lipunaratif.com
Stories Straight News

MTN Lab 2025 Residensi Gorontalo: Ruang dan Akses Seniman di Indonesia Timur

Gorontalo – Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab di Gorontalo menjadi momentum penting untuk para seniman dan kurator yang tengah mengembangkan kemampuannya di bidang kesenian.

Kegiatan yang dinaungi oleh Kementerian Kebudayaan ini melibatkan penggiat seni generasi muda dari berbagai daerah untuk menerima ilmu dari pemateri dan fasilitator berpengalaman di dunia seni.

Di sesi kelas materi, Jumat (14/11) kemarin, peserta mendapatkan materi tentang pengelolaan ruang seni hingga kerja sama dengan galeri dan pasar internasional. Kelas berlangsung produktif dan dialogis antara peserta dan pemateri diskusi.

Salah satu pemateri, Jumadi Alfi, yang juga pendiri Galeri Sarang di Yogyakarta berbagi pengalamannya dalam membangun galeri seni miliknya.

“Tadi ngomongin ruang dan manajemen, aku sebagai pengelola ruang alternatif sarang berbagi cerita mulai dari yang membangun, mengelolanya, hingga visi misinya,” pungkas Alfi

Lebih lanjut, perupa yang memiliki sapaan akrab Uda Alfi ini menilai potensi para peserta MTN Lab Residensi Gorontalo sangat besar sehingga perlu diadakan secara persisten dan berkesinambungan.

“Materi ini sebagai pemicu. Semoga pemicu kecil ini bisa menggerakan semangat teman teman peserta sekaligus menginspirasi,” ujar Alfi.

Sebanyak 37 seniman dan kurator dari berbagai daerah di Indonesia belajar dan berproses bersama pada kegiatan pelatihan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab di Gorontalo, 10 hingga 15 November 2025.

Di sisi lain, menurut Tim Ahli Manajemen Talenta Nasional di bidang seni rupa, Albert Rahman Putra, MTN Lab mengakomodir para seniman muda yang ingin berkarir lebih jauh di bidangnya. Ia menyebut kegiatan ini bertujuan sebagai titik temu antara talenta muda dan seniman maupun kurator yang memiliki rekam jejak professional dan kaya akan pengalaman.

“Negara punya keinginan utk menjangkau setiap talenta, jadi bagaimana caranya pemateri yg sudah establish atau seniman seniman atau curator yang punya track record istilahnya, kemudian ditularkan kepada anak – anak muda,” pungkas Albert.

Albert menyebut dipilihnya Gorontalo sebagai salah satu tempat penyelenggaraan MTN Lab tahun 2025 agar keterjangkauan para seniman di Indonesia Timur bisa maksimal dan tidak terpusat di Pulau Jawa saja. 

“Kita coba menjangkau publik lebih banyak lagi, lebih luas lagi, karena selama ini masih cukup terpusat di Pulau Jawa atau bagian Barat, kemudian bagaimana MTN kali ini juga menjangkau teman teman yang ada di bagian timur khususnya Sulawesi, Ternate, Kupang, dan lainnya,” sebut Albert.

Walaupun beberapa peserta juga ada yang berasal dari Indonesia bagian Barat, Albert menuturkan hal tersebut sebagai strategi untuk membangun jejaring lebih luas sesama talenta muda. Beberapa peserta datang dari Sumatera dan Jawa baik sebagai peserta seniman ataupun kurator.

“Harapannya sih biar ada komunikasi, jejaring, seperti itu, Jadi mereka juga merasa punya teman seangkatan di banyak Kota,” pungkas Albert.

Selain Gorontalo, beberapa Kota di Indonesia antara lain Gresik, Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar menjadi Kota terpilih untuk program pengembangan talenta muda ini.

Reporter: Hafiz Aqmal Djibran

Related posts

Aksi Refleksi 30 Hari Meninggalnya Mahasiswa IAIN Gorontalo saat Mengikuti Diklat HMJ

Defri

Menjemput Ramadan Bersama Komunitas Yahudi 

Defri

Menikmati Ramona Melancholic, Band Folk dari Pohuwato

Defri

Leave a Comment