Oleh: Hafiz Aqmal Djibran
Lipunaratif.com – Kerabat dan keluarga korban yang tergabung dalam Koalisi Anti Kekerasan menuntut proses hukum berjalan transparan sampai tuntas. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Asrama Mahasiswa Muna, Rabu (24/09), Penasihat hukum keluarga korban, Ali Rajab, menyampaikan bahwa pihaknya menuntut polisi segera mengamankan terduga pelaku.
“Bahwa keluarga korban dan koalisi anti kekerasan meminta agar kasus kematian MJ diusut tuntas dengan segera mengamankan pelaku,” tegas Ali.
Dirinya juga menyebut, baik penasihat hukum maupun koalisi belum menerima salinan laporan polisi dari pihak Polres Bone Bolango. Dikatakannya, pihak kepolisian berdalih masih melakukan perampungan berkas. Selain itu, Koalisi Anti Kekerasan dan Keluarga Korban menyayangkan pernyataan dari pihak Polres Bone Bolango yang cenderung gegabah dan tidak netral dalam melihat kasus kematian MJ.
“Kapolres Bone Bolango untuk meminta maaf secara terbuka kepada keluarga korban dan di hadapan publik. Serta mengakui apa yang telah diucapkan merupakan sebuah kekeliruan,” terang Ali.
Kronologi Kematian MJ
Muhammad Jeksen (MJ), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo, meninggal dunia kurang dari 24 jam setelah mengikuti pendidikan dasar (Diksar) Mapala Butaiyo Nusa. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada Senin (22/9/2025), kurang lebih pukul 08:00 di Rumah Sakit Aloe Saboe (RSAS) Gorontalo.
Pada tanggal 19 sampai 21 September 2025, MJ mengikuti proses pengkaderan Mapala. Kegiatan tersebut dinyatakan selesai pada hari Minggu sore (21/09). Kala itu, korban menghubungi temannya bernama Amar melalui WhatsApp. Namun, korban MJ kesulitan berbicara akibat sesak napas yang dideritanya setelah mengikuti pengkaderan, dehingga dia memutuskan panggilan telepon dan mengirim Amar sebuah pesan singkat: permintaan untuk segera dijemput dari Sekretariat Mapala Butaiyo Nusa.
Amar, selaku rekan korban begitu khawatir dengan kondisi Jeksen saat itu, dirinyaa langsung menjemput korban menggunakan sepeda motor. Setibanya di lokasi, Amar dibuat kaget saat melihat wajah korban yang membengkak dan lebam.
“Wajahnya bengkak sekali, ada lebam juga, melihat itu saya tidak tenang, panik. Saya juga sudah takut, takut dia (MJ) kenapa-kenapa. Saya tanya, kenapa bisa begini? Tapi dia (MJ) tidak menjawab karena sulit bernapas. Komunikasi kami melalui ketikan HP, dia meminta agar segera diantar ke Rumah Sakit,” terang Amar.
Minggu (21/09), pukul 22.00 Wita, Amar membawa korban MJ ke Rumah Sakit Bunda, Kota Gorontalo. Kondisinya kian menurun, MJ lemas dan menahan rasa sakit yang luar biasa, ditambah lagi sesak membuat MJ kesulitan bernapas. Tepat pukul 22.30 Wita (21/09), MJ dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Aloe Saboe (RSAS) sebab keterbatasan alat di RS Bunda.
Korban MJ menjalani perawatan intensif beberapa jam di RSAS. Lalu pada Senin (22/09) pukul 08.00 pagi, MJ menghembuskan nafas terakhir. Kepergian Jeksen menimbulkan tanya tentang apa yang terjadi saat dirinya mengikuti Diksar Mapala Butaiyo Nusa.


1 comment