lipunaratif.com
Image default
Mantra

Adonan Genetik dalam Ungkapan Pribumi

Oleh: Eko Rusdianto

Jurnalis, tinggal Sulawesi Selatan

Siapa leluhur masyarakat Sulawesi? Jika kau bertanya seperti itu, maka beberapa orang akan menepuk dada sambil mengatakan sebagai seorang berdarah murni lokal: orang Gowa, orang Bugis, orang Luwu, atau orang Toraja. Intinya mereka pemilik darah murni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Benarkah demikian?

Mari membacanya dengan hati-hati. Dengan kepala yang dingin. Ada kalimat tentang kearifan lokal dan masyarakat adat, serta tradisi dan adat istiadat. Jadi saya ingin mengenalkanmu seperti ini, jika kakek dan nenekmu lahir, lalu besar dan tua, kemudian meninggal di satu tempat, dan dahulu kala telah menempati lahan dan mengolahnya dengan sistem bergotong royong (komunal) maka disebutlah mereka penduduk asli. Sesederhana itu.

Tapi itu penjelasan yang rumit. Meski kemudian hari, kalimat ini menjadi sangat penting dalam gerakan perlawanan untuk mendapatkan keadilan sosial di negara NKRI. Tapi saya tak ingin mengenalkanmu kisah masa sekarang. Sebab saya tetap berpegang teguh bahwa bumi, tanah dan sumber daya yang tergantung di dalamnya adalah milik bersama. Milik segala umat manusia. Yang catatan pentingnya,  adalah dikelola dengan sebaik-baiknya.

Lalu, siapa orang Indonesia itu. Apakah kamu meyakini dirimu berdarah murni Indonesia? Coba buatlah garis silsilahmu, tuliskan di kertas,  nama bapak dan mamakmu, kakek dan nenekmu, hingga buyutmu. Masih ingat? Lalu tulis lagi siapa bapak dan mamak buyutmu, lalu kakek dan nenek buyutmu, lalu buyutnya buyutmu. Mulai ribet bukan.

Oke, itu sebabnya dari sini cerita bermula. Beruntung, leluhur kita pernah membuat benda dan lukisan kebudayaan. Iya tertanam di bawah tanah dan di dinding-dinding gua. Hingga ribuan tahun, pengetahuan itu berdiam diri, lalu beberapa orang menemukannya.

Ada sampah dapur dari sisa kerang laut yang mengendap di dinding gua. Ada tanah bekas pembakaran. Ada tulang hewan yang telah dibakar. Ada alat tulang. Ada batu kecil yang dijadikan pisau dan penyerut. Ada gambar cap tangan di dinding dan langit-langit gua. Mereka menggambar hewan. Mereka juga menggambar sosok manusia. Jika kau melihatnya itu seperti hal yang tak masuk akal. Tapi itulah petunjuknya.

Ya, mereka yang dalam buku pelajaran sekolahmu dinamakan manusia purba. Manusia yang kadang-kadang dikenalkan sebagai seorang yang tak beradab. Manusia yang tingginya mencapai 2 meter lebih. Mereka seperti raksasa. Mereka juga memakan daging hewan mentah. Tidak pake baju dan sangat primitif. Tidak berbudaya. Tampangnya seperti monyet.

Kamu pasti percaya itu. Tenang, kamu tidak sendirian. Dulu saya juga percaya itu, waktu masih di sekolah. Tapi sekarang tidak lagi. Sebab, rupanya itu sesuatu yang tidak berdasar. Di Maros Sulawesi Selatan, kamu sebaiknya datang berkunjung di Taman Purbakala Leang-leang. Ajaklah gurumu dan mintalah petugas taman itu menjelaskannya.

Cap tangan itu, seukuran tangan kita sekarang. Para arkeolog memperkirakan tingginya hanya sekitar 165 sentimeter. Orang-orang ini tinggal dalam gua yang dipilih dengan pertimbangan yang matang. Keadaan cahaya, sirkulasi udara, hingga perlindungan dari hujan atau juga dari binatang buas. Gua itu adalah rumah mereka.

Dan untuk membuatnya sederhana, maka penamaan orang-orang yang tinggal di gua disebut sebagai Toala. Ciri khas kebudayaan mereka adalah mata panah yang disebut sebagai Maros Point. Ini mata panah yang indah, dengan gerigi di setiap sisinya. Runcing dan sangat menawan. Saya berkali-kali memegangnya dan tak henti mengagumi.

Mata panah batu ini, dibuat dengan menggunakan batu juga. Ujungnya sangat runcing. Mata panah ini digunakan untuk berburu hewan, seperti babi dan anoa.  Selain itu, ciri lainnya masyarakat Toala adalah alat batu yang belum halus.

Mata panah tertua yang ditemukan dan telah dilakukan penanggalan usianya mencapai 7000 tahun yang lalu. Artinya ada sekitar 4000 tahun sebelum Masehi. Kamu tahu kan tahun satu masehi itu dimulai dengan kelahiran Jesus.

Lalu apakah Toala ini adalah masyarakat lokal Sulawesi? Jangan terburu-buru, orang-orang ini juga masih diperkirakan sebagai pendatang. Penelitian arkeologi di Maros dan Pangkep, belum pernah menemukan kerangka utuh manusianya. Belum ada penelitian DNA.

Jadi mereka punah? Oh itu pertanyaan yang mencengangkan. Tapi mari melihat gelombang migrasi manusia lainnya. Belakangan pada sekitar 4000 tahun lalu, ada bangsa penutur Austronesia dari ras Mongolid yang mendatangi Sulawesi.

Orang-orang ini, datang mengarungi lautan. Menggunakan perahu bercadik sederhana. Mereka inilah gelombang manusia dari dataran Cina. Austronesia dikenal juga sebagai pembawa zaman neolitik – zaman batu baru. Masyarakat ini sudah tidak hidup berpindah. Mereka sudah menetap dan membangun rumah pondok sederhana.

Para penutur Austronesia ini, juga mulai menanam umbi-umbian. Mulai mendomestikasi binatang – seperti memelihara babi dan ayam. Ini lah zaman yang dikenal sebagai surplus pangan. Orang-orang ini sudah tidak begitu massif berburu.

Pada Juli 2019, ketika saya bersama tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Makassar mengunjungi Mallawa di Maros, melihat mereka bekerja menggali dua kotak penelitian di lantai Gua Sibokereng. Tim itu, melihat setiap temuan dengan saksama dan penuh ketelitian.

Di Mallawa ada 10 situs yang menjadi titik penelitian sepanjang 2015 hingga sekarang. Asosiasi temuan Toala dan Austronesia acapkali dijumpai. Jadi mungkin mereka pernah hidup bersama. Atau pula mereka saling mengadaptasi tekonologi.

Bangsa Austronesia adalah pendatang baru yang membawa teknologi seperti gerabah slip merah. Gerabah yang berwarna agak kemerahan yang sangat kuat. Gerabah itu atau dikenal pula sebagai tempayan, juga digunakan untuk menjadi bekal kubur. Ciri lain, masyarakat ini menguburkan jenasah dengan menekuk lutut.

Lalu apakah orang Toala dan Austronesia pernah hidup berdampingan? Hasanuddin, arkeolog dari Balar Makassar bilang, kalau itu belum ada bukti. Tapi bahwa ada persentuhan kebudayaan antara orang Toala dan Autronesia pernah terjadi, itu jelas.

“Kita menemukan di beberapa situs yang memberikan asosiasi pertemuan itu,” katanya.

Maka bisa saja terjadi, ketika Orang Austronesia datang dengan membawa teknologi baru, maka orang Toala tersingkir karena kalah dalam bersaing. Tapi kemungkinan lainnya adalah mereka membangun hubungan dan bermukim bersama.

Jadi kita keturunan orang Toala atau Austronesia? Benar sekali ini pertanyaan pentingnya. Beberapa penelitian menggambarkan secara genetik saya dan kamu adalah keturunan orang Austronesia dari Ras Mongoloid. Gelombang pendatang dari dataran Cina. Tapi tidak menutup kemungkinan genetika kita juga masih menyimpan garis Toala.

Arkeolog cum Antropolog, Iwan Sumantri bilang, jika tidak ada satu orang pun di negara yang berhak mendapuk dirinya sebagai seorang yang berdarah murni Indonesia. Sulawesi atau Indonesia secara umum seperti adonan kue. Diramu dengan beragam bahan genetika dan beberapa ras manusia.

“Itu saya kira adalah analoginya. Ada orang-orang yang datang migrasi. Ada yang bertahan, dan ada yang pergi. Mereka inilah yang kemudian membentuk masyarakat awal,” katanya.

Jadi apakah kamu mulai memahaminya. Saya kira catatan ini, untuk mengingatkanmu agar berlaku adil dalam melihat ragam umat manusia. Ragam pembentuk dirimu sendiri. sebab saya dan kamu tidak lahir dari proses penciptaan spiritual yang langsung dari tangan tuhan. Tapi darah kita adalah adonan yang kemudian kita sebut Indonesia.

Kamu tak perlu interupsi begitu keras, jika mitologi kita di Sulawesi Selatan mengenai To Manurung, orang pertama yang hadir dari langit itu adalah darah murni. Maka kemungkinan mereka adalah orang-orang Austronesia. Meski kemudian, “darah” silsilah itu acap kali di reproduksi untuk mengakses politik dan ekonomi dalam masyarakat. Kamu harus hati-hati bahwa sebenarnya itu tentang relasi kuasa dan penguasaan properti. Kamu coba lihatlah istana-istana kerajaan di Sulawesi Selatan.

Maka hari ini saya ingin mengucapkan selamat merayakan ke-Indonesiaan kita ini sebagai catatan adminstrasi negara dalam usia 74 tahun. Siapa pun, yang menjadi penduduk tanah ini, mereka adalah orang Indonesia. Berhenti lah mengumbar rasisme sebab itu akan membuatmu melihat hidup hidup dengan keras. Kamu Austronesia, atau kamu Toala, atau kamu keturunan Sawrigading dari kerajaan tua Luwu di Sulawesi Selatan, susunan genetika kita tetap sama. Adonan yang bhinneka.***

Related posts

Tentang (Melampaui) Primitivisme: Tanggapan untuk Tarmizi “Arief” Abbas

Admin

Maa Ledungga #3: Dari Kolektivisme, Adiksi, hingga Nasib Kaum Tani

Defri

Melampaui Primitivisme: Narasi Entitas Masyarakat Pribumi

Admin

Leave a Comment