lipunaratif.com
Mantra

Nelangsa: Sebuah Prosa untuk Pemirsa Seni Rupa di Gorontalo

Oleh: Farlan Hasan

Di jantung malam yang masih pekat, saat sunyi merajai ruang, ponselku bergetar. Pesan WhatsApp-mu tiba—sebuah undangan yang membelah keheningan. Kamu menulis:

“Salam hangat, Kawan Sejiwa dan Senira. Maafkan aku jika larik-larik pesan ini harus menyusup ke tengah lelapmu, mengusik hening yang tengah kau dekap. Aku hanya ingin mengetuk ingatanmu, mengajakmu kembali ke pelataran ‘rupa’ yang dulu sering kita bicarakan.

Aku mengundangmu untuk bertandang ke sebuah perhelatan seni rupa—sebuah perayaan estetik yang kebetulan turut aku rawat persiapannya sebagai salah satu penanggung jawab. Besar harapanku agar kau bisa menemukan sepotong ingatan di sana. Sebab dalam benakku, kau tetaplah sahabat seni yang paling karib sejak kita masih belia. Meski waktu dan pilihan hidup yang dewasa sempat memaksa langkah kita bersimpang jalan, namun gairah yang sama kurasa tetap berdenyut dalam nadi kita masing-masing.

Mengenai waktu dan tempat bernaungnya karya-karya ini, tertera pada poster yang kusertakan, ya. Jangan biarkan ia terlewat begitu saja. Aku akan menantimu di sana, menunggumu kembali menyapa keindahan bersama-sama. Sampai berjumpa di sana.”

Seketika, tubuhku yang terlentang kaku dipaksa bangkit, melenting bak pegas yang terlepas dari belenggu, seolah tercerahkan oleh pesan itu. Tawaranmu untuk mengunjungi pameran seni itu terdengar seperti nyanyian lama yang memanggil pulang. Kau mengajakku menyusuri lorong-lorong tempat imaji masa kecilku pernah berlabuh. Bagiku, ajakan itu adalah cermin yang memantulkan kembali kepingan mimpi yang telah lama tumpas—mimpi malang yang dikubur hidup-hidup oleh keegoisan orang tua yang hanya menginginkanku menjadi budak kekuasaan. Mendengar pesanmu, bara yang telah padam di jiwaku mendadak menyala kembali. Aku mengiyakan tanpa ragu.

Setelah pagi di hari Minggu menyapa, langkahku bergegas bersama sejuta tanya yang membubung tinggi ke langit-langit imajinasi. Di jaket Levi’s-ku terselip sebotol nira dari tanah Sumatra—tetesan manis kenangan yang turut kubawa sebagai persembahan bagi rindu yang belum tuntas. Bentang jalan menuju pelataran pameran ini terasa bagai labirin panjang yang menguji raga, menguras peluh hingga ke sumsum tulang. Namun, biarlah keletihan ini menjadi tumbal yang manis. Sebab di ujung pengembaraan ini, aku bukan sekadar mendatangi sebuah lokasi, melainkan sedang mengunjungi mimpi masa kecil yang selama ini bersembunyi di balik kabut waktu.

Setibanya di ambang gerbang pameran itu, kegembiraan yang telanjur mekar seketika layu dan remuk redam. Di hadapanku, bukan keindahan yang menyambut, melainkan bentangan benda aneh yang asing bagi indra. Bagiku, mereka tak lebih dari sekadar rongsokan yang dimuntahkan laut, sisa-sisa hutan yang terluka, dan ayunan bayi yang terlalu mirip dengan yang pernah kulihat di rumah bibiku. Setumpuk bekas peradaban tak berdaya itu seolah menjadi maskot bisu yang menyambutku di tempat yang kau agungkan sebagai “pameran seni” ini.

Setelah melewati “penghuni gerbang” yang ganjil itu, langkahku kembali terhenti, terpasung oleh sepasang objek yang terasa seperti sebuah pengkhianatan terhadap ingatan. Di hadapanku, tersaji rakitan bambu kuning yang dahulu aku kenal sebagai dua sosok agung. Dalam ruang-ruang suci di kampung halaman, mereka adalah sang penjaga tangga, sosok buaya yang menganga untuk menelan segala keburukan sebelum memasuki rumah pada hari-hari sakral. Mereka adalah simbol perlindungan, sebuah perkakas budaya yang akrab dan dihormati.

Namun di sini, di bawah lampu pameran yang dingin, “Buaya ala budaya” itu telah tercerabut dari jiwanya. Mereka bukan lagi penjaga yang berwibawa, melainkan telah dimutilasi hingga yang tersisa hanyalah kengerian yang telanjang. Bambu-bambu itu dipaksa menyerupai tengkorak dan tulang-belulang yang terekspos tanpa ampun, seolah-olah tradisi kita telah mati dan hanya menyisakan bangkai untuk ditakuti. Di tempat ini, mereka tak lagi menjanjikan kesakralan. Mereka hanyalah korban sekaligus tontonan bagi mata awam yang haus akan rasa penasaran.

Apakah mereka hanyalah maskot kedua yang tengah mengawasi langkahku menuju karya seni yang sebenarnya kau maksud? tanyaku dalam sunyi.

Langkahku kembali terhenti di hadapan sebuah pelataran yang sunyi. Di bawah rangka besi persegi yang telanjang—sebuah sangkar tanpa atap yang membiarkan cahaya langit jatuh dengan dingin—tegak sekumpulan batu nisan yang seolah baru saja bangkit dari sejarah. Namun, mereka tidak sedang menunggui jasad. Bagiku, mereka seakan saksi-saksi bisu dari sebuah percakapan masa lalu yang membeku. Di pusat kerumunan itu, sebongkah batu raksasa berdiri dengan sangat perkasa. Ia tampak seperti seorang pemimpin atau sebuah “Monumen Ingatan” yang menjaga barisan batu-batu kecil di sekelilingnya agar tidak hilang ditelan zaman.

Namun, pemandangan yang paling menyentuh batinku adalah beberapa batu yang tampak melayang, tergantung di udara seolah sedang berusaha melepaskan diri dari beratnya beban bumi. Mereka ditemani oleh lempengan ayat-ayat Arab yang ikut berayun tertiup angin. Di sini, aku menafsirkan—alih-alih melihat—sebuah pemandangan yang mengharukan: ayat-ayat suci itu tampak seperti tangan-tangan cahaya yang sedang mencoba mengangkat beban batu yang berat menuju langit. Namun, mereka akhirnya terhenti di tengah jalan; tak lagi menyentuh tanah, namun belum juga sampai ke pelukan Tuhan.

Wahai sahabatku, apakah gerombolan nisan tak bertuan ini adalah maskot terakhir yang harus kujumpai, sebelum akhirnya aku menemu-sapa bersama karya seni yang sejak awal kau janjikan itu? Aku bertanya lagi dalam sunyi.

Dalam ingatanku, sekilas terlintas sebentuk praduga: Jangan-jangan, rongsokan penuh lara, buaya-buaya nan sengsara, dan nisan-nisan bergaya postmodernisme itulah yang kau sebut sebagai karya seni?

Ah, sejenak, izinkan aku menyesap nira yang sudah kupersiapkan dari rumah ini. Sambil menengadah ke langit yang muram terbalut mega hitam, kuteguk cairan manis itu sebagai pelipur atas segala kejanggalan yang baru saja kutemui. Rupanya, hatiku masih bersikeras mencari sosok “maha seni rupa” yang kau ceritakan tempo hari. Di sela tegukan itu, mataku tak sengaja tertambat pada siluet replika seekor burung hantu hitam. Ia bertengger anggun, seolah menjadi penjaga abadi di atas pendopo bekas peninggalan Majapahit ini. Aku pun kembali berbisik pada sunyi: Apakah makhluk sebatang kara itulah yang selama ini kau labeli sebagai karya seni rupa?

Tepat saat tanya itu menggantung di udara, sebuah tepukan mendarat lembut di pundakku, memecah lamunan. Aku berpaling, dan di sana berdiri seorang pria bertopi snapback, dibalut kaus hitam bertuliskan “Obito”—sebuah merek percetakan sablon kecil yang tertatih di bawah bayang-bayang raksasa kapitalisme—yang begitu akrab dalam ingatanku. Ternyata itu kau, sang kawan yang telah mengutusku ke tempat penuh maskot ini. Seketika kamu langsung menyapaku sambil tersenyum.

“Bagaimana? Elok sekali, bukan?” tanyamu.

Mendengar tanya yang kau lemparkan itu, aku serta-merta meluapkan apa yang sedari tadi bergejolak dalam benak atas segala yang kutemui di sini. Bagiku, alih-alih bersua dengan kemolekan lukisan bergaya Mooi Indië serupa gubahan Raden Saleh, pandanganku justru terbentur pada seonggok limbah laut, limbah hutan, dan limbah rumah tangga yang berantakan—tergantung tak berdaya dalam rupa yang semrawut.

Alih-alih menemukan keajaiban pahatan penuh kerumitan layaknya mahakarya Michelangelo, yang tertangkap oleh mataku hanyalah segerombolan batu yang tengah meringkuk dalam nestapa, membisu di hamparan yang sunyi. Lantas, keelokan seperti apa yang kau maksudkan dari benda-benda ini?

Setelah jawabanku itu, tawamu pecah begitu lantang, memecah kesunyian seolah sedang merayakan kekonyolanku. Tanganmu mendarat di bahuku, sebuah tepukan ringan yang mengiringi gelak yang seakan mengejek. Seketika itu juga, aku menyadari bahwa di matamu, aku telah menjelma menjadi lelucon yang paling jenaka. Dalam sisa tawa yang masih menggantung di udara, kamu menatap nira yang tengah kupeluk erat dalam genggaman, lalu dengan suara yang rendah dan penuh pinta, kamu berucap, “Boleh aku mencicipi sedikit nira itu?”

Dengan senyum yang tersisa, kubagi nira ini bersamamu. Manisnya nira di antara kita seolah menjadi penanda, di mana keluhku akhirnya menemukan pendengar. Seketika, teduh bicaramu mulai menyingkap tabir atas keresahan yang kurasakan. Kau pun bercerita:

“Wahai kawan kecilku, nampaknya telah terlalu lama kau terasing dan tak saling sapa dengan apa yang bernama seni rupa. Aku pun lamat-lamat memaklumi, bahwa kita memang menghuni kota kecil yang tertinggal dari deru perkembangan maupun riuh wacana seni rupa. Maka, izinkanlah aku menyalakan lentera untuk sekadar menyingkap tabir tentang ‘makhluk aneh’ macam apa yang tengah kau jumpai di tempat ini.

Sahabatku, seni rupa sepertinya bukan lagi sebuah bilik sunyi yang hanya dihuni oleh para pelukis dengan jemari yang menari di atas kecakapan artistik, dengan pokok perupaan surgawi. Ia pun bukan lagi rumah berdinding baja bagi pematung ulung yang menekuni disiplin teknik begitu ketat seperti yang kau kagumi itu. Seni rupa hari ini adalah cakrawala tanpa tembok pemisah, sebuah bentang alam tanpa pagar isolasi. Seni yang hanya bersandar pada kemolekan semata, atau keindahan otonom yang memuja ‘seni untuk seni’, kini terasa seperti padang tandus yang kian usang.

Jika ingatanku tak berkhianat, seluruh prahara ini mulai meledak hampir seabad silam di tanah Eropa. Kala itu, gairah zaman mulai jemu terhadap seni yang terlampau rapi, kaku, dan seolah bersemayam di atas menara gading yang jauh dari denyut realitas. Lalu, lahirlah Dadaisme—sekumpulan jiwa muda yang melayangkan protes melalui radikalitas karya.

Bagi mereka, seni tak lagi harus dilahirkan dari titik nol melalui peluh penderitaan. Mereka cukup memungut benda-benda dari tepi jalan atau pasar—apa yang mereka sebut sebagai ready-made—lalu memboyongnya masuk ke altar galeri. Tujuannya hanyalah satu: memantik kebingungan dan memaksa dunia bertanya, ‘Benarkah ini sebuah karya seni, atau sekadar barang rongsokan yang tersesat?’ Mereka sedang meruntuhkan sekat antara keindahan adiluhung dan fungsi praktis barang sehari-hari.

Ingatkah kau pada Marcel Duchamp? Dialah sang pionir yang paling berani, atau mungkin yang paling jenaka. Ia mengambil sebuah urinoir, menabalkan nama Fountain di atasnya, dan menandatanganinya dengan nama samaran. Melalui tindakan itu, ia seolah berbisik pada semesta: ‘Seni bukanlah perihal seberapa piawai tanganmu memahat, melainkan seberapa liar gagasanmu menjungkirbalikkan nalar.’ Di sanalah, benih seni konseptual mulai bersemi.

Zaman terus berputar hingga kita bersua dengan era Pop Art. Sosok seperti Andy Warhol mulai memboyong kaleng sup Campbell hingga potret pesohor ke dinding-dinding galeri yang megah. Jika Dadaisme adalah sebuah protes, maka Pop Art adalah sindiran sekaligus perayaan atas budaya massa. Mereka mewartakan bahwa seni tak selamanya harus suci atau eksklusif; seni bisa menjadi begitu merakyat, massal, bahkan tampak banal.

Di negeri kita sendiri, Indonesia menyimpan narasi yang tak kalah bergelora pada medio 70-an. Sekelompok jiwa muda—mulai dari Jim Supangkat hingga Nyoman Nuarta—merasakan kegelisahan yang sama. Mereka menghimpun diri dalam Gerakan Seni Rupa Baru dan memekikkan manifesto ‘Desember Hitam’. Mereka jengah terhadap seni yang hanya diizinkan tampil molek, dekoratif, atau liris di atas kanvas. Mereka berhasrat mendobrak sekat itu! Mereka mulai berani menjamah instalasi dan lingkungan. Baginya, seni harus berani bernoda dan bersentuhan langsung dengan kenyataan.

Kini, setelah melampaui badai Dadaisme, Pop Art, hingga Gerakan Seni Rupa Baru, seni rupa kita telah memasuki rupa yang kita sebut sebagai Pluralisme. Seni telah menanggalkan jubah elitisnya yang mahal. Ia turun dari langit, lalu melebur dengan rona kehidupan kita sehari-hari—yang terkadang manis, namun lebih sering terasa getir. Inilah yang kita maktubkan sebagai Seni Rupa Kontemporer. Di dunia ini, tak ada lagi aturan yang absolut. Tak ada satu gaya yang berhak merasa paling digdaya. Semuanya sah! Baik itu serpihan sampah visual, teknologi digital, hingga gerak tubuh, segala hal kini boleh menjelma karya.

Jadi, coba deh lihat sekelilingmu sekarang. Batu-batu nisan yang diam membeku itu, atau rakitan bambu buaya yang berjaga di sana… itu semua adalah anak kandung dari sejarah panjang tadi. Mereka adalah wujud nyata dari seni masa kini yang sedang bertamu di kota ‘Serambi Madinah’ ini. Mereka hadir bukan untuk sekadar dilihat cantik atau tidaknya, tapi untuk mengajak jiwamu mengobrol.”

Sepanjang kau bercerita, aku mematung dalam khidmat, membiarkan setiap penjelasanmu mengalir tenang ke dalam benakku. Hingga pada puncaknya, kau menyudahi segalanya dengan sebait kalimat yang meruntuhkan nalar.

Kawanku, waktu sepertinya telah melipat jarak pertemuan kita terlalu lama. Kini saatnya aku harus beranjak lebih dulu, sebab masih ada deretan tanggung jawab yang menanti untuk dituntaskan. Mengurai benang merah sejarah seni rupa kontemporer rupanya tak akan pernah cukup diselesaikan hanya dalam hitungan jam hari ini. Mari kita simpan sisa percakapan ini untuk pertemuan yang lain, di waktu yang lebih tenang. Sebagai penutup, izinkan aku menitipkan satu simpul pemikiran: bahwa di tengah riuh rendah medan seni yang serba centang perenang ini, keberpihakan barangkali adalah kunci utama agar sebuah karya tidak sekadar lahir, melainkan bermakna.”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, kau lantas bergegas meninggalkanku. Aku pun menyudahi perjumpaan kita dengan sesapan terakhir nira yang tersisa. Lantas, bersiap menyusul jejakmu yang telah lebih dulu melayap dari sini. Langkah kakiku kini berayun menuju pintu keluar, sementara benakku masih tertawan oleh gema percakapan kita tadi.

Pikirku, meski keindahan yang mulanya kubayangkan setinggi langit nyatanya tak pernah kutemukan di sudut-sudut tempat ini, aku tidak pulang dengan tangan hampa. Setidaknya, aku pulang dengan satu pemahaman baru dan seikat catatan darimu—bekal berharga untukku menyelami lebih dalam rimba seni rupa kiwari itu. Namun, di antara semua hikmah yang kubawa, ada satu kebenaran yang tak kuasa kupungkiri: aku melangkah pergi dalam balutan rasa nelangsa.

Related posts

Nama Gorontalo dan Pengaruh Lidah Orang Belanda

Redaksi

Persipura, Senjata Bangsa Tanpa Negara

Defri

Memaklumi Hanung di Bumi Manusia

Defri

Leave a Comment