Seorang perempuan berkacamata dan bertopi putih pelan mengitari ruang pameran. Di tengah lalu-lalang puluhan pengunjung yang sibuk berfoto, sendirian ia terpaku mencermati satu demi satu lukisan yang terpajang.
Sesekali ia membaca catatan kecil para seniman yang menempel di sebelah lukisan. Lalu ia melangkah lagi ke lukisan berikutnya sembari khusyuk mengamati. Tak hanya lukisan, karya Contemporary Art seperti instalasi seni juga tak luput dari amatannya.
Setelah sampai pada karya terakhir, Lipunaratif menemuinya. Namanya Destiani Dama. Ia mengaku sangat menyukai lukisan.
“Saya juga suka melukis,” kata alumni Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang sekarang menjadi pekerja kantoran, di ruang pameran Riden Baruadi Gallery, Kota Gorontalo, pada Selasa malam (27/10/2026).
Informasi tentang pameran ini diketahuinya dari salah satu perupa yang sering terlibat dengan kegiatan Huntu Art Distrik (Hartdisk). Hartdisk sendiri menjadi salah satu kolaborator dari pameran yang digelar malam ini, selain Riden Baruadi Gallery—tempat pembukaan pameran berlangsung, dan Komunitas Niskala.
“Pameran seperti ini menjadi tempat untuk ‘hidup’ lagi, setelah kerumitan pekerjaan kantor,” ujarnya.
Ia mengaku menyukai semua karya yang dipamerkan oleh para seniman yang terdiri dari lima mahasiswi tingkat akhir Program Studi S1 Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni Rupa dan Desain, UNG tersebut. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah deretan lukisan berunsur kaligrafi dari Fidya Abdali yang berjalur medium Mixed Media.
“Lukisannya memakai media campur dari tanah, pakai akrilik juga, dan kayaknya ketika mengarsir juga sulit. Katanya ada lima macam tanah berbeda yang dipakai pelukis. Keren kan?” kata perempuan berdarah Manado ini.

Ia sempat berbincang sebentar dengan pelukisnya, lalu menggali sedikit informasi bahwa ide awal pelukis karena kanvas lukisan sempat kecipratan lumpur.
“Menurut pelukisnya, lumayan lama ia melukis sejumlah karya itu. Sejak puasa [Ramadan, Februari 2026],” ceritanya.
Selain itu, karya yang juga menarik perhatiannya adalah lukisan bertema Karawo, yang menurutnya mengkritisi kurangnya perhatian kepada para perajin Karawo. “Ternyata kalau beli kain dari perajin Karawo itu lebih murah, dan mereka kurang diperhatikan,” katanya.
Lima Media, Satu Perjalanan Visual
Pameran seni rupa yang dikunjungi Destiani Dama tersebut bertajuk “FOLKLORE: Cultural Through Visual Media”. Puluhan penikmat seni mendatangi malam pembukaan, pada Selasa (27/10/2026), di Riden Baruadi Gallery, Jl. Raja Eyato, Kelurahan Limba B, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Selain itu, untuk hari berikutnya tempat pameran juga berlangsung di Hartdisk, Jl. H. Khalid Hasiru, Desa Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Turut hadir dalam pembukaan Dosen Pendidikan Seni Rupa dan Desain UNG, I Wayan Sudana bersama Djufri Hard sebagai Direktur Riden Baruadi Gallery.
Pameran yang mengusung gagasan “5 Mediums, 1 Visual Journey” ini, akan berlangsung sampai 2 November 2026. Pengunjung bisa datang pada jam buka dari pukul 10.00—22.00 WITA. Ada lima jalur medium yang berbeda yang dipamerkan para seniman masing-masing oleh Fidya Abdali (Mixed Media), Ikahi (Contemporary Art), Nisa Sani (Fine Art Painting), Putri Diyah (Digital Painting), dan Vidya (Printmaking).
Fidya Abdali salah satu seniman berjalur medium Mixed Media mengatakan, inspirasinya untuk membuat karya berakar dari kedekatan dengan alam, serta isu budaya dan lingkungan yang hidup di sekitarnya. Melalui eksplorasi warna dan juga tekstur, ia berupaya menerjemahkannya ke dalam karya.
“Setiap goresan dan material yang saya hadirkan bukan sekadar elemen visual, melainkan sebuah medium komunikasi, untuk mengajak penonton melangkah lebih dekat dan menemukan narasi serta cerita tersendiri yang tersembunyi di dalam karya,” ujarnya.
Ikahi dengan jalur medium Contemporary Art menyampaikan, dalam praktik berkarya ia banyak berangkat dari pengalaman dalam perjalanan kehidupannya. Baginya, setiap pengalaman dapat menjadi bagian dari proses untuk memahami diri, belajar, dan menemukan kemungkinan untuk berubah serta berkembang.
“Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam karya-karya saya, yaitu tentang bagaimana perubahan dapat terjadi melalui proses yang terus berjalan. Seiring berjalannya waktu, ketertarikan saya berkembang pada persoalan lingkungan dan hubungan manusia dengan alam di sekitarnya,” katanya.
Ia mulai melihat bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan. Cara manusia memperlakukan alam dapat memberikan dampak terhadap keberlangsungan kehidupan itu sendiri.
“Dari hal tersebut, saya tertarik untuk melihat kembali bagaimana tindakan manusia terhadap lingkungan dapat memengaruhi kehidupan di sekitarnya. Gagasan ini tidak hanya saya terapkan pada hubungan manusia dengan lingkungan, tetapi juga pada material yang saya gunakan dalam berkarya. Saya sering menggunakan material nonkonvensional, terutama limbah dan barang yang sudah tidak terpakai,” katanya.
Ketertarikannya bukan semata-mata karena material tersebut merupakan barang bekas, tetapi karena adanya kemungkinan untuk melihat kembali sesuatu yang dianggap tidak berguna. Material sisa yang dibiarkan begitu saja dapat menumpuk dan berpotensi menimbulkan persoalan bagi lingkungan. Sebaliknya, ketika material tersebut dimanfaatkan kembali, terdapat kemungkinan untuk memperpanjang keberadaannya dan mengurangi pandangan bahwa material tersebut hanya berakhir sebagai limbah.
“Karena itu, saya melihat penggunaan material bekas sebagai salah satu bentuk eksplorasi terhadap keberlanjutan material,” ujarnya.
Nisa Sani yang berjalur medium Fine Art Painting mengatakan, praktik berkaryanya berangkat dari ketertarikan terhadap lingkungan, alam, budaya lokal, dan kehidupan sosial masyarakat Gorontalo. Dalam proses penciptaan, ia memandang lingkungan tidak hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan pengalaman, nilai budaya, interaksi sosial, serta berbagai persoalan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Salah satu sumber gagasan yang saya eksplorasi adalah tradisi Tumbilotohe sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo,” kata Nisa, yang karyanya mengingatkan kita pada malam menjelang Idulfitri.
Baginya, Tumbilotohe memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tradisi menyalakan dan memasang lampu pada malam menjelang Idulfitri. Tradisi tersebut merepresentasikan nilai kebersamaan, gotong royong, kekeluargaan, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan lingkungan.

“Melalui karya seni lukis, saya berupaya menginterpretasikan pengalaman dan pengamatan tersebut ke dalam bentuk visual sekaligus menghadirkan refleksi mengenai keberadaan tradisi lokal di tengah perubahan kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Proses penciptaan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari observasi lingkungan dan aktivitas masyarakat, pengumpulan referensi visual, eksplorasi gagasan, penyusunan sketsa alternatif, pengembangan komposisi, hingga proses visualisasi pada kanvas. Ia menggunakan cat akrilik dan cat poster sebagai medium utama.
“Dalam pengolahan visual, saya mengeksplorasi garis, bentuk, warna, tekstur, komposisi, serta pencahayaan untuk membangun karakter dan suasana setiap karya. Unsur cahaya pada Tumbilotohe menjadi salah satu elemen penting yang digunakan tidak hanya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai simbol penerangan, harapan, dan nilai spiritual,” ujarnya.
Melalui karya-karya tersebut, ia ingin mengajak penikmat seni untuk melihat Tumbilotohe dari perspektif yang lebih luas, yaitu sebagai praktik budaya yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan, kehidupan sosial, dan nilai spiritual masyarakat. “Saya berharap karya ini dapat menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi, lingkungan, dan nilai-nilai kebersamaan sebagai bagian dari identitas budaya yang terus berkembang.”
Putri Diyah dengan jalur medium Digital Painting yang karyanya bersentuhan dengan seni Karawo menuturkan, keberadaan seni Karawo sebagai warisan budaya takbenda Gorontalo kerap kali dirayakan di panggung fesyen dan pameran megah. Namun, di balik keindahan sulamannya, terdapat realitas para perajin mayoritas perempuan di ruang-ruang domestik yang dihadapkan pada kerentanan sosial ekonomi, beban kerja fisik yang ekstrem, serta ancaman krisis regenerasi.
“Gelisah artistik inilah yang mendorong saya untuk mentransformasikan narasi kehidupan perajin karawo ke dalam bahasa rupa kontemplatif. Melalui pendekatan seni lukis digital dengan teknik freehand, saya mengeksplorasi gestur tubuh, ruang kerja, hingga bahan dan alat mekanis perajin seperti benang, kain, pembidang, silet, dan jarum sebagai simbol bahasa tubuh. kepasrahan sekaligus bentuk resistensi budaya,” katanya.
Media digital sengaja dipilihnya bukan untuk menghilangkan ruh keperajinan (craftsmanship), melainkan sebagai kebebasan ekspresi dalam mengolah kedalaman cahaya, tekstur, dan narasi emosional di era modern. Gagasan utama ini terwujud dalam 10 (sepuluh) karya seni lukis digital.
“Lewat sepuluh karya lukis digital dalam seri ini, saya tidak sekadar menyajikan estetika rupa, melainkan menghadirkan medium advokasi sosial dan kritik kebudayaan. Saya berharap karya-karya ini dapat membuka ruang dialog interaktif, menggugah empati publik terhadap eksistensi perajin di tingkat hulu, serta merawat kesadaran kolektif kita atas keberlanjutan tradisi lokal Gorontalo,” katanya.
Terakhir, seniman yang berjalur medium Printmaking, Vidya, menyampaikan bahwa karyanya bemula pada saat ia menemukan makna lain yang ada dalam cerita rakyat legenda Bulalo Lo Limutu atau legenda asal mula terbentuknya Danau Limboto. Ia menemukan relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan yang banyak ditemukan dalam cerita lama.
“Jilumoto mengambil sayap Mbui Bungale sehingga ia bisa menikahi Mbui Bungale menunjukkan perampasan dan kekuasaan terhadap perempuan yang telah direbut oleh laki-laki demi memuaskan hasrat kepemilikannya. Tidak hanya itu, ada bagian cerita saat Jilumoto mengintip para bidadari-bidadari yang mandi di Tupalo menunjukkan bahwa tidak adanya ruang aman bagi perempuan. Sangat disayangkan, apa yang dialami oleh Mbui Bungale dalam cerita lama ini masih terus terjadi dalam berbagai kasus di zaman modern,” katanya.
Terlepas dari itu, menurutnya Mbui Bungale ialah sosok yang luar biasa sebab dia yang mengambil tindakan untuk mengusir para pelancong yang berusaha merebut mustika dari kayangan. Dia juga yang memperluas Tupalo sehingga bisa menjadi Danau Limboto yang membawa banyak manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
“Perlu digaris-bawahi, Mbui Bungale bukan Jilumoto. Di sinilah dapat terlihat perempuan tidak bisa selalu dikaitkan sebagai sosok yang tidak berdaya. Pada dasarnya sifat tegas dan pemberani tidak memiliki gender. Berdasarkan hal ini, saya memilih untuk menerjemahkannya dalam seni grafis. Seni grafis dipilih karena sifat reproduksinya, sehingga saya berharap pesan yang ingin saya sampaikan bisa tersebar lebih masif,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya media cetak seni grafis sangat variatif. Seni grafis bisa dicetak di media mana pun, entah itu kertas, kanvas, kain, atau dinding. Dalam perwujudannya, ia juga menempatkan diri sebagai Mbui Bungale, sebagai sesama perempuan. Pandangan tersebut dipegangnya sejak awal perancangan karya hingga akhir.
“Jadi pertanyaan, jika saya ada di posisi Mbui Bungale, apa yang akan saya lakukan? Menjadi pengarah yang memandu setiap keputusan dalam karya ini. Legenda ini bukan hanya sekadar mitos. Saya, kamu, kita, dan semua perempuan yang ada di luar sana, setidaknya dalam sekali seumur hidup pernah merasakan pengalaman yang sama. Kita adalah Mbui Bungale di zaman ini,” kata Vidya. (*)
Reporter: Kristianto Galuwo

