lipunaratif.com
Advertorial

Ketika Limbah Aren Disulap Jadi Art Furniture Bermuatan Lokal

Oleh: Hafiz Aqmal Djibran

Selama ini, pohon aren sering dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan gula merah dan penghasil buah kolang kaling. Setelah tidak produktif lagi, pohon aren kerap dianggap sebagai limbah yang tidak lagi memiliki nilai guna.

Banyak petani mengira pohon aren yang telah mati tidak bisa dimanfaatkan lagi. Akibatnya, tanaman dibiarkan roboh seiring melunaknya sel tanaman. Padahal, di tangan orang-orang yang mampu melihat peluang, batang aren yang telah lapuk dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi.

Bagi I Wayan Sudana, batang aren yang tidak produktif bukanlah tanaman yang sudah tidak bisa dimanfaatkan. Menurutnya, limbah batang aren memiliki seni yang bernilai ekonomi tinggi. 

Limbah batang aren diolah menjadi seni kriya yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual. Batang pohon aren yang selama ini dianggap tidak berguna disulap menjadi berbagai produk kerajinan furniture.

Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) I Wayan mengubah limbah batang aren menjadi bahan baku produk seni kriya yang artistik. Program ini didukung oleh DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. 

Sebagai Ketua Pelaksana Program, I Wayan berkolaborasi dengan Huntu Art Distrik Gorontalo dan sejumlah mahasiswa. Dosen Seni Rupa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini mengungkapkan, ide dari inovasi tersebut telah melewati proses riset panjang sejak tahun 2016.

Pemanfaatan limbah batang aren menjadi produk bernilai ekonomi diwujudkan melalui kegiatan bertema “Hilirisasi Art-Furnitue Limbah Batang Aren Bermotif Lokal: Inovasi Seni Kriya dan Digital Branding di Huntu Art Distrik Gorontalo”, Sabtu (08/08/2026).

“Saya didampingi beberapa mitra di sini untuk mewujudkan ide saya yang merupakan hilirisasi hasil riset yang saya lakukan di tahun 2016-2017,” ujar I Wayan.

Hasil karya yang dihasilkan di iantaranya meja, lemari, hingga kursi. Limbah batang aren yang sudah dipotong beberapa bagian, kemudian dihaluskan, hingga warnanya kembali hidup dan diberi motif ornamen khas Gorontalo di masing – masing karya.

“Jadi karena program ini adalah Art Furniture kita hanya menawarkan bentuk meja, kursi, lemari,” sebut I Wayan.

Batang aren yang diolah menjadi produk memiliki daya tahan yang awet dan karakter serat alami yang unik. Tekstur tersebut menjadi salah satu keunggulan yang membuat hasil olahan batang aren memiliki nilai estetika tersendiri.

Selain itu, setiap potongan batang memiliki pola dan bentuk yang berbeda, sehingga menghasilkan produk kerajinan yang memiliki karakter masing – masing.

Karya yang dihasilkan saat ini masih terus dilakukan penyempurnaan. Dalam waktu dekat, produk akan segera di pasarkan ke masyarakat. I Wayan menuturkan, proses produksi karya diupayakan mempertahan ornamen lokal agar produk ini memiliki keunikan dari segi nilai produk, tidak hanya bahan produk saja.

“Jadi produk ini akan menjadi unik dari segi bagan baku, unik dari segi ornamen sehingga nanti kita akan ada story telling nanti di dalam produk ini. Jadi produk ini nanti tidak hanya semata-mata berfungsi sebagai produk fisik tetapi juga ada nilai-nilai yang mereka pertahankan yang mereka ingin sampaikan,” ujar I Wayan.

Sementara itu, koordinator Huntu Art Distrik (Hartdisk), Awaluddin Ahmad sangat mengapresiasi pemanfaatan limbah batang aren menjadi produk seni kriya. Sebagai mitra program, ia turut senang dan bangga dengan Program Inovasi Seni Nusantara yang dilaksanakan di Hartdisk.

“Inovasi yang ditawarkan Pak Wayan dan tim sangat menarik, karena bukan hanya Gorontalo, di banyak tempat di Nusantara limbah batang aren hampir tidak digunakan. Dengan   tawaran baru limbah batang aren dapat di inovasikan dalam bentuk seni kriya berupa produk-produk rumah tangga seperti bangku, meja, lemari, rak, dll,” ujar Awal.

Hartdisk merupakan komunitas yang bergerak di bidang seni budaya, lingkungan, dan pangan lokal. Komunitas ini sering terlibat dalam beberapa program seni dan budaya, pameran, dan ruang edukasi pangan lokal Gorontalo.

Sebagai mitra kolaborasi, Hartdisk bersama koordinator program I Wayan Sudana terlibat dalam menyiapkan Lokasi workshop, kebutuhan dan alat, hingga mencari limbah batang aren di beberapa Lokasi di Gorontalo.

Selain itu, Hartdisk pula dilibatkan dalam menyiapkan monitoring dan evaluasi (monev) dari tim LPPM untuk pengabdian masyarakat di PISN.

Selain menghasilkan produk seni, program ini diharapkan memiliki keberlanjutan bagi masyarakat dan juga pemasaran produk karya di platform digital.

“Diharapkan adanya keberlanjutan program oleh pemuda dan masyarakat setelah program ini selesai, juga pemasaran produk melalui  platform digital, media sosial, ataupun website Hartdisk,” tutup Awal.

Related posts

Upaya Memberdayakan Petani Kakao Gorontalo

Redaksi

Gelar Diskusi, SIEJ Gorontalo Diseminasikan Kabar Baik dari Wallacea

Redaksi

Inhides Memulai Program di Kawasan Penyangga SM Nantu dan Tahura B.J. Habibie

Defri

Leave a Comment