Gorontalo, Lipunaratif — Hartdisk Studio dan Omar Niode Foundation menggagas Liteartsy yang akan berlangsung di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Sejumlah agenda seperti Bincang Literasi Gorontalo, Bazar Buku, Pameran Seni, Musikalisasi Puisi, Pentas Musik, Bioskop Warga, dan Rilis Penerbitan Buku akan dilaksanakan selama dua pekan pada 7—21 November 2026.
“Dengan harapan Liteartsy bisa mempertemukan jejak sebelumnya dengan hal yang mulai dilupakan, serta apa yang sedang dikerjakan hari-hari ini melalui pendekatan seni dan lintas bidang lainnya,” kata Zahra Khan, salah satu pegiat budaya Hartdisk, Huntu Selatan, Minggu (1/11/2026).
Menurut Zahra, agenda utama yang akan dihelat yakni Bincang Literasi Gorontalo pada Minggu, 8 November 2026, di Studio Hartdisk, Desa Huntu Selatan. Penyair dan Direktur Makassar International Writers Festival, Aan Mansyur, akan hadir sebagai pembicara.
Bincang literasi akan dihadiri pula oleh penulis Ifah Magfirah dan Salman Alade. Peserta terbatas untuk 50 orang yang diharapkan meliputi penulis, akademisi, mahasiswa, pelajar, komunitas literasi, pegiat budaya, perpustakaan, media, dan masyarakat umum.
“Selain Hartdisk Studio dan Omar Niode Foundation, Liteartsy juga berkolaborasi dengan mitra yang memiliki perhatian terhadap literasi, budaya, pendidikan, dan pengembangan generasi muda,” ujarnya.
Hartdisk adalah komunitas lintas disiplin sekaligus studio bersama di Desa Huntu Selatan, Provinsi Gorontalo. Sejak 2012, Hartdisk mempertemukan seniman dan pegiat seni rupa, pertunjukan, sastra, budaya, lingkungan, serta pangan lokal. Hartdisk menghadirkan praktik seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat, lingkungan, dan identitas lokal Gorontalo.
Sedangkan Omar Niode Foundation (ONF) adalah organisasi nirlaba kecil yang bergerak dalam pelestarian budaya, literasi, pangan, kuliner, dan pengetahuan lokal, khususnya yang berkaitan dengan Gorontalo dan Indonesia. ONF menyelenggarakan acara-acara publik dan menerbitkan buku-buku kuliner yang kerap memperoleh penghargaan internasional, Gourmand World Cookbook Award.
Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan
Gorontalo memiliki banyak cerita yang sudah ditulis, tetapi juga banyak yang belum sempat dicatat. Sebagian hidup dalam sastra lisan, sejarah keluarga, arsip, buku, penelitian, dan ingatan orang-orang yang pernah mengalami suatu masa.
“Sebagian lain muncul dalam karya yang lebih baru: puisi, cerita, foto, film, musik, ilustrasi, media digital, dan dokumentasi budaya,” kata Direktur Omar Niode Foundation, Amanda Katili, di Jakarta.
Provinsi ini juga melahirkan nama-nama penting dalam sejarah bahasa dan sastra Indonesia, antara lain H.B. Jassin, J. A. Dungga, dan J.S. Badudu. Di luar nama-nama besar itu, masih ada penulis, peneliti, komunitas, seniman, dan anak muda yang terus merekam Gorontalo dari sudut yang berbeda-beda.
“Banyak bahan penting justru tersimpan di tempat-tempat yang tidak selalu dianggap sebagai bagian dari literasi: album keluarga, surat, catatan pribadi, cerita tentang kampung, resep, nama tempat, percakapan dengan orang tua, dokumentasi komunitas, hingga ingatan tentang tokoh-tokoh yang pernah berperan,” ujarnya.
Bahan-bahan semacam ini sering baru terasa nilainya ketika mulai sulit ditemukan kembali. Pada saat yang sama, generasi muda mengenal Gorontalo dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka membaca, merekam, dan membagikan cerita melalui medium yang lebih beragam.
“Perubahan ini bukan alasan untuk meninggalkan bentuk lama, tetapi kesempatan untuk melihat bagaimana keduanya dapat saling melengkapi. Bincang Literasi Gorontalo ingin mempertemukan jejak yang lama dengan apa yang sedang dikerjakan hari ini.”
Percakapannya tidak hanya tentang buku atau siapa yang pernah menulis, tetapi juga tentang apa yang belum tercatat, cerita apa yang mulai terlupakan, dan bagaimana Gorontalo ingin diceritakan oleh generasi berikutnya.
Tujuan Bincang Literasi Gorontalo untuk melihat kembali jejak literasi Gorontalo dan mereka yang membentuknya; mempertemukan penulis, peneliti, komunitas, dan generasi muda yang bekerja dengan cerita, sejarah, budaya, dan pengetahuan lokal; menemukan hal-hal tentang Gorontalo yang masih perlu ditulis atau didokumentasikan; serta menghimpun bahan untuk Peta Literasi Gorontalo yang dapat terus dilengkapi setelah acara.
“Kegiatan ini tidak dimaksudkan berhenti sebagai sebuah acara. Salah satu hasil awal yang dapat dikembangkan adalah Peta Literasi Gorontalo, berupa dokumentasi sederhana mengenai tokoh dan penulis, karya penting, komunitas literasi, tradisi lisan, perpustakaan dan ruang baca, serta berbagai inisiatif kreatif yang ikut merekam Gorontalo. Peta ini dapat dikembangkan secara bertahap sesuai minat dan kapasitas para pihak,” ujarnya.
Bincang Literasi Gorontalo diharapkan menjadi ruang sederhana untuk melihat kembali apa yang telah dimiliki Gorontalo sekaligus membuka percakapan tentang apa yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Bincang Literasi Gorontalo juga direncanakan sebagai acara tahunan untuk mengenang Rahimahullah Mochtar Niode, putra Gorontalo yang memiliki perhatian pada pelestarian memori dan sejarah Gorontalo, antara lain dengan mendorong penulisan dan penerbitan biografi tokoh-tokoh Gorontalo yang berperan di tingkat nasional dan internasional.
“Gorontalo telah lama memiliki cerita. Tantangannya sekarang adalah memastikan cerita, pengetahuan, dan ingatan itu terus
dituturkan, ditulis, didokumentasikan, dan dibaca,” katanya. (*)
Reporter: Kristianto Galuwo

