Image default
Feature/Indepth Stories

Porseni Terakhir

Oleh Ady Anugrah Pratama

Sehari-hari bekerja sebagai pengabdi bantuan hukum di LBH Makassar. Menulis adalah rutinitas lain selain terlibat dalam advokasi masyarakat.

 

Tahun 2006, suatu hari jelang pukul lima sore, kontingen transpuan Soppeng belum menemukan peserta untuk lomba peragaan busana baju bodo, seluruh panitia bingung, tak lama lagi lomba akan dimulai, jika tak ada, sebagai tuan rumah mereka akan malu.

Imel (bukan nama sebenarnya) adalah panitia pada kegiatan itu. Tapi dia datang telat, karena baru kelar merias pengantin. Ketika sampai di gedung KONI Soppeng, tempat hajatan Pekan Olahrga dan Seni (Porseni Waria), Imel melihat beberapa orang mulai kisruh dan telah menggelar pertemuan.

“Kalau tidak adapi, saya mi saja,” kata Imel.

Haji Karmin yang saat itu menjadi ketua organisasi waria Soppeng langsung menimpali,

“Oke, jadi mi!”

Imel tak menyangka, tawarannya langsung diterima. panitia bergerak cepat, semua kebutuhan dipersiapkan.

“Setelah saya didandani, dipakaikan sanggul, lo, pakai apalagi ini?”

“Harus pake bra,” yang lain memberi usul.

Bra milik panitia yang lain pun dicopot untuk digunakan Imel.

“Eh, tidak ada isinya, bagaimana caranya ini?” tanya Imel.

Imel ingat, ia punya cangkoneng yang ia bawa dari rumah pengantin tempatnya merias. Cangkoneng adalah kue tradisional berbentuk kerucut dan terbuat dari beras ketan, bagian tengahnya diisi kelapa dengan lumuran gula merah. Diambilnya dua kue itu lalu dimasukkan ke dalam bra kiri dan kanannya.

Usai lomba, cangkoneng ia keluarkan dari bra dan dibagikan ke teman-temannya.

“Eh, makan ko ini,” katanya sembari tertawa.

Persiapan mendadak, bermodal nekat, Imel malah terpilih sebagai pemenang pertama. Ia mengalahkan 47 peserta perwakilan transpuan se-Indonesia Timur.

Porseni berikutnya pada tahun 2007 diselenggarakan di Kabupaten Bone, Imel kembali ikut lomba peragaan busana baju bodo. Ia kembali menyabet juara pertama. Tahun 2008 Porseni dilaksanakan lagi di Kabupaten Sidrap, Imel pun menjuarai lomba peragaan busana baju bodo dan gaun malam.

Imel ingat betul bagaimana prestasi itu membuatnya bangga. Menjadi buah bibir dan mendapatkan kesempatan menunjukkan bakat.

Tapi, ajang Porseni itu tak berlangsung lama.
Pada Januari 2017, ketika Porseni kembali akan digelar di Soppeng, Polda Sulawesi Selatan tak mengeluarkan izin. Acara itu dibubarkan paksa, meskipun panitia pelaksana telah mendapatkan izin pemerintah daerah.

“Kita sebagai orang Soppeng, masiri ki,” kata Imel.

Imel adalah seorang transpuan dari Soppeng. Dia salah seorang panitia bersama komunitas Waria Soppeng dan Kerukunan Waria Bissu Sulawesi Selatan (KWRSS)  yang menjadi motor penggeraknya. Dalam catatan panitia, porseni akan diikuti sekitar 600 peserta dari berbagai daerah. Termasuk perwakilan dari Kalimantan.

Rencananya, porseni waria akan digelar 19 Januari sampai 22 Januari 2017. Sistem kepanitiannya dibagi menjadi dua. Komunitas Waria Soppeng mengurus perizinan ditingkat kabupaten. Dan panitia provinsi dimana KWRSS sebagai leading-nya mengurus perizinan, termasuk dari Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan.

Pada 18 Januari, pernyataan izin secara lisan itu didapatkan di Polda. Hingga para panitia semakin bersemangat. Keesokannya, izin tertulis belum keluar. Namun, jelang pukul 12.00 tiba-tiba puluhan polisi berkumpul di Taman Kalong, tak jauh dari gedung KONI, pusat kegiatan akan dilaksanakan.

Puluhan peserta sudah bersiap. Rencananya pada pukul 14.00 para peserta akan melakukan karnaval. Kostum sudah dikenakan, ada yang menggunakan pakaian sendiri dengan konsep masing-masing. Ada juga yang menggunakan pakaian adat. Seluruh peserta yang sudah berada di lapangan dan menunggu giliran untuk karnaval.

Tiba-tiba, Polisi datang bersama tentara. Suasana menjadi riuh. Wakapolres masuk ke tengah-tengah kerumunan transpuan, ia meminta kegiatan tak dilanjutkan.

Tak terima kegiatannya ingin dibubarkan, panitia pelaksana sempat beradu mulut dengan petugas kepolisian. Siang itu, bahkan terdengar satu kali tembakan. Suasana semakin panas. Tak terima dengan tindakan polisi, tak sedikit transpuan berteriak meluapkan kejengkelan.

“Jadi [awalnya] kita sudah lega, ada polisi. Kami kira polisi datang mengamankan jangan sampai terjadi apa-apa terhadap kegiatan kami,” kata Imel.

“Ternyata kami yang dibubarkan.”

Sekitar pukul 19.00 tiga perwakilan waria menuju Taman Kalong. Di tempat itu sudah ada Bupati dan Kepolisian. Dari pertemuan itu, Bupati menyampaikan porseni Soppeng dibubarkan dan tidak bisa lagi dilanjutkan. Semua orang menjadi lesuh.

“Saya kasihan, paginya nyampe, malamnya pulang. Malah ada yang dari Kalimantan masih ada di laut karena naik kapal dari Samarinda ke Pare-Pare,” ungkap Imel.

Tapi, pengurus KWRSS menyakinkan peserta, jika tahun depan akan kembali mengadakan Porseni Waria. Janji itu ditunaikan. Tahun 2018, Porseni waria diselenggarakan di Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone. Tapi lagi-lagi dibubarkan Kepolisian. Di tempat inilah, Porseni terakhir yang berusaha diselenggarakan, hingga akhirnya tak pernah lagi terlaksana.

***

Sepak bola dangdut, salab satu agenda Porseni Waria. Foto: KWRSS.

Porseni dan Transpuan

Tahun 1999, akan digelar pesta perkawinan di Bulukumba. Hajatan itu dirangkaikan dengan lomba busana adat, lomba gaun malam dan lomba olahraga. Ada banyak transpuan yang datang dari berbagai daerah. Siang hari lomba olahraga, malamnya lomba busana adat.

“Setiap ada acara pengantin ada lomba, Biasanya kita tiga hari di rumah yang punya hajatan. Umpamanya saya kasih pengantin, saya undang mi teman-teman dari tiap kabupaten untuk hadir, jadi dalam tiap undangan kita cantumkan acara pesta tanggal sekian, kalau bisa hadir sebelumnya,” kata Umi Ida.

Umi Ida adalah seorang tranpuan, ia ikut dalam hajatan bersejarah itu. Kini, ia dipercaya menjadi ketua KWRSS, organisasi transpuan dan bissu yang menaungi seluruh organisasi transpuan dan bissu di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Pada hajatan-hajatan pernikahan itu lah, kata Umi Ida, beberapa orang melihat kebersamaan waria. Maka atas inisiasi Fitri Pabentengi dari Bone. Mince dari Bulukumba. Haji Rahman dari Makassar. Haji Gaffar dari Gowa, dan Umi Ida dari Maros, mereka mendirikan forum bersama. Kemudian membentuk organisasi organisasi waria-bissu yang diberi nama Kerukunan Waria-Bissu Sulawesi Selatan (KWRSS).

Pembentukan awal KWRSS itu disepakati Fitri Pabentengi sebagai ketua dan Haji Rahman sebagai sesepuh. Umi Ida sebagai bendahara. Haji Gaffar sebagai sekertaris. Agenda pertama organisasi ini adalah mengadakan Porseni di kabupaten Wajo, pada tahun selanjutnya.

Semenjak KWRSS berdiri sebagai organisasi transpuan dan bissu pada tahun 1999, porseni diselenggarakan setiap tahunnya hingga 2018. Porseni waria menjadi ajang silaturrahmi dan ruang diskusi waria dari setiap kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Sebelum dipimpin oleh Umi Ida, KWRSS dipimpin oleh Fitri Pabentengi yang terpilih sebagai ketua pertama dan menjalankan kepengurusan hingga ia meninggal dunia pada tahun 2018. Sepeninggal Fitri Pabentengi, Kepemimpian organisasi diamanahkan ke Umi Ida.

Umi Ida menjelaskan bahwa porseni merupakan kegiatan utama KWRSS. Kegiatan ini selalu dinantikan oleh transpuan yang ada di Sulsel dan Indonesia Timur.

“Porseni menjadi wadah silaturrahmi seluruh komunitas transpuan dan ajang menunjukkan bakat dan kemampuan sesama transpuan dan masyarakat luas.”

Ratusan peserta yang hadir di setiap Porseni akan menetap di rumah-rumah warga yang telah disiapkan. Para peserta akan memasak kebutuhan komsumsi di rumah-rumah warga.

Sementara pendanaan kegiatan, didapatkan dari setiap kontingen melalui iuran pendaftaran. Penentuan tuan rumah ditentukan pada rapat yang dilaksanakan sebelum penutupan porseni. Biasanya, pengurus organisasi waria daerah mengusulkan daerahnya sebagai tuan rumah. Jika tak ada yang menawarkan, maka pengurus provinsi yang akan menunjuk tuan rumah.

Porseni waria sudah dilakukan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, mulai dari Bulukumba, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Pare-Pare, Maros Luwu, dan Palopo.

Saya bertemu Ade Renalda tepat pada perayaan Hari AIDS Sedunia tahun 2020.

“Selamat hari AIDS Sedunia,” katanya.

1 Desember adalah tanggal yang bersejarah dalam hidupnya. Sebab 1 Desember tahun 1999, untuk pertama kalinya Ia mengukir prestasi sebagai seorang transpuan. Terpilih menjadi waria cantik peduli HIV AIDS dan Narkoba tingkat Kota Makassar.

Ajang itu menjadi pintu baginya untuk semakin membuka diri dan yakin dengan penerimaan dirinya sebagai seorang transpuan. Pada Porseni tahun 2000 di Sidrap, Ia terpilih sebagai Ratu Waria Sulawesi Selatan. Dan kemudian memutuskan bergabung dalam organisasi KWRSS.

Tahun 2007, ia terpilih menjadi Putri Waria Indonesia di Jakarta. Keberhasilannya itu dianggap sebagai campur tangan dari dukungan pemerintah  dan KWRSS. Ia masih ingat teman-temannya di KWRSS membantu mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan saat pemilihan.

“Waktu masuk 10 besar, saya pingsan di tangga saat turun ganti baju. Untungnya ada bissu yang kebetulan ikut, dan membantu hingga saya bisa sadar dan melanjutkan kompetisi,” kenang Ade Renalda.

Setelah menang di Jakarta, di tahun yang sama, ia mewakili Indonesia di ajang Internasional.

Ade merasa bangga akan prestasi itu. Namun ia sangat sadar, bahwa prestasi yang ditorehkannya itu tak lepas dari bantuan banyak pihak, termasuk organisasi transpuan: KWRSS.

Dari tahun 2000 sampai sekarang Ade masih tercatat sebagai pengurus KWRSS. Keterlibatannya di organisasi itu membuatnya belajar banyak hal dan memiliki banyak teman.

“Tidak ada hasil menghianati usaha. Berawal dari organisasi saya mendapatkan banyak hal termasuk pekerjaan, relasi dan koneksi. Saya tidak tahu saat itu kalau saya tidak kenal dengan KWRSS saya mungkin jalan sendiri.”

Sebelum terlibat dalam organisasi, Ade adalah pribadi yang tertutup. Tidak suka bergaul dengan transpuan lain. Tetapi semenjak mengenal organisasi, akhirnya Ia mulai semakin terbuka.

Tapi, ia sangat sedih, tiga tahun Porseni tak diselenggarakan. Pembubaran Porseni membuat transpuan tak memiliki wadah untuk saling bertemu. Tanpa Porseni, hubungan para transpuan menjadi melebar.

“Sekarang bukan hanya porseni yang dibubarkan, biar kegiatan lomba-lomba di pesta kawinan dibubarkan oleh Polisi bersama ormas,” katanya.

Sebelum tahun 2017, kegiatan porseni berlangsung aman dan sukses, tanpa diganggu oleh pihak manapun.

Tahun 2005 Porseni di Pinrang bahkan dibuka secara langsung oleh Amin Syam Gubernur Sulawesi Selatan saat itu. Masyarakat setempat juga sangat mendukung kegiatan Porseni waria.

“Walaupun izin kegiatan dipersulit oleh Kepolisian, tapi komunikasi dengan ormas keagamaan dan pemerintah setempat, Porseni bisa diselenggarakan.”

Pengalaman itulah yang membuat Ade bertanya. Tiga tahun terakhir, pembubaran kegiatan transpuan semakin marak. Tak hanya kegiatan besar, kegiatan kecil pun dibubarkan. Hal ini, katanya, berbanding lurus dengan semakin meningkatnya persekusi terhadap kelompok LGBT. Dilakukan oleh pejabat publik hingga tokoh-tokoh agama.

***

Para peserta Miss Waria Se-Indonesia Timur. Foto: KWRSS.

Menyiasati Keadaan

Setelah pembubaran Porseni waria di Soppeng dan Bone, di banyak tempat terjadi pembubaran kegiatan trasnpuan. Pembubaran kegiatan pernah di alami oleh Caroline bersama komunitas transpuan di Bulukumba.

Caroline adalah transpuan dari Bulukumba, bersama rombongan transpuan dari Bantaeng, Jeneponto dia menuju kecamatan Gantarang, Bulukumba untuk mengikuti acara lomba gaun malam dan lomba lagu dangdut di acara pesta pernikahan.

Ketika Caroline datang bersama beberapa temannya sudah dandan, menuju tempat hajatan. Tiba-tiba sekumpulan orang datang dan mengancam untuk membubarkan paksa.

“Kami tentu kecewa, karena jauh jauh datang untuk menghadiri kegiatan, tapi malah diusir. Tuan rumah hanya menangis dan mecoba menenangkan kami,” kata Caroline.
Berangkat dari pengalaman pembubaran itu, Caroline dan komunitasnya, kadang menggelar kegiatan tanpa melakukan pelaporan pada kepolisian dan pemerintah setempat.

“Itu dilakukan dengan pertimbangan keamanan, setelah belajar dari beberapa kegagalan-kegagalan yang pernah ada,” katanya.

“Kita melakukan acara spontan, tidak melalui undangan. Kami panggil atau chat langsung. Kalau seperti itu biasanya akan berhasil.”

“Kita sebagai komunitas waria di Bulukumba selalu bersatu, bagaiamana caranya kita bisa tampil dihadapan publik.”

“Kalau kami diserang, pasti ada perlawanan dari kami. Tapi, pasti kami ajak bicara baik baik dulu. Bahkan kami pernah kepikiran untuk saling serang saja jika kami diserang duluan.”

Tapi tak hanya di wilayah kabupaten. Di Makassar, pusat kota Provinsi Sulawesi Selatan, pembubaran kegiatan waria juga acap kali terjadi.

“Kemarin saat ada acara buka salon di Jalan Kelapa Tiga, karena itu heboh sekali di medsos, dibubarkan” ungkap Echa.

Echa adalah transpuan yang ramah. Dia selalu tersenyum ketika bercerita. Tubuhnya semampai dan berkulit bersih. Di Makassar, dia mengelola sebuah salon.

“Biasanya, kami sangat didukung oleh masyarakat sekitar, tapi kendalanya sekarang ada di pihak kepolisian,” lanjutnya.

“Sekarang kami komunitas transpuan susah mi untuk ngumpul, jadi kalau ada kegiatan seperti lomba gaun malam, atau lomba apa pun itu pasti antusias.”

Bagi Echa dan teman-teman transpuan lainnya, lomba hanyalah menjadi bagian pendorong untuk saling bertemu. Hadiah untuk para pemenang pun sangat tidak sebanding dengan pengeluaran.

“Biasanya isi amplop (hadiah) Rp150 ribu, sedangkan dari ujung kaki sampai ujung rambut bisa membutuhkan biaya sampai Rp3 juta rupiah,”

“Bagi transpuan, intinya lihat ka begitu ee.”

Lalu bagaimana menyiasati dalam pagelaran lomba atau kegiatan? Apakah setiap waktu harus meminta izin pihak kepolisian dan pemerintah setempat?

“Justru kalau minta izin, justru dibubarkan. Kalau tidak minta izin, aman aman ji,” kata Echa.

Tak hanya itu, semakin terbukanya komunitas waria di Sulawesi Selatan, dan kemudian saling berjejaring. Setiap kegiatan melaksanakan sendiri standar keamanannya.

“Teman teman sudah tak membagikan foto atau video pada saat kegiatan belum selesai dilaksanakan,” kata Echa.

Tapi kegiatan-kegiatan dalam skala kecil, hanyalah sebagai pemenuhan hasrat untuk saling bersilaturahmi. Tapi jauh dari itu, ratusan transpuan, termasuk Echa dan Caroline, masih sangat berharap Porseni kembali diselenggarakan.

Caroline meneteskan air matanya, ketika mengenang itu. Porseni adalah hajatan raksasa bagi transpuan di Sulawesi Selatan. Tempat berkumpul, berbagi cerita, tempat saling mendukung dan ajang bakat.

Related posts

Tentang (Melampaui) Primitivisme: Tanggapan untuk Tarmizi “Arief” Abbas

Admin

Sebuah Epitaf untuk Sapardi

Admin

Kisah Waria di Gorontalo Melawan Corona

Defri

Leave a Comment