Image default
Mantra Stories

Sebuah Epitaf untuk Sapardi

Oleh: Hasrul Eka Putra

Bekerja penuh waktu sebagai penyuka sastra dan teh-satu-sendok-gula

 

Di sebuah aula yang penuh manusia, lelaki tua itu bercerita. Perihal alih wahana, tentang bagaimana kata-kata bisa berganti rupa dan makna, bahwa segalanya adalah sungai yang berubah laut berubah uap berubah hujan lalu menjadi lumpur menjadi batu menjadi apa saja. Lelaki dengan kebesaran namanya itu lalu berkata dengan rendah hati kepada semua di ruang besar itu: tanpa mereka yang menggubah puisi-puisi saya menjadi lagu, sungguh saya bukanlah siapa-siapa.

Takjub.

Ia, sastrawan besar itu, seolah hendak menelanjangi kepongahan kita yang merasa besar dengan mengecilkan peran orang-orang lain.

Di ruang yang sama itu saya lalu berkelakar kepada lelaki yang lahir 80 tahun silam itu: “Pak Sapardi, dulu sewaktu remaja membaca sajak-sajak Bapak, saya berkata ke diri sendiri, saya tidak boleh mati sebelum bertemu penyair ini. Nah sekarang saya sudah bertemu. Mungkin saya sudah boleh mati”.

Hadirin tertawa. Lelaki itu tertawa. Dan, demi segala puisi yang ada di bumi, saya tiba-tiba merasa sebagai lelaki paling lucu dan beruntung sedunia.

Begitulah saya bertemu pertama kali dengan Si Telaga itu. Dalam sebuah gelaran sastra di Kota Makassar.

Berikutnya, saya bertemu beberapa kali di gelaran yang berbeda. Sambil bertanya-tanya dari mana lelaki tua ini mendapat tenaga. Di umurnya yang renta, ia masih kesana kemari mengabarkan sastra, juga (ini yang paling mengagumkan) terus menulis dengan kata-kata yang lebih luas dari fajar, lebih dalam langit, lebih pasti dari makna.

Hingga suatu sore yang tak sengaja, saat saya berjalan kaki seorang diri di bilangan Cikini, kira-kira dua tahun yang lalu. Di depan sebuah kedai kopi, sambil memegang payung hitam terlipat, lelaki bertopi pet itu diapit beberapa orang. Tampaknya sedang menunggu taksi. Saya tersenyum takzim ke arahnya, ia membalasnya dengan senyum tipis seperti kelelahan. Dan saat mobil jemputan datang, lelaki itu berjalan ringkih masuk ke arah tumpangan. Di situ saya melihatnya lebih ringkih, sebagai orang yang sebermula adalah kata lalu perjalanan dari kota-kota.

Di situ, di fragmen yang sendu-ringkas itu, terakhir kali saya melihatnya. Hingga kemarin, seorang kawan mengabarkan kematiannya, lalu disusul oleh status dan ungkapan duka dari banyak penjuru semesta.

Membaca kesedihan yang lalu lalang di status dan story media sosial, membilangkan saya bahwa hampir setiap kita punya kenangan tentang Sapardi. Kedekatan estetik dengan katakata sederhana yang menjelma puitik. Kita telah bertemu berulang-ulang dengan Sapardi di setiap hujan, di akar pohon bunga, di dalam bis kota, di selembar daun, di dalam kefanaan waktu.

Ia generasi tua yang menjadi “relikui kata-kata” bagi generasi yang lahir jauh setelahnya. Yang kata-katanya dihafalkan, dilantunkan, dijadikan doa yang menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa. Yang mengajarkan untuk menjadi air yang tak henti mengalir, berubah wahana, berganti rupa, tak berpuas bentuk. Hingga di suatu hari yang telah, jasadnya tiada lagi, namun dalam bait-bait sajaknya, dia tidak pernah sendiri.***

 

Sumber foto Sapardi Djoko Damono: Kompas.com

Related posts

Menikmati Ramona Melancholic, Band Folk dari Pohuwato

Admin

Partitur Khatulistiwa di Desa Huntu

Admin

Kisah Miss Lynn, Seorang Pejuang Konservasi di Gorontalo

Admin

Leave a Comment