Image default
Feature/Indepth Stories

Rafiq dan Penolakan Pasien Corona 44

Oleh: Franco Bravo Dengo

Tenaga kesehatan sering dijadikan “kambing hitam” di masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) ini. Sementara data menyebut, banyak tenaga kesehatan yang terinfeksi bahkan gugur saat menangani pasien Covid-19. Belakangan, mereka dituding menjadi pihak yang memanfaatkan krisis kesehatan untuk meraup keuntungan.

***

Rafiq baru saja mengambil air wudhu ketika telepon genggam miliknya berdering singkat. Sebuah pesan masuk di grup Whatsapp:

“Petugas diharap bersiap menjemput pasien!”

Ia lekas melingkari pinggangnya dengan sarung. Dua orang makmum, istri dan ibu mertuanya, sudah menanti di ruang tengah.Tak seperti biasanya, saat itu ia sedikit terlihat tergesa-gesa. Meski begitu, Rafiq tetap berusaha mengabaikan pesan tadi. Sebagai imam, ia tak mau sedikitpun terlihat gelisah.

“Maaf, kayaknya kali ini cuma sampai Isya,” ujar Rafiq, sebelum mengangkat takbir pertama. Ia memberi isyarat tak ada salat Tarawih di malam ke-27 Ramadan itu, pada Rabu, 20 Mei 2020.

“Saya harus menjemput pasien.”

Dua perempuan di belakangnya sama sekali tidak membantah. Mereka tahu persis konsekuensi pekerjaan Rafiq. Sebelum berangkat, keduanya melempar kata-kata yang berbalut doa kepadanya.

“Hati-hati, Kak,” kata istrinya.

“Kalau pulang mandi dulu. Pakaian langsung rendam,” ibu mertuanya menimpali.

Rafiq nama lengkapnya Muhammad Arafiq Abdullah. Usianya 28 tahun. Ia adalah anggota Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo. Ia bergabung dengan tim ini sejak tahun2019. Dalam kesehariannya, Rafiq bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dunda Limboto. Ia bekerja di rumah sakit rujukan itu sejak tahun 2014, setahun setelah lulus dari Poltekes Palu, Sulawesi Tengah.

PSC merupakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Layanan ini dibentuk tahun 2016 bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan, untuk membantu penanganan kesehatan terhadap masyarakat, yang tidak hanya berhubungan dengan kecelakaan tetapi juga dalam situasi kritis. Di masa pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) ini, tugas mereka berlipat resiko.

***

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WITA. Rafiq tiba di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo. Tidak butuh waktu lama, karena jarak dari rumahnya di Kelurahan Hepuhulawa, Kecamatan Limboto, sangat dekat dengan kantor yang saat ini dijadikan Gugus Tugas Kabupaten itu.

Masker N95, sepatu, kacamata dan baju tebal dua lapis, serta seluruh Alat Pelindung Diri (APD) telah lengkap. Rafiq mengambil nafas panjang. Karena setelah memakai APD itu, bernafas bukan lagi hal yang mudah.

Dua teman perawat dan satu sopir ambulans juga sudah siap. Setelah briefing, mereka berembuk melangitkan doa-doa untuk kelancaran penjemputan. Saling menguatkan.

Mobil ambulans mulai berjalan perlahan keluar dari halaman kantor. Di jalanan, roda mobil makin melaju kencang, sekencang degup jantung Rafiq yang meronta di balik pakaian berlapis. Kacamatanya makin buram tertutup buih. Pertanda kalau sirkulasi udara dan tekanan nafasnya sedang tidak baik-baik saja. Di dalam ruang mobil seluas tidak lebih dari 3 meter itu, ia dan teman-temannya mencoba tenang dan mencairkan suasana.

“Eh, gantian dulu. Giliran kamu yang duduk di belakang bersama pasien. Kan kemarin saya,” cetus salah seorang teman Rafiq, membuka obrolan.

“Pokoknya duduk-duduk saja dulu,” jawab Rafiq, mengajak teman-temannya untuk tetap santai.

Antara bercanda dan takut, tiga sejawat itu saling berebut “kursi aman”. Pada akhirnya, Rafiq mengalah, ia menerima giliran sebagai pendamping pasien.

Hari itu, ada penambahan 16 pasien positif Covid-19 yang diumumkan juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Gorontalo, dr. Triyanto Bialangi, saat konferensi pers. Pasien 44 berinisial WN yang sementara mereka jemput adalah salah satunya.

Mobil mulai masuk ke wilayah Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Rafiq makin terlihat gelisah. Mobil melambat. Sekumpulan orang telah menanti di depan sebuah rumah. Mobil kepolisian juga terparkir di sana. Rafiq mulai mengatur nafas sembari berdoa dalam hati.

Sekitar pukul 21.00 WITA, mobil berhenti di tengah kerumunan. Pintu mobil dibuka pelan, bak layar pertunjukan drama musikal. Satu per satu mereka turun. Suara-suara sumbang mulai terdengar. Nampaknya kedatangan para petugas tidak disukai warga. Rafiq menyaksikan puluhan pasang mata yang melihatnya dengan sorotan miring. Ia mulai melangkah. Sembari menahan badannya untuk tetap tegak. Tegar.

Dari dalam rumah, seorang perempuan yang mengenakan daster terlihat muram. Di dekatnya, beberapa orang nampak tegang. Mereka melihat petugas seperti monster yang siap melahap tubuh mereka. Rafiq dan teman-temanya mendekat. Mulai melakukan pendekatan persuasif, dengan melakukan edukasi dan negosiasi.

“Maaf, Bu. Ibu sudah terkonfirmasi positif Corona. Makanya, ibu akan kami bawa ke Wisma Atlet,” ujar teman Rafiq yang memang dipercaya sebagai negosiator.

Wisma Atlet adalah Gedung Olah Raga (GOR) yang dijadikan tempat karantina pasien Covid-19 di Kabupaten Gorontalo.

“Tidak! Tidak! Saya tidak Corona. Selama ini saya tidak keluar rumah!” teriak wanita itu disusul isak tangis.

Dari hasil tracking, pasien 44 ini diduga terpapar dari pasien 09, seorang jamaah tabligh yang biasa salat di masjid kompleks rumahnya.

WN bercerita, ada banyak warga, tetangganya, yang tidak mau melakukan swab test. Dikatakannya, saat petugas datang, mereka semua menutup pintu. Hanya ia sendiri yang bersedia. Saat pemeriksaan petugas, dirinya bahkan mengaku menyembunyikan anak-anaknya di dalam lemari. Ada juga yang di bawah tempat tidur.

“Kalian senang. Kami orang miskin makin miskin, kalian yang punya duit makin kaya. Kasihan anak-anak saya, pasti akan mencari ibunya!” teriaknya lagi sembari menggendong anaknya, mempertegas penolakan karantina.

Jeritan perempuan itu sontak disambut dukungan dari warga yang berhimpitan seperti sedang menyaksikan konser. Mirisnya, mereka mengabaikan protokol kesehatan, sebagian besar tidak memakai masker.

Situasi makin riuh. Proses negosiasi makin alot. Rafiq beserta teman-temannya makin tersudut. Terkepung. Beberapa kali, lemparan batu menghujam atap rumah. Seperti situasi perang, warga mulai agresif dan para petugas mulai dipukul mundur.

“Kalau kalian berani mengevakuasinya, akan ada masalah besar!” kata salah seorang keluarga pasien disertai ancaman.

Beberapa saat kemudian, bala bantuan tiba. Personil Kepolisian Sektor Telaga Biru, dibantu anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai mengambil alih negosiasi. Pihak kepolisian mulai dengan pendekatan lain. Masyarakat dijelaskan undang-undang tentang menghalang-halangi tugas kepolisian. Seiring dengan penjelasan itu, muncul masalah baru. Tidak ada yang menyadari kalau pasien 44 sudah melarikan diri. Menghilang.

Malam makin larut. Proses negosiasi sama sekali belum menemukan titik temu. Aparat gabungan mulai menyisir rumah-rumah tetangga pasien. Rafiq mulai gerah. Hampir 4 jam ia dibalut pakaian “astronot”. Nafas mulai tersengal. Tim PSC mundur ke mobil ambulans. Mereka hampir menyerah.

Menjelang dini hari, tepat sekitar pukul 01.00 WITA, pasien terlihat dipandu keluarganya. Ia ditemukan bersembunyi di salah satu rumah tetangga. Pasien 44 akhirnya menyerah. Pihak pemerintah desa setempat turut meluluhkan hati sang pasien.

Dengan langkah berat, ia mulai masuk ke dalam mobil. Rafiq menuntunnya dari belakang. Tangis keluarganya memecah situasi dini hari itu.

Srakkk!!! Pintu mobil ambulans ditutup.

Dalam perjalanan pulang, Rafiq yang berhadapan dengan si pasien masih saling membisu. Ketegangan selama 4 jam tadi masih membekas. Ibu dua orang anak itu menutup matanya dengan tangan. Tak lama kemudian, suara keluar dari mulutnya.

“Pak Mantri, terus anak saya siapa yang menjaga?” tanyanya. Kali ini intonasi suaranya merendah, seperti memelas. Pelan.

“Ibu tenang saja. Kan tadi dari pihak pemerintah desa dan kecamatan sudah bilang akan menjamin anak ibu,” jawab Rafiq.

“Bu, saya juga punya anak. Anak saya masih umur satu tahun. Dan pekerjaan saya ini beresiko,” sambung Rafiq.

Seketika pembicaraan sangat kontras dengan drama penolakan di tengah kerumunan warga tadi. Keduanya berbicara dari hati ke hati.

Tak terasa mobil sudah masuk ke halaman Wisma Atlet GOR. Rafiq membantu menurunkan barang-barang bawaan si pasien. Dan mengantarnya sampai ke dalam kamar isolasi.

“Pokoknya ibu tenang saja. Kuatkan hatinya ibu. Sabar,” pesan Rafiq sebelum pulang.

Tugas selesai. Mobil ambulans PSC 119  balik ke Gugus Tugas. Seperti biasa, disinfektan disemprotkan ke setiap sudut pakaian pelindung. Masing-masing mereka lanjut mandi. Menikmati nafas yang kembali murah.

Pukul 02.30 WITA. Waktu sahur sebentar lagi. Rafiq menghubungi istrinya di rumah. Ia menanyakan kesiapan meja makan, dan segera pulang. Bersantap sahur bersama keluarganya.

Keesokan harinya, video penolakan pasien 44 mendadak viral di media sosial, terutama Facebook. Petugas medis yang ada di dalam video, termasuk Rafiq, menjadi bulan-bulanan warganet atau netizen. Kolom komentar dipenuhi cercaan, makian dan fitnah kepada mereka. Tidak jauh berbeda seperti yang mereka alami ketika menjemput sang pasien.

 

WN (37), pasien ke-44 Covid-19 Gorontalo, saat berada di dalam mobil ambulans. Warga Desa Pentadio, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo ini sempat menolak dan melarikan diri ketika dijemput petugas PSC untuk dikarantina. Foto: Istimewa.

***

Selasa, 26 Mei 2020. Enam hari setelah insiden penolakan pasien 44, Rafiq kembali mendapat giliran piket malam di PSC. Kali ini memang tak ada penjemputan pasien. Ia hanya menghabiskan malam di kantor Gugus Tugas. Namun mata terus terjaga dan siaga.

Malam itu juga, ia mulai merasakan respon aneh dari tubuhnya. Barangkali efek kelelahan. Belum lagi besok adalah jadwal piket Rafiq di Rumah Sakit. Pekerja keras seperti dirinya memang sudah terbiasa dengan hal demikian. Tidur tak lebih dari 5 jam.

Esok harinya Rafiq bangun pukul 10.00 WITA. Udara dirasakan tak seperti biasanya. Tubuhnya seperti dilempar bulir-bulir es. Dingin menggigil. Ia memutuskan untuk meminta ijin absen piket di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Meski begitu, di benaknya, ia masih menganggap kondisi itu hanya efek dari kelelahan.

Pukul 13.00 WITA, Rafiq menghubungi istrinya, NSD (27), yang sedang bertugas di Rumah Sakit Ainun Gorontalo. Istrinya juga berprofesi sebagai perawat. Saat itu Rafiq belum membeberkan kondisi yang ia rasakan.

Di perjalanan pulang, usai menjemput sang istri, Rafiq mulai merasakan keanehan lain. Tenggorokannya terasa pahit pekat. Makin lama makin mati rasa. Ia pun menghentikan laju motor.

“Belikan roti. Sekalian obat demam dan vitamin,” pinta Rafiq kepada istrinya.

Setibanya di rumah, roti yang dimakan tadi sama sekali tidak berdampak. Leher Rafiq masih terasa pahit. Demamnya makin tinggi. Di momen itu, ia mulai curiga dengan kondisinya yang berbeda dari lelah-lelah sebelumnya. Di situ ia mulai menganggap,-meski belum sepenuhnya yakin,-kalau itu adalah gejala Covid-19.

“Antar adek sama tante saja.”

Adek yang dimaksud adalah anaknya. Rafiq menyuruh sang istri mengantar anaknya yang masih berumur satu tahun itu kepada tantenya; orang yang biasa dititipkananaknya, kalau mereka sedang kerja.

Istrinya menyanggupi dan tak banyak komentar ketika melihat gelagat Rafiq yang nampak sangat serius. Rafiq pun lekas istirahat dibantu efek obat yang diminumnya tadi. Sampai malam harinya, dalam pembaringan, ia menerima sebuah pesan Whatsaplagi: “Besok, semua anggota PSC akan dilakukan swab test!”.

Kamis, 28 Mei 2020, pukul 10.00 WITA. Rafiq tiba di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo. Puluhan tenaga kesehatan se-Kabupaten Gorontalo juga sudah berkumpul. Harap-harap cemas. Secara bergiliran, mereka dipanggil untuk melakukan swab test.

Dalam pemeriksaan, Rafiq dimintai keterangan mengenai siapa saja pasien Covid-19 yang pernah melakukan kontak dengannya. Selain pasien 44, sebelumnya Rafiq memang pernah menjemput pasien 21. Selama ia piket di PSC 119, hanya dua pasien itu yang pernah ia jemput dan antar.

Sesaat setelah dites, tubuh Rafiq mulai memberi pesan lagi. Kali ini kepalanya terasa pusing. Ia memutuskan untuk pulang lebih cepat dari teman-temannya. Tapi, sebelum ke rumah, ia sempat singgah ke Rumah Sakit Dunda. Minta diinfus kepada teman perawatnya di ruangan “OK”.

“Eh, pakai handscoon (pelindung tangan). Jangan sampai saya corona. Kan, kasihan kamu!” ujar Rafiq mengingatkan kerabatnya.

Sepertiga cairan infus masuk ke tubuhnya. Rafiq pamit pulang ke rumah. Ia minta ijin untuk tidak piket lagi hari itu. Sesampainya di rumah, ia memasang sendiri infus yang dilepas tadi. Minum obat dan istirahat.

Malam tiba. Tubuh Rafiq kembali menggigil. Kali ini lebih bergetar dari sebelumnya. Suhu tubuhnya naik drastis. Penglihatannya sedikit buram. Tenggorokannya seperti memaksa membuang sesuatu. Tiga kali Rafiq muntah. Malam itu menjadi puncak keanehan yang dirasakannya belakangan ini.

Keesokan paginya, Rafiq dibawa ke rumah sakit tempat istrinya bertugas. Hasil rapid test dari rumah sakit dinyatakan negatif. Namun pihak rumah sakit memutuskan untuk menunggu hasil swab test-nya keluar. Selama di rumah sakit, Rafiq dirawat oleh sang istri.

Hingga Minggu pagi, 31 Mei 2020, telepon berdering. Sebuah panggilan masuk.

“Rafiq, sudah ada pengumuman hasil,” kata suara di ujung telepon yang ternyata seorang dokter.

“Terus bagaimana, Dok? Bagaimana hasil saya?” tanya Rafiq, setengah menahan nafas.

“Rafiq positif,” jawab dokter itu, lirih.

Seketika ruang pasien Rumah Sakit Ainun itu menjadi kelabu. Sang istri, yang ada di sebelahnya, tak kuasa menahan tangis. Kematian seolah sedang menunggunya di depan pintu. Namun Rafiq masih tak percaya. Lebih tepatnya, berusaha tak percaya.

“Dok, jangan bercanda! Seriuskah ini?”

Melihat kondisi istrinya yang melemah, Rafiq mulai mencoba menerima kenyataan. Ia menutup telepon dan memasang wajah tegar di depan sang istri.

“Jangan khawatir. Ini tidak apa-apa,” katanya.

Hari itu juga, ia dievakuasi menuju Rumah Sakit Aloe Saboe Kota Gorontalo. Satu-satunya rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Provinsi Gorontalo. Rafiq yang biasa bertugas menjemput pasien, kali ini, justru dirinya sendiri mendapat giliran dijemput.

***

Resiko tenaga kesehatan (Nakes) tertular virus Covid-19 sangat tinggi. Karena setiap hari berinteraksi dalam jarak dekat dengan pasien Covid-19 dan melakukan kontak dengan orang-orang yang berobat (yang mungkin saja) membawa virus corona. Apalagi, ditambah faktor keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) yang sempat menjadi soal.

Hingga 12 Juni 2020, pasien positif berjumlah 185: 7 meninggal, 80 orang sembuh dan 98 orang dalam masa perawatan. Dari jumlah itu, petugas tenaga kesehatanyang positif terinfeksi berjumlah 18 orang, dari berbagai latar belakang.

Belakangan akun twitter Ikatan Dokter Indonesia (IDI) seperti obituarium; hampir setiap minggu ada dokter yang dilaporkan meninggal. Berdasarkan data IDI, tertanggal 12 Juni 2020, selama masa pandemi ini, setidaknya ada 35 dokter di Indonesia yang gugur.

Secara global, International Council of Nurses mencatat hingga 5 Mei 2020, lebih dari 90.000 tenaga kesehatan di dunia terinfeksi Covid-19, bahkan diprediksi jauh lebih banyak. Resiko besar tenaga kesehatan terinfeksi Covid-19 ini, sama besarnya dengan resiko tertular kepada keluarga mereka.

Lalu, pada hari Kamis, 4 Juni 2020. Empat hari setelah Rafiq divonis positif Covid-19, istrinya menyusul ke ruang isolasi. Dari hasil swab test, sang istri dinyatakan positif. 15 orang keluarga beserta puluhan teman yang pernah kontak dengan Rafiq juga dilakukan tes saat itu juga.

Hasilnya, seorang perempuan yang sering dititipkan anaknya, ikut terinfeksi dan dinyatakan positif Covid-19. Tak hanya itu, seorang rekan sejawat yang sempat memasang infus Rafiq juga dinyatakan positif Covid-19.

“Jujur, saya sangat merasa bersalah. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka korban saya,” kata Rafiq.

Saat itu, satu-satunya yang ia syukuri adalah, berdasarkan hasil swab test, anaknya dinyatakan negatif Covid-19.

Rafiq adalah tipe orang yang tidak ekspresif, pendiam, dan agak tertutup. Malam itu, saya menghabiskan waktu hampir 2 jam berbincang dengannya via telepon. Saya mengenal Rafiq sudah lama, sejak kami duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Rafiq menikahi istrinya tahun 2018 silam. Di usia pernikahan yang seumur jagung itu, harus mereka lewati di ruang isolasi. Setiap hari, mereka melakukan video call dengan sang anak. Karena tak bisa jauh dari anaknya, istri Rafiq membawa beberapa pakaian milik sang balita. Untuk sekadar dipeluk sebelum tidur atau sebagai penawar rindu.

“Saya rindu mengajak anak saya jalan pagi,” kenang Rafiq.

Hingga Senin, 15 Juni 2020, Rafiq dan istrinya masih harus melanjutkan karantina, meskipun keadaan mereka sudah membaik. Karena hasil swab teskedua pasangan suami istriitu masih positif. Di saat bersamaan, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Gorontalo, dr. Triyanto Bialangi, kembali mengumumkan terjadi penambahan pasien positif. Tercatat 23 pasien baru dinyatakan positif Covid 19 dan satu orang pasien meninggal dunia. Dari jumlah 23 pasien baru itu, rupanya 16 tenaga kesehatan dinyatakan positif Covid 19.

Bagaimana dengan pasien 44?

Jumat, 5 Juni 2020, dr. Triyanto Bialangi kembali melaporkan perkembangan Covid-19 di Gorontalo. Hari itu, ada penambahan pasien positif sejumlah 5 orang. Sementara 14 pasien lainnya dinyatakan sembuh.

Dari 14 pasien yang sembuh itu, salah seorang di antaranya adalah WN, pasien 44. Pasien yang sempat menolak uluran tangan Rafiq dan dibumbui insiden yang membuat Rafiq dan rekan-rekannya diancam dan di-bully habis-habisan. WN dirawat selama 16 hari dan kondisinya membaik. Berkat menjalani prosedur kesehatan Covid-19, kini dirinya sepenuhnya sembuh, lalu bisa kembali bercengkrama dengan keluarga dan anak-anaknya.***

 

 

 

Related posts

Menjemput Ramadan Bersama Komunitas Yahudi 

Admin

Kala Dayango Jadi Tradisi “Keagamaan” Masyarakat Gorontalo

Admin

Tentang (Melampaui) Primitivisme: Tanggapan untuk Tarmizi “Arief” Abbas

Admin

Leave a Comment