lipunaratif.com
Mantra

Setiap Hari Bertaruh Diri

Oleh: Ummul Uffia

Orang-orang Torosiaje akrab dengan hal-hal yang tak menentu. Di laut, misalnya, pertaruhan hidup mereka terjadi dengan mata pancing, jaring, senar, panah, hingga kompresor. Iya, kompresor yang biasanya digunakan untuk mengisi angin ban kendaraan. 

Hampir setiap hari, mereka bertaruh diri dengan keberuntungan dan maut ketika melaut. Bahkan ketika tidak melaut, pertaruhan itu seolah tak pernah benar-benar berakhir. Ia berpindah ke meja-meja permainan, di antara kartu yang dikocok dan bola-bola biliar yang saling bertumbuk.

Pikiran itu tiba-tiba melintas begitu saja, ketika pada suatu sore, saya melihat segepok kartu dikocok lalu dibagikan kepada para pemain biliar. Di atas meja, bola-bola biliar tersusun rapi dalam cetakan berbentuk segitiga. Kartu dalam genggaman setiap pemain adalah penentu. Sebab setiap pemain harus memasukkan bola sesuai dengan angka yang tertera pada kartu.

Pertaruhan pun dimulai. Segala ketidakpastian tersaji di atas meja. Bola meluncur tepat ke lubang, ada yang meleset, ada pula yang justru memasukkan bola putih padahal setiap bola harus masuk sesuai angka pada kartu. Ketika seluruh angka pada kartu di genggaman berhasil diselesaikan, maka pemenang ditentukan. Kemudian, permainan kembali diulang. 

Hal serupa juga ditemukan dalam permainan lain seperti jendral menggunakan kartu remi, bingo, domino, atau patui sebuah permainan dengan kartu hijau bergambar serta bernomor. Melihat beragam permainan yang mengandalkan keberuntungan dan ketidakpastian itu, saya akhirnya bertanya-tanya, “Apakah masyarakat Desa Torosiaje memang menyukai sesuatu yang hasil akhirnya tidak bisa ditebak?”. Menurut tebakanku, hal ini sepertinya berkaitan dengan sejarah panjang kehidupan mereka yang beriringan dengan ketidakpastian, kedekatan mereka dengan alam, dan pertaruhan hidup di lautan setiap harinya. 

Sedikit gambaran, Torosiaje adalah permukiman yang mayoritas dihuni oleh Suku Bajo, terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Warganya mayoritas nelayan dan secara administratif sekarang Torosiaje terbagi menjadi tiga desa yakni Torosiaje Jaya, Bumi Bahari yang berada di daratan, serta Torosiaje yang berada 600-an meter dari daratan menganjur ke perairan Teluk Tomini.

Sebagian nelayan di desa ini terbiasa melaut selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu hingga lebih dari sebulan. Aktivitas ini dikenal sebagai bapongka. Para nelayan akan membawa bahan bakar serta es batu di dalam kotak penyimpanan ikan, lalu mereka berlayar dari satu perairan ke perairan lain untuk berburu hasil tangkapan.

“Bagaimana jika ada badai dalam perjalanan?” tanya saya penasaran, sebab di tengah lautan perubahan cuaca kadang tak menentu.

“Kami akan singgah ke pulau terdekat, biasanya kami memasak, makan, lalu menunggu badai selesai. Jika perbekalan masih aman, kami akan tetap lanjut, tapi jika bekal menipis kami akan pulang,” jawab Hamsa Darise, salah satu nelayan Desa Torosiaje. 

Hamsa dikenal paling sering melakukan aktivitas bapongka. Biasanya dia akan pergi ke Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga berbulan-bulan, menyewa perahu di sana, mencari tempat tinggal sementara, dan pulang jika penghasilannya sudah dirasa cukup.

“[Bapongka] yang lama sekali itu, karena [saat itu] anak saya mau maju skripsi, makanya saya ke Moutong, mancari [mencari ikan] di sana.”

Yang menarik dari cerita Hamsa, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, melainkan ruang jelajah yang memungkinkan seseorang pergi jauh demi memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah kembali, mereka akan menceritakan area-area jelajah itu beserta waktu perjalanan. Barangkali, semangat merantau itu memang tumbuh dari kehidupan yang mereka jalani.

Ketika ditanya tentang perjalanan bapongka, ia menceritakan wilayah jelajah yang luas dan jauh. “Biasanya sampai tiga hari di Lalayo, pulang hanya ambe [ambil] ongkos dan pigi [pergi] lagi.”

Ada beberapa lokasi jelajah yang kerap mereka datangi. Biasanya di Pulau Lalayo area Moutong, perairan Marisa, Pulau Popayato, pulau-pulau di Tilamuta hingga area Sulteng, dan pulau apa saja yang bisa mereka jumpai sepanjang perjalanan.

Bertaruh Nyawa demi Udara

Pertaruhan itu bukan hanya milik para nelayan yang sudah berumur. Anak-anak muda Torosiaje juga menghadapinya.

Anak-anak muda biasanya tidak memiliki perahu sendiri. Jadi mereka akan patungan untuk mengisi bahan bakar, istilahnya menumpang di perahu nelayan, sembari membawa gabus dan perbekalan masing-masing lalu pergi melaut bersama.

Banyak di antara mereka memilih menyelam dan memanah ikan dengan bantuan kompresor. Pilihan tersebut memiliki risiko yang besar. Sering kali nelayan kehilangan nyawa ketika menggunakan alat tersebut untuk menyelam. Jika memakai tabung oksigen, memakan biaya yang sangat mahal, sedangkan kompresor terbilang lebih murah dan dapat menggunakan empat sampai lima selang di saat yang bersamaan. Bagi nelayan, pilihan tersebut terasa lebih terjangkau, meskipun risikonya jauh lebih besar.

Kompresor tersebut juga diberikan perasa, jadi ketika dihirup akan memberikan sensasi mint dan after taste sesuai yang diminta. Sensasi rasa tersebut didapatkan ketika kompresor kotor lalu saat dibersihkan biasanya memakai sabun cuci piring dengan aroma buah. Sabun cuci piring itu digosokkan hingga ke dalam tabung. Pilihan aroma buah dari sabun cuci piring inilah yang kerap diminta masing-masing penyelam, karena memberikan rasa tersendiri dan aroma wangi ketika dihirup saat menyelam.

Namun penyelaman dengan kompresor tentu saja berisiko. Contohnya, suatu siang, ketika berjalan di bawah terik matahari sekitar pukul dua, saya melihat seorang laki-laki muda duduk di bawah sinar matahari. Panasnya menyengat. Saya sendiri sampai harus menggunakan tas untuk menutupi kepala dari paparan matahari langsung.

“Kak, tidak panas?” tanya saya.

Seorang perempuan menimpali, “Memang panasnya yang dia cari.”

Ternyata, laki-laki itu semalam menyelam menggunakan kompresor. Setelahnya, ia kedinginan dan terus menggigil. Kondisi itu ia rasakan hingga siang hari. Oleh karena itu, ia memilih berjemur untuk menghangatkan tubuhnya.

Pernah di lain hari, saya berbincang dengan pemuda bernama Rio, nama yang selalu mengingatkan saya pada minuman teh gelas. Rio ini kerap menyelam untuk memanah ikan menggunakan kompresor. Ia bercerita bahwa dirinya bisa turun hingga kedalaman 16–20 depa, bergantung pada panjang selang dan kemampuan peralatan yang digunakan.

Ketika menyelam, ia terkadang mengalami keram secara tiba-tiba, entah pada kaki kiri atau kanan, atau bagian tubuh lainnya. Jika hal itu terjadi, rasa sakitnya bisa begitu terasa sehingga ia harus meminta teman-temannya mengangkatnya kembali ke atas perahu. Namun, pengalaman itu tidak membuatnya jera.

Setelah menyelam, sebagian nelayan termasuk Rio berusaha mengatasi rasa dingin dengan minuman beralkohol. Karena itu, tidak mengherankan jika sering kali dijumpai nelayan yang mengonsumsi alkohol setelah melaut. Namun, kebiasaan itu tentu tidak berlaku bagi semua nelayan. Ada pula yang memilih teh panas atau air hangat, kemudian mengganti pakaian basah dengan sarung dan mengenakan jaket untuk menghangatkan tubuh.

Ketika saya bertanya apakah ia tidak takut dengan risiko pekerjaannya, ia lantas tertawa. “Risiko pekerjaan,” jawabnya singkat dengan sedikit terhuyung karena pengaruh alkohol.

Kisah tentang risiko menggunakan kompresor saat menyelam, dituturkan pula oleh Mama Sinta. Suami pertamanya meninggal karena menyelam menggunakan kompresor. Ia mengingat, saat itu tubuh suaminya kaku dan sudah kesulitan bernapas di atas perahu. Suaminya tidak sempat dibawa ke rumah sakit atau mendapat pertolongan medis.

“Begitulah kalau mancari (bekerja), pasti ada risiko,” katanya.

Bagi sebagian nelayan, kompresor angin telah menjadi alat bantu kerja sehari-hari. Layaknya laptop bagi jurnalis atau pekerja kantoran; cangkul bagi petani; ketam bagi para pengrajin kayu; atau seperti kuas bagi pelukis. Masing-masing alat membantu seseorang menyelesaikan pekerjaannya.

Tetapi, kompresor yang kerap dipakai para nelayan Torosiaje dirancang untuk mengisi udara ke dalam ban kendaraan, bukan untuk memasok udara ke paru-paru nelayan. Menggunakannya untuk menyelam tanpa sistem penyaringan atau pengendalian tekanan, serta pengamanan yang sesuai dapat menimbulkan bahaya serius. Udara yang terkontaminasi gas buang mesin, termasuk karbon monoksida, dapat menyebabkan keracunan, kehilangan kesadaran, bahkan kematian. Selain itu, penyelaman membawa risiko lain seperti gangguan akibat perubahan tekanan dan cedera paru-paru.

Selintas saya mendengar kisah-kisah kematian nelayan saat menggunakan kompresor kerap dibalut dengan ungkapan seperti “nyawanya dibawa hantu laut” atau “keteguran ketika melaut”. Saya tidak bermaksud meremehkan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat. Namun menurut saya, pada akhirnya ungkapan-ungkapan itu hanya seperti sebuah peralihan dan bentuk denial, bahwa kompresor memang memiliki risiko yang besar hingga mempertaruhkan sebuah nyawa. 

Mencari nafkah, seharusnya sebagai jalan untuk mempertahankan hidup, bukan jalan yang membuat kematian terasa biasa.

Related posts

Rizal Misilu, Si Anak Hilang

Defri

Maa Ledungga #3: Dari Kolektivisme, Adiksi, hingga Nasib Kaum Tani

Separatisme

Defri

Leave a Comment