Taksu” atau inner beauty.”

Nama-nama perupa Gorontalo yang ikut dalam pameran “Pijar Timur” adalah Anang Musa, Akbar Abdullah, Iwan Yusuf, Jemmy Melewa, Moh Alwin Maku, Moh Hidayat Dangkua, Mohammad Katili, Muh Aziz Alkatiri, Riden Baruadi, Rio Kony, Rizal Masilu, Suleman Dangkua, Syam Terrajana, Talib Eka, dan Tri Nur Istiani Nurdin, dan Pipin Idris.

Tak hanya dari Gorontalo, perupa undangan juga ikut menampilkan karya mereka dalam pameran. Mereka adalah Dadang Rukmana (Malang), Desy Gitari (Yogyakarta), Gusmen Heriadi (Yogyakarta), Imanula Na (Batu), Laila Tifah (Yogyakarta), Nirwan Dewanto (Jakarta), Suryani (Bali), dan Wayan Gde Javadwipa (Bali).    

“Melalui undangan tersebut perupa Gorontalo telah memberanikan diri menyandingkan karya-karyanya, dengan perupa yang telah menjalani kehidupan kreativitas di wilayah lokus medan seni rupa yang telah mensejarah.” 

Bagi Wayan, sikap terbuka yang inklusif ini patut diapresiasi dan menjadi bagian dari konsep yang juga mereka usung yaitu “walama”: duduk bersama beralaskan tikar, teranyam di dalam eratnya nilai kebersamaan dan kreativitas, sekaligus juga siap sedia dengan berbagai hal termasuk kritik dan cemoohan. Sembari menikmati lezatnya sajian rasa khas Gorontalo yang identik dengan ikan dan kehangatan sambal dabu-dabu dengan sensasi pedasnya rica dan segarnya lemon. 

Menjelang akhir Agustus 2019, setelah dua pekan lamanya karya para perupa Tupalo berpijar di Kota Batu, sebagian dari mereka kini kembali ke tanah leluhur. Sebagian lagi kembali ke tempat-tempat “persinggahan” sembari membawa diskursus masing-masing dalam perjumpaan karya-karya mereka.

Tahun depan, di mana lagi Tupalo berpijar?***

Related posts

Diskriminasi Pakaian pada Perempuan: Aku Ingin Lari Jauh

Admin

Separatisme

Admin

Rafiq dan Penolakan Pasien Corona 44

Admin

2 comments

Peristiwa Budaya yang Langka Itu Bernama Maa Ledungga - lipunaratif.com December 19, 2019 at 6:11 pm

[…] dan kearifan lokal orang Gorontalo tetap ada, para seniman dan perupa yang tergabung dalam “Tupalo” merangkai kegiatan Maa ledungga tersebut dengan mementaskan beberapa pertunjukan seni, pasar rakyat […]

Reply
Beri Harapan Dahulu, Batal Kemudian - lipunaratif.com December 20, 2019 at 3:46 pm

[…] suka citanya, kegembiraan Maa Ledungga rupanya memiliki cerita panjang tentang sebuah kekecewaan. Tupalo, sebagai komunitas penggagasnya, beserta seniman lain yang ikut terlibat, menyimpan cerita itu […]

Reply

Leave a Comment