Nelangsa: Sebuah Prosa untuk Pemirsa Seni Rupa di Gorontalo
Oleh: Farlan Hasan Di jantung malam yang masih pekat, saat sunyi merajai ruang, ponselku bergetar. Pesan WhatsApp-mu tiba—sebuah undangan yang membelah keheningan. Kamu menulis: “Salam
Rubrik ini berisi opini baik oleh redaksi atau pembaca yang ingin menyumbangkan tulisannya dalam merespons berbagai isu.

