Oleh: Hafiz Aqmal Djibran
Warga Desa Tabongo Timur, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, mayoritas hidup dari hasil pertanian. Secara geografis, struktur wilayah Desa Tabongo Timur berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut serta mencakup perbukitan di area Selatan Desa, membuat Desa ini memiliki kondisi yang cocok untuk kegiatan pertanian dan perkebunan.
Di salah satu sudut area Perkebunan, terlihat tiga unit bangunan yang kokoh berdiri. Bukan bangunan biasa, bangunan ini menjadi sentra industri pengolahan produk kacang sacha inchi, komoditas unggulan yang ada di desa Tabongo Timur.
Tiga bangunan yang dimaksud menjadi tempat pengolahan kacang, diantaranya dua bangunan untuk lumbung pengeringan dan satunya sebagai laboratorium sekaligus tempat produksi minyak sacha inchi.
Kacang sacha inchi merupakan tanaman endemik hutan tropis Amazon, wilayah benua Amerika Selatan. Tanaman ini telah dibudidayakan di Indonesia dan menghasilkan produk yang bermanfaat di bidang Kesehatan. Tanaman dengan nama latin Plukenetia Volubilis ini memiliki buah berbentuk Bintang yang menyimpan 4 – 5 biji kacang, yang kemudian dipanen saat buah berubah warna coklat kehitaman.
Kacang sacha inchi telah menjelma sebagai komoditas pertanian Desa Tabongo Timur, digagas oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sinar Usaha sejak tahun 2021 melalui program ketahanan pangan. Komoditas kacang sacha inchi menjadi tanaman alternatif selain Jagung yang telah dicanangkan senelumnya sebagai prioritas pertanian daerah.
“Saya usulkan kepada pemerintah desa untuk mencari komoditi alternatif selain jagung, dapatlah kacang ini, tanaman endemik Peru, kemudian bibitnya kami sebar ke masyarakat,” ujar Faisal Hidayat, Direktur Bumdes Tabongo Timur.
Faisal Hidayat merupakan warga asli Desa Tabongo Timur, pengalaman panjang menjadi manager di perusahaan pestisida membuat Faisal diberi amanah oleh warga untuk memimpin Bumdes Sinar Usaha yang butuh diselamatkan.
Melawan Stigma Buruk BUMDes
Berkat kemampuan manajerial dan pengalaman berwirausaha, Faisal mampu melakukan transformasi berkelanjutan program usaha Desa, salah satunya pemberdayaan komoditas kacang sacha inchi. Walaupun di awal program resistensi masyarakat cukup tinggi karena stigma Badan Usaha yang terlanjur buruk.
“Awalnya menolak, kita kasih bibit dibiarkan, tanaman mati, tapi ada juga yang menanam, tahun pertama mereka lihat menghasilkan uang, jadi uang ini barang, pecahlah, minta 100 bibit, 50 bibit, begitulah,” pungkas Faisal sembari tersenyum kecil.

Pemberdayaan Bumdes yang semula stagnan, terus menerus tumbuh eksponensial, setiap unit usaha melebarkan sayap sekaligus memberdayakan masyarakatnya. Salah satu unit usaha agro industri pengolahan komoditas, CV. Sinar Usaha Energi Gorontalo yang memiliki produk Sachita, minyak hasil ekstraksi kacang sacha inchi.
Sejak tahun 2022, Badan Usaha Desa Tabongo Timur menerima insentif melalui program – program sosial dari pemerintah maupun Perusahaan. Berkat keberhasilan inovasi tanaman alternatif kacang sacha inchi, Desa ini dilirik Perusahaan Astra melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA).
Selama bermitra, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sinar Usaha Tabongo Timur mendapatkan bantuan berupa bangunan tiga unit yang terdiri dari dua lumbung pengeringan dan satu unit laboratorium sekaligus rumah produksi. Dampak dari bantuan tersebut sangat membantu produktifitas desa ini terutama dalam produksi barang sekaligus lapangan kerja di desa.
“Dalam program CSR, dampaknya itu tidak hanya diukur lewat PAD, mengukur berapa setoran Bumdes ke desa, yang diukur itu berapa tingkat kebahagiaan warga yang tinggal di desa, berapa penghasilannya,” terang Faisal.
Rosdiana, petani kacang sacha inchi yang turut merasakan efek dari hadirnya komoditas tanaman tersebut. Walaupun profesi utamanya sebagai guru ngaji, dalam kesehariannya ia mengelola lahan depan rumah yang ditanami sekitar 30 pohon kacang sacha inchi miliknya.
“Setiap hari saya petik buahnya, saya kumpulkan, lalu dikupas tiga kali,” ujar Ros, sapaan akrabnya.
Awal mulanya ia belum mengetahui tanaman ini memiliki nilai ekonomi, setelah diberikan bibit tanaman oleh Bumdes, ia mulai merawat tanaman kacang ini sehingga bisa meringankan beban ekonominya.
“Sebenarnya dulunya saya tidak tau tanaman ini (sacha inchi), tapi setelah diberi bibit lalu hasilnya dibeli juga oleh mereka (Bumdes), alhamdulillah bisa terbantu secara ekonomi,” terang Ros.
Efek Unit Usaha Agro Industri dalam Hilirisasi Komoditas Pertanian
Eksistensi unit usaha agro industri Tabongo Timur menjelma sebagai katalisator ekonomi Desa. Peran unit usaha sebagai offtaker dalam hasil panen petani di desa tersebut membuat produktifitas pertanian meningkat.
Faisal, selaku direktur Bumdes menyebut keunggulan komoditas kacang sacha inchi yang bisa dipanen setiap hari membuat para petani memiliki pendapan harian. Dalam sehari, rata – rata unit usaha menerima 20 hingga 30 kilogram kacang.
“Rata – rata bisa sampe 20 – 30 kg, mereka (petani) luar biasa, bahkan berkarung – karung dibawa,” ujar Faisal.
Kacang sacha inchi yang diterima kemudian diolah menjadi berbagai inovasi produk. Beberapa produk yang bisa dihasilkan dari kacang ini antara lain minyak, tepung, susu, nugget, teh, hingga tembakau. Di Desa Tabongo sendiri, pengolahan di unit usaha masih fokus pada produksi minyak yang diberi nama “Sachita”, hasil dari ekstraksi biji kacang sacha inchi.
“Kami masih fokus di produk minyaknya, ini cangkangnya bisa dijadikan teh, dan bagus untuk penderita asam urat dengan kolestrol dan gula darah,” terang Faisal.
Inovasi produk di desa ini turut disokong oleh penelitian dan pengembangan dari Jurusan Ilmu Teknologi Pangan, Universitas Negeri Gorontalo. “Kami bekerja sama dengan UNG, dari jurusan ilmu teknologi pangan, mereka yang mengexcercise kami selama 3 tahun,” tambah Faisal.
Di sisi lain, potensi pemberdayaan anak muda di desa untuk bekerja terbuka lebar melalui peranan unit Bumdes. Salah satu pekerja di unit usaha agro industri, Kasim Pakaya, turut merasakan dampak dari hadirnya unit usaha tersebut. Sejak lulus SMA, anak muda asli Tabongo Timur ini langsung mendaftarkan dirinya menjadi bagian dari unit usaha desa tersebut.
“Awalnya sih coba daftar, ternyata lolos, alhamdulillah saya jalani pekerjaan ini sampai sekarang,” ujar Kasim.
Dalam kesehariannya, Kasim menjadi penerima hasil produksi dari para petani sekaligus mengolahnya menjadi produk. Selayaknya pekerja pada umumnya, ia mulai bekerja sejak pukul setengah delapan pagi hingga pukul empat sore, selama enam hari dalam seminggu.
“Tugas saya mengolah kacang sacha inchi menjadi minyak, awalnya terima kacang dari petani, terus digiling menjadi coklat,setelah itu digiling lagi jadi kacang putih, lalu dikeringkan pakai alat dehydrator, jika sdh kering diekstrak sehingga menghasilkan minyak,” terang Kasim sambil memperlihatkan proses di dalam ruangan produksi.
Kehidupan Kasim mengalami banyak perubahan setelah menjadi pekerja di unit usaha agro industri Tabongo Timur. Dukungan orang tua turut menjadi penyemangat kesehariannya yang mampu mengolah hingga 10 kilogram kacang sacha inchi dalam sehari.
“Alhamdulillah betah, saya mendapatkan banyak ilmu dari bisnis ini,” tambah Kasim.
Peluang Ekspor Komoditas Pertanian
Selaku Direktur Bumdes, Faisal bersama para koleganya tak pernah berhenti untuk berinovasi. Keinginannya menjadikan desa Tabongo Timur menjadi mandiri dan mampu memberdayakan petani direalisasikan dengan menciptakan produk baru dan berdaya saing secara ekonomi.
Di tahun 2025, Bumdes Sinar Usaha yang dipimpin Faisal mengupayakan produksi sabut kelapa yang menghasilkan 3 produk yakni cocopeat, cocofiber, dan cocobritle. Faisal bersyukur program Desa Sejahtera Astra (DSA) tahun 2025 sangat membantu sisi produktifitas unit usaha Bumdes.

“Tahun ini kami rencana mengembangkan itu (cocofiber, cocopeat, dan cocobritle) tapi mesinnya baru dipesan di Pulau Jawa, mesin tersebut bisa mengurai sabut kelapa menjadi 3 bagian, cocopeat, cocofiber, dan cocobritle,” terang Faisal.
Potensi ekonomi dari ekspansi usaha milik desa di Tabongo Timur telah terdistribusi secara masif. Produk minyak sacha inchi bahkan dijual melalui reseller di beberapa wilayah Kota dan Kabupaten di Gorontalo, tak lupa pula penjualan secara online.
Sementara itu, Faisal menuturkan bahwa usahanya untuk memperluas distribusi hingga ke pasar internasional. Dengan rasa bangga, Direktur Bumdes ini telah melakukan presentasi singkat dengan Kedutaan Besar Jerman sebagai upaya agar produksi pertanian di Desa Tabongo Timur bisa tembus ke pasar Internasional.
“Saya sudah melakukan pitching, presentasi singkat bersama Kedubes Jerman, masuk ke pasar jerman, Insya Allah, mereka lagi tunggu legalitas kami yang terakhir, saat ini BPOM sudah aman lah,” tutup Faisal.
Desa Tabongo Timur menjadi bukti transformasi desa tidak selamanya lahir dari program besar nan mewah. Terkadang sesuatu tumbuh dari keyakinan sederhana dan tekad warga yang bahu membahu mencapai tujuan lebih baik. Dimulai dari tangan para petani, sebuah komoditas tanaman endemik Peru menjadi sumber hidup yang membuka jalan bagi masa depan ekonomi Desa Tabongo Timur.

