Oleh: Hafiz Aqmal Djibran
Di sela – sela kegiatan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab di Gorontalo, lipunaratif.com mendapatkan kesempatan untuk berbincang langsung dengan salah satu tokoh seni asal Yogyakarta.
Tepatnya di sudut Huntu Art Distrik (Hartdisk), kami mengobrol banyak hal. Fitri DK bukanlah orang baru dalam dunia seni. Seniman Perempuan dari Yogyakarta, bagian dari kolektif Taring Padi, kolektif seni yang sejak 1998 dikenal sebagai salah satu motor seni berbasis perlawanan sosial di Indonesia.
Lawatan Fitri ke Gorontalo untuk memenuhi amanat sebagai pemateri dalam kegiatan Manajemen Talenta Nasional (MTN). Dalam kegiatan tersebut Ia berbagi pengalaman mengenai praktik ruang kolektif, strategi merawat ruang seni, dan perjalanan panjangnya dalam menafsirkan seni sebagai alat pergerakan.
Belajar Seni dari Kolektif Taring Padi
Fitri menempuh kuliah di STPMD (dulu APMD), sementara banyak anggota Taring Padi berasal dari ISI Yogyakarta. Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan seni sekaligus pergerakan sosial. Yogyakarta menjadi ruang tumbuh yang subur bagi Fitri, baik sebagai kota pendidikan, kota seniman, sekaligus salah satu pusat gerakan reformasi.
Ketertarikan Fitri pada Taring Padi bermula dari sebuah aksi Hari Bumi di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Saat itu, ia turut turun ke jalan bersama gerakan mahasiswa kampusnya. Di tengah kerumunan, ia melihat satu kelompok aksi yang tampil berbeda.
Sekelompok orang dengan musik, poster besar, ogoh-ogoh, hingga patung. “Itu seperti karnaval, tapi ternyata aksi demonstrasi,” kenangnya. Fitri merasakan satu hal kreatif penting dalam menghimpun massa. Taring Padi membuat Ia menyadari ternyata seni mampu menarik perhatian dengan cara-cara tertentu.
Fitri tidak memiliki latar pendidikan seni. Ia justru lulusan sosiologi. Dunia seni pertama kali ia kenal bukan melalui Pendidikan formal, tetapi melalui gerakan mahasiswa dan aksi-aksi sosial di Yogyakarta. “Saya generasi kedua Taring Padi. Masuk tahun 2001 sebagai relawan,” tuturnya.
Di masa itu, ia sama sekali tidak percaya diri membuat karya seni. Seni terasa jauh dari kemampuannya. Bahkan di awal bergabung dalam Taring Padi, ia hanya berani mengambil peran mewarnai.
“Pada awal mulanya saya juga tidak terlalu percaya diri untuk membuat karya pribadi, di Taring Padi pun saya juga masih kurang percaya diri, jadi lebih memilih mewarnai, gitu,” ujar Fitri
Taring Padi memberinya ruang belajar. Ia mempelajari teknik menggambar, membentuk figur sesuai anatomi, memilih tema, hingga memahami kedalaman pesan visual. “Saya belajar seni lewat kolektif,” katanya. Dari Taring Padi lah kepercayaan dirinya perlahan tumbuh.
Baru pada tahun 2005, Fitri memberanikan diri tampil dengan nama sendiri di pameran. Sejak saat itu, keterlibatannya di berbagai pameran baik berskala nasional maupun internasional mulai rutin.
“Mulai tahun 2005 lah aku mulai rutin terlibat di beberapa pameran baik itu di luar dan di dalam negeri, jadi kalau bicara kapan mulainya ya barangkali mulai dari 2001 itu aku masih belajar di taring padi, tapi mulai memberanikan diri untuk memamerkan karya sendiri itu di tahun 2005,” ujarnya.
Masa itu adalah masa transisi dari Orde Baru ke Reformasi. Semangat mahasiswa membara. Aksi turun ke jalan menjadi bagian dari keseharian. “Waktu itu belum terpikir bahwa seniman itu profesi,” ujar Fitri. Yang ia rasakan hanyalah dorongan untuk merespons situasi sosial politik lewat karya seni.
Selain Taring Padi, Fitri juga terlibat dalam kolektif Survive Garage, yang berdiri pada 2009. Kolektif ini lahir dari kegelisahan anak-anak muda seni yang kesulitan memperoleh ruang pamer alternatif. Banyak galeri berbayar mahal dan didominasi oleh kurator tertentu.
Survive Garage memanfaatkan sebuah garasi rumah berukuran sekitar 3 x 4 meter sebagai ruang seni gratis. Siapa pun bisa berpameran, berdiskusi, presentasi, bahkan sekadar menempel karya di dinding. Mereka bahkan menyediakan kopi dan kudapan saat pembukaan.
Bagi Fitri, baik Taring Padi maupun Survive Garage memiliki kesamaan penting dalam memberikan ruang dan peluang yang sama bagi seniman yang ingin mengekspresikan karyanya dengan bebas.
Medium Cukil Kayu Andalan Fitri
Medium yang paling lekat dengan karya Fitri adalah cukil kayu. Bukan tanpa alasan. Teknik ini memungkinkan karya dicetak berulang kali di kertas maupun kain sehingga pesannya bisa disebarkan secara masif.
Teknik cukil kayu merupakan metode cetak dimana gambar dibuat dengan mengukir atau mencukil bagian permukaan kayu yang tidak diinginkan. Bagian yang tersisa (permukaan timbul) akan diberi tinta dan kemudian ditekan ke media lain seperti kertas atau kain untuk mencetak gambar. Teknik cukil kayu populer di masa perjuangan kemerdekaan. Biasanya Teknik ini menjadi pilihan sebagai media propaganda.
Cukil kayu atau woodcut, bagi Fitri, bukan hanya medium estetika, tetapi juga strategi penyebaran pesan. Ketika dicetak di kertas, ia bisa menjadi poster.
“Saya mendapatkan kesadaran bahwa lewat cukil kayu ini bisa dicetak masif ketika kita ingin menyampaikan pesan secara luas, nah dengan itu semua diharapkan pesan dari karya ini akan lebih banyak orang yang lihat, lebih luas, jadi masif gitu,” ungkap Fitri.
Durasi pembuatan karya sangat bergantung pada ukuran dan kerumitan. Ukuran besar bisa memakan waktu hingga satu tahun. Ia pernah mengerjakan tiga seri karya besar selama pandemi Covid-19, dengan detail yang sangat rumit. “Untuk ukuran A4 atau A3, biasanya satu hingga dua minggu,” pungkas Fitri.
Selain cukil kayu, Fitri juga mengembangkan karya seni lewat batik. Ia sedang menekuni pengetahuan lokal sebagai basis medium. Bagi Fitri, praktik-praktik seperti membatik, menganyam, dan menenun tidak boleh berhenti sebagai kerajinan semata.
Semangat itulah yang dipegang sampai saat ini. Ia ingin medium Batik melampaui fungsi utilitarian, menjadi alat menyampaikan gagasan dan perlawanan.
Salah satu contohnya adalah peristiwa di Kendeng. Ia tidak ingin batik hanya menjadi busana. Ia menjadikannya medium untuk berbicara tentang konflik agraria dan perlawanan petani.
“Aku buat (Batik) melampaui fungsinya, menjadi alat untuk menyampaikan gagasan, media Pendidikan, menjadi alat perlawanan gitu, jadi kalau melihat beberapa karyaku yang batik, ada yang ngomongin tentang persoalan di Kendeng,” pungkasnya.
Di Wadas, ia memadukan stagen, kain yang biasa digunakan perempuan pasca melahirkan, dengan anyaman bambu yang dibuat para perempuan Wadas. Dari situ lahir karya anyaman raksasa berukuran sekitar 7 x 6 meter bertuliskan “SAVE WADAS”. Karya yang tidak hanya sekadar objek seni, melainkan simbol perlawanan.
“Saya mengombinasikan itu antara anyaman dan stagen, terus saya membuat anyaman cukup besar, ukuran 7 X 6 meter, anyaman dari kain stagen, motifnya itu jadi tulisan SAVE WADAS, jadi memang utk mengkritisi hal itu,” ujarnya
Merawat Kolektif, Merawat Tujuan Hidup
Dalam MTN, Fitri berbagi tentang strategi merawat kolektif. Taring Padi telah bertahan 27 tahun—usia yang tidak singkat bagi sebuah kolektif seni berbasis gerakan. Ia berbicara tentang pasang surut, konflik internal, kelelahan, hingga cara bertahan. Baginya, merawat kolektif adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan kesediaan untuk terus berdialog.
“Tidak mudah mempertahankan kolektif selama 27 tahun, jadi saya pikir juga penting untuk berbagi, bagaimana sih strategi merawat kolektif, bagaimana bisa bertahan lama, triknya apa, kitanya apa, solusi yang dipilih, naik turun pasang surut sebuah kolektif, jadi saya pikir itu sih,” ujar Fitri
Tujuan Hidup dan Seni sebagai Jembatan
“ingin hidup bermanfaat bagi semua makhluk, bukan hanya manusia,”. Itulah jawaban Fitri saat kami menanyakan tujuan hidupnya. Baginya, keseimbangan antara manusia dan alam adalah hal utama dalam hidup.
Fitri percaya seni bisa menjadi jalan untuk itu. Seni adalah media pendidikan, alat perlawanan, sekaligus jembatan solidaritas. Melalui seni, peristiwa di satu wilayah bisa disuarakan ke wilayah lain. Kesadaran inilah yang ia dapat sejak bergabung dengan Taring Padi pada 2001.
Kunjungan pertama Fitri ke Gorontalo meninggalkan kesan kuat. Ia merasa betah berada di daerah berjuluk Serambi Madinah. Namun yang paling membekas baginya adalah pertemuan dengan komunitas Huntu Art Distrik (Hartdisk), ruang komunitas lintas bidang seni, lingkungan, budaya, hingga pangan lokal.
“Melihat Hartdisk yang mampu mengelola dan bekerja bersama warga itu sangat menarik,” tutupnya.


1 comment