lipunaratif.com
Stories

Garis Pinggir, Pameran dan Salam Perpisahan dari Pak Guru Eka

Penulis: Hafiz Aqmal Djibran

Ruangan di Huntu Art Distrik kembali hangat dengan hadirnya pameran seni. Sisi kiri dan kanan dinding terpajang karya khas goresan pensil. Di tengah ruangan, karya dipajang di atas etalase kayu, menambah nilai “jadul” untuk setiap pengunjung pameran. 

Karya – karya yang terpajang dalam pameran seni rupa bertajuk “Garis Pinggir” adalah milik perupa Talib Rasyid Eka, yang dikenal akrab Pak Guru Eka. Pameran Tunggal miliknya ini dihelat dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2026.

Pameran yang berlangsung selama bulan Mei ini menampilkan karya menarik yang bercerita tentang profesi, memori, hingga barang kesukaan seorang perupa Talib Rasyid Eka.

Talib Rasyid Eka adalah seorang perupa Gorontalo yang karyanya telah malang melintang di berbagai pameran. Meski telah lama berkecimpung dalam dunia seni, perupa yang juga guru di sekolah dasar ini belum pernah mengadakan pameran tunggal. Kesempatan itu baru terwujud melalui pameran bertajuk “Garis Pinggir”.

Pengelola Huntu Art Distrik sekaligus pegiat seni, Awaludin Ahmad bercerita mengenai proses berlangsungnya pameran. Ia menuturkan bahwa pameran tunggal tersebut berawal dari dorongan teman–teman perupa Gorontalo untuk mengapresiasi Pak Guru Eka. Karya seni yang dipamerkan juga merupakan karya lama. Mengingat faktor usia yang tidak memungkinkan membuat karya baru dalam waktu singkat.

“Pak Guru didorong untuk melakukan pameran tunggal tanpa memaksa beliau untuk membuat karya baru, terkait usia juga yang sudah sepuh,” ujar Awal

Melalui dokumentasi visual dari Hartdisk, lipunaratif.com mendapatkan salinan utuh wawancara mengenai pameran tunggal dan perjalanan kehidupan Talib Rasyid Eka.

Bagi Pak Guru Eka, tajuk “Garis Pinggir” memiliki makna mendalam ketika ia mulai mengenal dunia seni. Dari sekian banyak pengalaman hidupnya, satu cerita kecil membekas kuat mengenai Guru SD yang merobek karya gambarnya. Bukan karena gambarnya jelek, melainkan karena tidak memiliki “Garis Pinggir”.

Robekan tersebut memberi memori tersendiri bagi Pak Guru Eka dan pengalaman itu yang memutuskan ia untuk memilih “Garis Pinggir” sebagai tema besar dalam pameran tunggalnya.

Talib Rasyid Eka mengangkat garis pinggir karena pada masa ia mengenyam Pendidikan dasar, garis pinggir menjadi sangat penting dalam setiap tugas sekolah. Ia berseloroh bahwa Pendidikan zaman dulu menggunakan kurikulum “garis pinggir”.

“Dulu semua harus ada garis pinggir, anak – anak kumpul tugas taruh di pinggir (meja), jalan kaki juga di pinggir (jalan),” candanya.

Dijelaskan lagi, makna garis pinggir ibarat mengajak penikmat pameran untuk kembali ke masa Pendidikan dasar untuk membuat garis pinggir sebelum diberi tugas karya menggambar bebas.

“Garis pinggir itu semacam kita kembali ke beberapa puluh tahun lalu, apapun oleh guru kita disuruh buat garis pinggir sebelum menggambar,” ujar

Kegemaran menggambar Talib Rasyid Eka dimulai sejak SD sekitar tahun 1971. Berlanjut saat SMP pada 1974, lalu terus tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di SPG Negeri 1 Gorontalo hingga lulus pada 1977. Baginya, kemampuan menggambar melahirkan banyak kemampuan lain seperti melukis, membuat kriya, hingga menjahit.

“Sejak kecil saya memang suka sekali menggambar,” tuturnya.

Pak Guru Eka percaya bahwa menggambar melatih ketelitian tangan dan kepekaan rasa. Maka tidak heran ketika ia juga mahir dalam menjahit. Sejak usia 16 tahun, Pak Guru Eka memiliki jasa sampingan sebagai penjahit. 

Kemahiran menjahit ia peroleh secara otodidak. Bersama teman sebangku di sekolah, ia belajar proses menjahit dan menghasilkan pakaian. Dalam pengakuannya, secara tidak langsung bakat menggambar menjadi pondasi awal dirinya bisa menjahit.

“Tiga puluh lima tahun saya sebagai penjahit, nanti dekat-dekat pensiun berhenti,” ujarnya.

Karya – karya milik Pak Guru Eka tetap dapat dinikmati hingga bulan Juli nanti di Huntu Art Distrik. Walaupun pagelaran sudah berakhir di bulan Mei.

Senin pagi, 25 Mei, dering notifikasi WhatsApp memecah keheningan. Kabar yang dibawanya begitu menyayat; Pak Guru Talib Eka telah berpulang untuk selama – lamanya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi kerabat, saudara, dan kenalannya.

“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun, telah meninggal dunia Pak Guru Talib Eka, Senin, 25 Mei 2026, Pukul 06.30 Wita di RS Aloe Saboe,” tulis pesan tersebut.

Talib Rasyid Eka wafat di usia 67 tahun. Kepergian sosok perupa senior sekaligus pensiunan guru yang mengabdi berpuluh tahun itu meninggalkan banyak cerita dan karya menarik serta selalu relevan oleh zaman. Bagi Awaludin Ahmad, sebagai pengelola Huntu Art Distrik, sosok Almarhum Guru Eka telah memberi banyak pengalaman dan masukan ke perupa – perupa muda.

“Pak Guru Eka ini perupa senior, dari usia, dari pengalaman, dari banyak hal. Almarhum juga sosok yang banyak memberi masukan karena dia punya pengalaman yang lebih panjang baik sebagai guru atau sebagai perupa sendiri,” ujar Awal yang menjadi penyelenggara pameran terakhir Pak Guru Eka.

Pameran “Garis Pinggir” menjadi perayaan karya terakhir untuk Pak Guru Eka selama dirinya berkecimpung di dunia seni. Ia juga pernah terlibat dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), program pengajaran seni rupa kepada siswa SMA di Gorontalo.

Jejak pajangan karya Pak Guru Talib berawal dari keterlibatan dalam pameran bersama di Bumi Pohala’a Hihidiya, Gorontalo pada tahun 2003, pameran bersama perupa Gorontalo di Ubud Monkey Forest, Bali tahun 2017, pameran bersama Helumo pada tahun 2019, hingga pameran seni rupa UOB Walama #2 di Riden Baruadi Gallery pada tahun 2021.

Selain itu, ia juga terlibat dalam pameran Fundraising Maa Ledungga di Jakarta, pameran Seni Rupa Maa Ledungga #3 di Huntu Art Distrik, dan pameran Moving Space Art Project #7 “Tumbuh Bersama” di Gorontalo. Ketiga pameran tersebut berlangsung pada tahun 2022.

Tak ada yang menyangka, pamera bertajuk “Garis Pinggir” menjadi pameran Tunggal pertama dan terakhir seorang Talib Rasyid Eka. Dari ruang kelas hingga ruang seni, hidupnya penuh dengan cerita dedikasi soal pendidikan dan kesenian. Kini cerita itu menjelma dalam karya – karyanya yang abadi.

Related posts

Peristiwa Budaya yang Langka Itu Bernama Maa Ledungga

Defri

Pameran Ditimoli #2: Jejak Mudarat Program Hilirisasi Nikel Lewat Karya Seni Rupa “Zat Besi”

Redaksi

Buruh Underprivilege di Kampus Gorontalo: Kesejahteraan Kurang, Beban Kerja Lebih

Redaksi

Leave a Comment